
Sebelumnya saya mau ngasih informasi dulu ya! Saya punya novel baru loh yang nggak kalah menarik dengan cerita KALUN & ALUNA. Sudah pada tahu belum? Caranya gampang kok silakan cari di daftar pencarian KU DAPAT JANDANYA! OK terima kasih yang sudah berkenan mampir🙏
Kalau belum ketemu bisa klik profil saya.
Pilih deh!
LANJUT KE CERITA KALUN & ALUNA.
Malam harinya Kalun yang sudah selesai berpamitan dengan seluruh anggota keluarga, segera memasuki mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Terlihat Doni sudah siap di balik kursi kemudi. Kalun melambaikan tangannya ke arah Erik dan Ella yang tengah tersenyum penuh arti ke arahnya.
Mobil meninggalkan rumah Erik. Kalun mengeluarkan nafas lega setelah terbebas dari jeratan mamanya, matanya menatap ke arah Doni. Doni yang ditatap tidak menyadari akan tatapan Kalun yang mengintimidasi ke arahnya. Cukup lama suasana mobil mewah itu hening. Kedua orang itu terhanyut dalam pemikirannya masing-masing.
Hingga lampu merah menghentikan mobilnya, Kalun memulai pembicaraan ringan untuk memulai percakapan dengan Doni.
“Bagaimana kabarmu? Kenapa tidak pernah mengunjungiku?” tanya Kalun sambil mengalihkan matanya dari Doni.
“Maaf Pak, saya sibuk mengurusi tugas Bapak.” Singkat Doni yang tidak ingin membuat Kalun curiga kenapa dia tidak pernah mengunjunginya.
“Heh. Alasan macam apa itu? kamu juga pasti bisa menyerahkannya pada bawahanmu!” cibir Kalun, membuat Doni terdiam sambil mengulum senyumnya.
Suasana kembali hening. Mobil mulai melaju ke arah bandara Soekarno Hatta, “Apa akta cerai sudah dia kirimkan padamu?” Kalun mulai memasang wajah serius menanyakan hal itu pada Doni. Tapi Doni hanya tersenyum sambil fokus ke arah jalanan.
__ADS_1
“Hey!” bentak Kalun setelah melihat wajah menyebalkan Doni.
“Aku tanya padamu!” lanjutnya yang semakin kesal.
“Belum, saya belum menerimanya. Sepertinya Nona Luna belum menyerahkannya ke Departemen Agama.” Doni tersenyum tipis setelah mengucapkan hal itu, karena tipisnya Kalun tidak bisa melihatnya yang terlihat bahagia.
“Kenapa seperti itu?” tanya Kalun penasaran.
Doni belum mengangkat suaranya, dia membuka jendela mobilnya lalu mengambil kertas kecil untuk memasuki area bandara.
“Sepertinya terjadi sesuatu dengan Nona Luna, hingga membuatnya menunda niatnya untuk menyerahkan surat tersebut!” jelas Doni sambil keluar dari mobil karena mobil itu sudah tiba di depan pintu masuk bandara.
“Apa Anda tidak ingin saya temani ke Solo?” tawar Doni sambil membukakan pintu untuk Kalun.
“Nggak perlu!”
“Apa perlu kamu mengatakannya padaku! bahkan jika tidak ada yang menjemput pun aku bisa datang sendiri ke café itu,” ucap Kalun sambil berjalan pelan meninggalkan mobil.
“Apa Anda tidak ingin mecukur rambut Anda terlebih dahulu?”
“Apa urusanmu memerintahku? Lagian aku hanya akan melihat Luna dari kejauhan, aku tidak ingin bertemu dengannya lebih dulu,” kata Kalun sambil membalikkan tubuhnya menghadap Doni, “Jangan buntuti aku lagi, aku sudah besar, pulang sana urus pekerjaanmu!” peringat Kalun sambil mengacungkan kacamatanya ke arah Doni.
Doni mengangguk menyetujui permintaan Kalun, sambil tetap menampilkan wajah ramahnya mengeringi kepergian Kalun, “Akan ada kejutan besar untuk Bapak!” teriak Doni yang membuat kaki Kalun terhenti. Dia lalu kembali menghadap Doni, “Apa maksudmu?” tanya Kalun yang kembali menghadap ke arah Doni.
Doni tidak menjawab, dia justru berbalik meninggalkan Kalun yang menatapnya penuh tanda tanya.
“Hei!”
__ADS_1
“Paman Erik memintaku untuk menutup mulut, silahkan Anda melihatnya sendiri!” kata Doni yang berjalan mundur meninggalkan Kalun.
“Siapa bosmu yang sebenarnya, dasar tak berguna!” maki Kalun ketika melihat Doni semakin jauh meninggalkannya.
Doni pun hanya tersenyum dalam hati. Tugasnya selama kurang lebih 4 bulan akhirnya berakhir. Dia bisa kembali menjalani rutinitasnya di Jakarta. Melepaskan kerinduannya pada keluarga dan kekasihnya. Serta menjalankan rencana hidupnya sendiri setelah ini.
Flashback
Malam itu. Doni terlihat tidak tenang setelah meninggalkan rumah Aluna. Dia pergi dari rumah Budi dengan perasaan bersalah, karena tidak bisa menyampaikan apa yang diinginkan pamannya.
Tiba di hotel tempatnya menginap, Doni melaporkan semua kejadian yang dia alami ketika berada di rumah Budi. Tangannya langsung mengambil ponsel yang ada di kantung celananya.
Terdengar suara tegas dari lelaki tua di seberang telepon.
“Iya, Paman. Nona Luna tidak menginginkan harta goni-gininya, dia menolaknya mentah-mentah.” Doni menceritakan semuanya pada Erik melalui sambungan telepon. Dia mendengarkan apa yang diucapkan Erik diseberang telepon.
“Alasan? Ya, alasannya tadi ....” terdengar Doni kebingungan, dia mulai berpikir keras mengingat alasan Aluna tidak menginginkan harta itu.
“Nona Luna sudah mengambil harta yang palinh berharga dari Pak Kalun,” jelasnya setelah teringat ucapan Aluna. Orang di seberang telepon menasehatinya panjang lebar, meminta Doni untuk tinggal di Solo untuk sementara waktu.
“Memastikan kondisi Nona Luna baik-baik saja, melindunginya dari kakak tirinya, mencarikan dokter kandungan terbaik di sini! Rahasiakan ini dari Pak Kalun,” ucapnya sambil menulis di buku note kecil yang selalu ia bawa, dia mengulangi pesan dari pamannya setelah panggilan ponsel itu tertutup. Hembusan nafasnya terlihat berat, dia lalu meraih kembali ponselnya, menekan nama yang selalu menjadi tempatnya mengadu tentang beratnya kehidupannya.
“Kita LDR lagi, bertahanlah! Setelah urusan ini selesai aku akan datang melamarmu,” janji Doni pada wanita di ujung telepon, dia pun mendengarkan ceramah panjang lebar dari bibir Khanza, sambil mencoba merayu apa yang wanita itu inginkan.
“Aku punya pengalihan untukmu supaya tidak terlalu merindukanku! Kamu urus kasus Ferdi, kita akan membuatnya jera karena berurusan dengan keluarga Ramones!” perintah Doni sambil merayu pacarnya. Wanita di ujung telepon pun menyetujui jika mereka akan menjerat Ferdi dengan kasus pembunuhan yang dilakukan pada pacarnya beberapa tahun yang lalu. Yang ia curigai jika pacarnya itu diperkosa dan di lenyapkan oleh Ferdi ketika wanita itu tengah meminta pertanggungjawaban kehamilannya.
Sejak saat itu, tanpa Aluna sadari Doni selalu menjaganya, dia selalu melaporkan apa yang terjadi dengan Aluna pada pamannya. Dan Erik selalu menyembunyikan kabar itu dari semua anggota keluarganya, karena dia tahu jika perpisahan itu tidak benar-benar terjadi, dalam hatinya bahagia karena tidak lama lagi akan menimang cucu, berbeda dengan Ella yang terus memikirkan nasib Kalun yang tengah patah hati karena bercerai dengan Aluna.
__ADS_1
Flashback Off