Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Apa Yang Terjadi?


__ADS_3

Aluna yang sudah siap segera memulai presentasinya, dia menjelaskan detail desain yang dia buat di depan semua orang yang hadir, tidak beda dengan Kalun, dengan jeli dia memperhatikan penjelasan dari Aluna, sesekali memperhatikan penampilan Aluna yang sedikit berbeda, terlihat modis dan lebih cantik dari biasanya.


Bibir Kalun menahan senyumnya ketika mengingat kejadian semalam, tapi kini dia terlihat khawatir saat mendapati darah yang mengalir dari kaki istrinya, matanya memperhatikan dari mana darah itu. Darah yang keluar dari lutut Aluna kini sudah membasahi pensil skirt yang dia kenakan membuat Kalun ingin segera menyelesaikan rapat itu karena merasa kasihan dengan Aluna.


Kalun merasa bahwa sesuatu buruk telah menimpa Aluna hingga membuatnya datang terlambat. Bahkan dia bisa merasakan kejanggalan dari tangan kiri Aluna yang selalu dia tahan dengan tangan kanannya. Dia paham jika Aluna sedang menahan rasa sakit itu, karena terlihat bulir keringat keluar dari pelipisnya.


Presentasi selesai, Aluna mendapatkan ucapan selamat dan tepukkan meriah dari beberapa bagian kepala devisi atas presentasi yang sempurna. Aluna langsung menjatuhkan tubuhnya di samping kursi David, setelah dia menyelesaikan presentasinya. David tersenyum ke arah Aluna, sambil menepuk bahunya.


“Good job,” ucapnya sambil mengacungkan jempol kanan ke arah Aluna. Semua tindakan yang David lakukan, tidak luput dari penglihatan Kalun, dia sedikit menampilkan wajah kecut saat melihat tangan kiri David berada di pundak Aluna.


Rapat sudah selesai, kini Aluna bisa membuang nafas lega. Semua orang meninggalkan ruangan, termasuk Kalun dan Doni. Namun, Aluna masih di sana dengan David yang berada di sampingnya.


“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa kamu bisa terlambat?” tanya David yang berada di samping Aluna.


“Semua sudah selesai, tugasku sudah selesai kan, Pak?” ucap Aluna sambil menatap sayu ke arah David, suaranya kini sudah lemah tidak sekuat ketika melakukan presentasi tadi.


“Ya.” David mengangguk sambil tersenyum ke arah Aluna.


“Ada mobil yang akan menabrakku, beruntungnya aku bisa menghindar, tapi sepertinya tanganku ...” jelas Aluna yang tidak bisa dia lanjutkan, karena kini dia sudah pingsan di lengan kiri David.


“Lun ...” panggil David yang panik sambil menepuk pipi Aluna.


“Luna, Lun. Luna sadar Lun.” David semakin panik saat Aluna tidak meresponnya.


David yang sudah tidak melihat siapa pun di sana, segera membawa Aluna keluar dari ruang rapat, dia menggendong tubuh Aluna dan berlari menuju klinik yang ada di gedung perusahaan itu. Membuat semua yang berada di sana menatap ke arah David, karena melihat David berlari dan terlihat panik.


Kalun yang sebenarnya masih berada di sana menunggu Aluna, ikut khawatir. Tapi dia tidak bisa langsung mengejar David, karena takut jika semua karyawan akan mencurigainya, mengingat statusnya kini adalah tunangan dari Kayra.


“Hubungi orang klinik sekarang, untuk membawanya ke rumah sakit!” perintah Kalun pada Doni yang berdiri di belakangnya.


Doni langsung menghubungi petugas klinik yang berada di lantai 7, dia meminta untuk segera membawa Aluna ke rumah sakit Erik.


“Bapak mau ke sana sekarang?” tanya Doni saat melihat ekspresi cemas Kalun.


“Nggak, tunggu jam pulang kerja saja,” jawab Kalun dengan hati yang tidak tenang. “Atau kamu saja yang pergi ke sana, jaga dia, beri perawatan terbaik untuknya!” perintah Kalun yang langsung diikuti Doni.

__ADS_1


“Don! Jangan lupa selalu beri kabar padaku,” peringat Kalun sebelum Doni masuk ke dalam lift. Doni mengangguk sambil tersenyum tipis, demi meredakan kekhawatiran Kalun.


Doni turun ke lobby, untuk mengikuti mobil ambulans yang membawa Aluna ke rumah sakit.


“Apa yang terjadi dengan dua orang ini, mungkin perlahan Pak Kalun bisa melupakan Kayra dengan kehadiran Aluna,” lirih Doni yang fokus menatap jalan.


Sesampai di rumah sakit Doni bertemu dengan Riella, yang juga tengah berada di ruang UGD.


“Ada apa dengan Kakak Ipar?” tanya Riella menatap ke arah Doni yang baru saja masuk.


“Kurang paham juga, sepertinya dia habis kecelakaan,” jelas Doni sambil melirik di mana Aluna berada. Aluna tengah menjalani perawatan oleh dokter yang menanganinya.


“Di mana Kakak?”


“Dia di kantor, dia masih banyak pekerjaan,” jelas Doni yang berbohong pada Riella.


“Bisanya dia seperti itu,” gerutu Aluna, saat mendengar jawaban Doni, dia lalu kembali ke ruang UGD untuk melihat kondisi Aluna.


“Sepertinya tangan kirinya patah Dok,” jelas perawat yang menangani Aluna.


“Tapi kita belum meminta izin keluarganya.” Perawat itu menatap ke arah Riella, karena merasa ada yang tidak beres dengan jawaban Riella.


“Aku mengenal keluarganya, cepat siapkan dokter ortopedi untuknya, aku akan menghubungi keluarganya dulu,” jelas Riella sambil berjalan keluar meninggalkan ruang UGD.


Riella kembali ke ruang pratiknya, untuk menghubungi Kalun yang bodoh itu. Dia segera menekan nomor ponsel yang ada di phonebook yang diberi nama pecundang oleh Riella.


“Aku butuh persetujuanmu,” ucap Riella saat panggilannya tersambung.


“Kenapa?”


“Kakak Ipar harus melakukan operasi, tangan kirinya patah, aku bingung mau minta persetujuan siapa?” jelas Riella yang membuat Kalun terdiam. Namun, bisa didengar Riella jika kakaknya itu merasa khawatir dengan Aluna.


“Lakukan yang terbaik untuknya, nanti aku akan segera menemuimu,” ucap Kalun di ujung telepon.


Riella segera mematikan panggilannya, dia hendak menghubungi papanya, mengabarkan jika menantunya akan menjalani operasi di rumah sakit.

__ADS_1


Riella memang belum mengenal Aluna dengan baik, setelah menikah dia baru bertemu dengan Aluna beberapa kali saja, berbeda dengan si kembar yang lebih dekat dengan Aluna.


Erik dan Ella yang mendengar kabar Aluna akan melakukan operasi, langsung bertolak ke rumah sakit, karena khawatir dengan kondisi Aluna, mengingat tidak ada keluarga dekatnya di sini. Mereka menunggu Aluna yang tengah menjalani operasi. Dalam hati Erik terus memaki kelakuan anak lelakinya. Karena tidak berada di samping Aluna, ketika Aluna tengah melakukan operasi.


Operasi dilakukan jam 5 sore. Kalun yang sebenarnya ingin ke rumah sakit, terpaksa harus dia cancel, karena harus menyambut tamu yang datang dari Vietnam.


Dia terus memikirkan kondisi Aluna, pikirannya sudah melayang ke rumah sakit saat meeting berlangsung, dia tidak begitu paham dengan apa yang dibicarakan manusia di depannya itu, beruntung dia mengajak Siska, jadi besok akan meminta Siska untuk mengulanginya,


Kalun keluar kantor tepat pukul 8 malam, dia langsung bertolak menuju rumah sakit, untuk menemani Aluna. Saat tiba di ruang perawatan terlihat Aluna sedang tidur di bed kamar rawatnya. Kalun mendekat ke bed Aluna, tanpa memperhatikan kedua orang tuanya yang tengah duduk di sofa.


“Maafkan aku,” ucap Kalun sambil meraih tangan Aluna, “Harusnya aku tidak membiarkanmu terluka,” lanjutnya berucap lirih sambil mengusap punggung tangan Aluna.


“Apa yang terjadi?” tanya Erik yang sudah berada di belakang Kalun.


“Aku nggak tahu, kita bisa tanyakan saat dia bangun,” jelas Kalun yang tidak menoleh ke arah Erik.


Kalun terus menatap wajah Aluna yang terlihat pucat, dia tidak kunjung sadarkan diri, karena pengaruh obat bius yang diberikan saat operasi tadi.


“Papa dan Mama pulang saja, biar aku yang menjaga Aluna!” perintah Kalun pada orang tuanya. Karena merasa kasihan juga jika mereka ikut menjaga Aluna.


“Oke, jaga dia baik-baik. Aluna masih butuh istirahat,” ucap Erik lalu menghampiri Ella yang terlihat mengantuk di kursi sofa.


Malam semakin larut, Kalun tidak bisa memejamkan matanya, dia hanya terus menatap wajah Aluna yang tertidur nyenyak di bed ruangannya.


“Hey! Bukalah matamu jangan membuatku begadang semalaman.”


Hingga pukul 1 dini hari Aluna menggerakkan tangan kanannya, dia perlahan membuka matanya yang terasa lengket itu, pandangannya kabur ketika menatap ornamen putih diatasnya, aroma obat yang menyeruak di hidungnya membuat dia sadar jika dia tengah berada di rumah sakit. Dia meraba tangannya yang terasa berat, ada perban di tangan kirinya sedangkan tangan kananya ada selang infus yang menyatu dengan tubuhnya. Aluna kembali memejamkan matanya lalu membuang nafas pelan-pelan.


“Aku pikir, aku sudah menyusulmu,” lirih Aluna yang tidak menyadari jika Kalun tengah memperhatikan tindakkannya.


Kalun menatap Aluna dengan tatapan tajam, bibirnya kini mengerucut khas anak kecil yang tengah ngambek, keningnya sudah berkerut ketika mendengar ucapan pertama kali yang keluar dari bibir Aluna, hatinya seperti tergores saat Aluna berkata seperti itu, dari tadi Kalun menunggunya bahkan dilirik oleh Aluna pun tidak. Dia yang kesal mulai mengeluarkan suaranya.


“Kalau kamu pergi bagaimana denganku? Kamu harus bertanggung jawab karena sudah mengambil ciuman pertamaku!” ucapnya sambil memainkan telunjuk kanannya di pipi Aluna.


👣

__ADS_1


Jangan lupa like dan vote.🙏


__ADS_2