
Matahari terlihat menyinari kamar Kalun, masuk melalai celah horden yang belum terbuka. Kalun yang terlelap, dia tidak sadar jika kini sudah memeluk tubuh kecil Aluna. Hingga membuat Aluna merasa sesak karena pelukkan Kalun yang begitu erat.
Aluna menggeliat, tangan kanannya yang
bebas kini terulur ke arah tengkuk leher Kalun. Matanya yang belum terbuka sempurna menatap Kalun yang tengah terlelap, dengan posisi meringkuk Kalun memeluk dirinya sebagai guling.
Bibir merah yang dirindukan itu, seperti memanggilnya untuk dikecup, matanya kini menatap dengan dekat ke arah bibir kering Kalun. Dia segera mendaratkan kecupan di bibir merah Kalun sebelum suaminya itu terbangun. Membuat si pemilik bibir merasa terganggu, tapi dia belum ingin membuka matanya, dia justru semakin mengeratkan tangannya yang ada di perut Aluna.
“Minggir A’ aku harus bangun, sudah
jam 7. Aku sudah terlambat.” Aluna melepaskan tangan Kalun yang melingkar di
perutnya. Dia beranjak dari kasur menuju kamar mandi, untuk mempersiapkan dirinya pergi ke kantor. Kalun yang menyadari itu hanya menatap punggung Aluna yang menghilang di balik pintu kamar mandi.
Aluna yang sudah menyelesaikan mandinya, kini menatap heran ke arah Kalun yang terlihat santai di bawah selimutnya. Dia mendekat ke arah Kalun yang masih enggan membuka matanya.
“Bangun A’! Sudah siang, buruan
bangun! Nanti aku bisa terlambat, aku belum membawa baju, jadi kita harus mampir
dulu ke apartemen,” kata Aluna sambil mendekat ke arah Kalun, dia menggoyangkan
tubuh suaminya, agar segera membuka matanya.
Kalun yang merasa tidak enak badan, enggan
untuk membuka matanya. Dia hanya mendengarkan suara merdu itu, sebagai
penghantar tidurnya pagi ini, dia baru memejamkan mata pukul 4 pagi tadi, karena dia terus memikirkan Aluna dan terus menatap wajah cantik istrinya yang sangat dirindukan itu.
“Aku libur hari ini, aku kurang istirahat semalam, jadi sedikit pusing,” jelas Kalun yang masih memejamkan matanya. Dia kembali memeluk gulingnya sebagai pengganti Aluna.
“Aa’ sakit? Kenapa suaranya begitu?” tanya Aluna yang sudah menempelkan punggung tangannya ke dahi Kalun. Dia hanya mengerutkan dahinya sambil menatap lekat wajah Kalun.
“Aku nggak sakit, aku hanya merasa letih saja,” jelas Kalun sambil mencoba untuk duduk. Dia membuka matanya, menatap Aluna yang kembali mengenakan baju yang dia pakai semalam.
Aluna yang mendengar jawaban Kalun, mengecup singkat pipi Kalun. Tindakan Aluna itu membuat Kalun tersenyum manis
ke arahnya. Aluna yang merasa malu hanya bisa menyembunyikan wajahnya dari
tatapan Kalun.
__ADS_1
“Ya, sudah Aa’ istirahat saja! Aku harus ke kantor, karena banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ucapnya sambil melangkahkan kakinya meninggalkan kamar Kalun.
Kalun meraih telepon yang ada di mejanya, meminta sopir yang ada di rumah papanya untuk mengantarkan Aluna ke kantor.
Aluna berlari kecil, saat menuruni anak tangga yang ada di rumah mertuanya, membuat orang yang berada di meja makan,
langsung menoleh ke arahnya. Saat Aluna sampai di meja makan, semua yang ada di
sana memperhatikan tingkahnya, membuat Aluna merasa kikuk untuk menggerakkan
anggota tubuhnya. Dia lalu duduk di meja makan bergabung dengan mertua dan adik iparnya.
“Minumlah!” perintah Ella sambil menyodorkan susu coklat ke tangan Aluna. Aluna menerima susu yang Ella berikan, lalu mencium aroma susu yang tidak biasa dia minum, sedikit demi sedikit Aluna meminum susu coklat hangat yang ada di tangannya. Hingga susu itu habis membuat Ella tersenyum ke arahnya.
Aluna menatap ke arah papa mertuanya,
yang tengah menatapnya lekat.
“Kenapa Pa?”
“Emmm nggak papa kok. Kalun mana?”
tanya Erik yang tidak segera melihat anak lelakinya itu turun ke bawah.
yang dibuatkan Ella.
“Makanlah yang banyak, selagi kamu bisa makan,” ucap Ella yang duduk di samping Aluna. Aluna hanya tersenyum manis ke arah Ella.
“Aku bukan pemilih makanan Ma, jadi
apa saja akan aku makan asalkan jelas asal-usulnya,” balas Aluna yang membuat Erik
dan Ella melemparkan pandangannya. Erik menggelengkan kepalanya ke arah Ella
meminta Ella untuk tidak menganggu anak menantunya yang tengah sarapan.
“Kalian kenapa bengong, cepat makan,
keburu telat nanti!” perintah Erik pada anak kembarnya, saat mereka terus menatap Aluna.
“O ya Lun, hari minggu kamu datang ke
__ADS_1
rumah ya, sepertinya kedua orang tua Emil akan datang kesini!” pesan Ella yang
dijawab anggukan oleh Aluna. Aluna yang sudah menyelesaikan sarapannya, segera berpamitan dengan kedua mertuanya, dia ditahan oleh Erik, supaya tidak berangkat bekerja hari ini, karena takut terjadi apa-apa dengannya mengingat kejadian semalam saat Aluna pingsan.
“Pa, Luna sudah baik-baik saja, kemarin hanya mabok karena Aa’ membawa mobil terlalu kencang,” jelas Aluna sambil tersenyum senang ke arah Erik, karena mertuanya memberikan perhatian lebih padanya.
“Hati-hati di jalan, kalau lelah segera istirahat, jangan terlalu diforsir kerjanya, kamu tidak bekerja pun, harta kami tidak akan habis jika dimakan 7 turunanmu,” ucap Erik sambil meletakkan tangannya di saku celananya. Dia lalu mengantar Aluna menuju mobil yang akan mengantarnya bekerja.
“Hati-hati kamu Ron!” pesan Erik sebelum mobil itu meninggalkan rumahnya. Erik menatap mobil putih yang menghilang di balik pintu gerbang, dia lalu menatap ke arah Ella yang berdiri di depan pintu, sambil menggedikkan bahunya.
“Masuklah!” perintah Erik pada istrinya, dia lalu berjalan menjauh dari Ella, untuk memutari taman depan rumahnya. Setelah tidak melihat Ella di depan pintu, Erik lalu meraih ponsel yang ada di saku celananya, menghubungi orang yang diam-diam diminta untuk menjaga Kalun.
Erik memejamkan matanya erat ketika mendengar laporan dari lelaki di seberang telepon, ingin rasanya dia membanting ponsel itu setelah menutup panggilannya, tapi wallpaper foto pernikahannya dengan Ella mengurungkan niatnya, saat melihat senyum bahagia Ella. Dia lalu melanjutkan jalannya
memutari taman, sambil menatap jendela kamar Kalun yang belum terbuka hordennya.
“BODOH!” ucapnya sambil menatap kesal ke arah jendela kamar Kalun.
“Kamu mengatai aku bodoh?” tanya Ella
yang tengah berada di teras samping rumah, Erik tidak menyadari jika Ella tengah berada di sana, dia tengah membaca buku favoritnya.
“Iya, dulu. Sekarang kamu nggak bodoh
lagi,” jelas Erik sambil mendekat di mana Ella berada. Erik duduk di samping Ella, menanyakan keberadaan anak lelakinya.
“Dia masih tidur di kamar, sepertinya
dia kelelahan karena tuntuan kita,” ucap Ella diakhiri suara kekehannya. Erik hanya menampilkan senyum smirknya ke arah Ella. Lalu membawa Ella dalam pelukkannya.
“Kita pasti bisa melewatinya,” lirih Erik
sambil mengeratkan pelukkannya.
“Kenapa memangnya?”
“Nggak papa, percaya padaku aku akan
menyelesaikannya, tanpa harus kamu tahu apa masalahnya.”
Ella langsung melepaskan pelukkan tangan Erik, dia menatap ke arah Erik penuh curiga, meminta Erik untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Tapi yang ada Erik terus mengalihkan pembicaraannya agar Ella tidak mengetahui perbuatan anak lelaki kesayangannya tersebut.
__ADS_1
👣
Jangan lupa like dan vote ya🤓