
Mobil Kalun sudah tiba di rumah sakit, dia segera membawa tubuh Aluna yang terpejam itu ke ruang IGD. Dia tidak peduli lagi dengan bajunya yang berlumuran darah, dia juga tidak memperhatikan semua orang yang memperhatikannya saat ini.
Kalun meletakkan tubuh Aluna di brankar, lalu ikut membantu perawat yang mendorongnya menuju ruang IGD. Riella yang melihat dari kejauhan kondisi Aluna segera berlari mendekat ke arah Kalun, menanyakan apa yang terjadi dengan kakak iparnya. Langkah Kalun dihentikan petugas ketika brankar Aluna sudah tiba di ruang IGD.
“Aku ingin menemaninya!” bentak Kalun sambil berusaha menerobos lelaki di depannya.
“Pak Kalun, biar dokter yang menanganinya! Kita pasti akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan wanita itu!” ucap dokter lelaki yang tadi ikut membantu mendorong brankar Aluna.
“Dia istriku! Aku berhak menemaninya!” bentak Kalun yang tidak ingin meninggalkan Aluna sendirian di dalam sana.
“Kak, sudah, sudah. Biar ditangani dokter ahli, biar Aluna segera mendapat pertolongan!” bujuk Riella sambil meraih lengan Kalun supaya tidak bertekad untuk ikut masuk ke dalam. Tubuh Kalun tiba-tiba lemah, tidak lagi bertenaga. Dia lalu menyandarkan keningnya di pundak Riella.
“Aluna hamil La, aku nggak bisa bayangin jika kami harus kehilangan calon anak kami!” jelas Kalun yang terisak di pundak Riella.
“Husttt, Kakak jangan bicara yang buruk dulu, kita doain, semoga semuanya akan baik-baik saja!” ucap Riella sambil mengusap punggung Kalun.
“Apa yang terjadi Kak?” pertanyaan Riella menyadarkan Kalun tentang kejadian yang baru saja terjadi.
“Ponselmu mana! Hubungi Doni!” perintah Kalun sambil membuka tangannya meminta ponsel genggam milik Riella. Riella segera menyerahkan ponsel yang dia letakkan di saku jas putihnya.
Kalun segera menghubungi Doni, meminta Doni supaya menyelediki kasus tabrak lari yang mengorbankan istrinya.
Perasaan Kalun mulai tidak tenang, dia terus berjalan ke sana- kemari, berharap pintu ruang IGD segera terbuka, dan salah satu dokter akan memberitahunya tentang kondisi Aluna. Tapi yang ada sudah 1 jam lebih tidak ada dokter yang keluar dari ruang IGD. Membuat Kalun merasa panik dan berpikiran jika kondisi Aluna yang terluka cukup parah.
Riella dari tadi menatap ke arah pintu masuk, menunggu keluarganya tiba, karena dia tadi sudah mengabari papanya jika Aluna mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakitnya.
“Duduklah Kak! Aku sampai mual melihatmu terus seperti itu!” perintah Riella yang merasa kesal dengan Kalun. Kalun tidak mempedulikan lagi ucapan Riella. Dia terus berjalan ke sana ke mari seperti pedagang asongan yang memawarkan dagangannya.
Erik dan Ella terlihat panik, saat tiba di rumah sakit, dia berjalan cepat mendekat ke ruang IGD di mana Aluna tengah di tangani oleh dokter.
__ADS_1
Ella menghampiri dan duduk di samping Riella, meminta penjelasan tentang kejadian yang sebenarnya terjadi pada Aluna, karena suaminya tadi tidak memberitahunya kenapa Aluna sampai dibawa ke ruang IGD.
Sedangkan Erik berjalan menghampiri Kalun yang belum menyadari kedatangannya. Tangannya melayang menampar pipi anak lelakinya dengan keras, hingga menimbulkan garis merah tercetak jelas, di pipi Kalun yang terlihat putih. Kalun hanya bisa diam, dia tidak berani menatap ke arah lelaki tua di depannya ini.
“Itulah sebabnya aku membawa Aluna pulang ke rumah! Karena di luar sana banyak orang yang ingin mencelakainya! Tapi kamu yang bodoh tidak pernah mengerti maksudku! Kau membawa kabur putriku! Dan sekarang kamu masih punya wajah untuk berdiri di sini!” Erik memaki Kalun dengan suara keras, hingga membuat sebagian orang melihat ke arahnya.
“Pa! Sudah. Jangan menganggu ketenangan orang!” peringat Ella yang tidak ingin Erik semakin memarahi Kalun. Ella tidak tega melihat kondisi Kalun saat ini, baju warna putihnya kini sudah tercetak jelas bekas darah Aluna. Dia ingin memeluk anak lelakinya itu dan menenangkan Kalun, berkata jika semua akan baik-baik saja.
Pintu ruang IGD terbuka, Lusi dan seorang dokter lelaki keluar untuk menjelaskan kondisi Aluna saat ini.
“Siapa keluarga pasiennya?” tanya Lusi menatap bingung ke arah keluarga Kalun yang berdiri di sana.
“Jelaskan! Aku suaminya!”
Lusi sedikit kaget, saat mendengar ucapan Kalun. Dia menggelengkan kepalanya, turut merasakan kesedihan yang akan di alami rekannya itu.
“Yang kanan masih bagus kan?” tanya Erik yang ingin tahu kabar menantunya.
Lusi menajawab singkat sambil menganggukan kepalanya.
“Dan satu lagi yang harus kami sampaikan, sepertinya nona yang berada di dalam mengalami trauma di kepalanya akibat benturan, itulah sebabnya banyak darah keluar dari telinganya,” jelas dokter lelaki di samping Lusi.
“Periksa keseluruhan, lakukan yang terbaik, secepatnya!” perintah Erik yang tidak lagi mempedulikan tangisan Kalun yang semakin keras di pelukan Ella.
“Tenanglah, semua pasti akan berlalu, Aluna akan baik-baik saja setelah ini! Kamu hanya perlu mendoakannya, supaya dia bisa tetap berada di sampingmu, sampai kalian tua nanti,” ucap Ella menenangkan Kalun, dia terus mengusap punggung Kalun, menenangkan anak lelakinya yang telihat lemah.
“Bagaimana aku bisa menjelaskan padanya nanti Ma, ini salahku Ma, aku yang sudah membuatnya seperti ini, aku belum bisa membuatnya bahagia. Aku tidak bisa memenuhi keinginannya,” keluh Kalun pada Ella.
Ella yang mendengar keluhan Kalun hanya bisa ikut menitikan air matanya. Hatinya ikut merasakan kesedihan anaknya, tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan tangisnya, dia terus mengusap air matanya yang turut mengalir deras.
__ADS_1
“Sudah, sudah! Kamu harus kuat, demi Aluna demi wanita yang kamu cintai. Kamu mencintainya, kan?” ucap Ella sambil menangkup wajah Kalun dengan kedua tangannya. Kalun mengangguk keras menjawab pertanyaan Ella.
“Dokter akan melakukan operasi sekarang, persiapkan dirimu untuk menerima semuanya!” ucap Erik yang mendekat ke arah Kalun.
“Coba kamu mau mengikuti Papa, pasti tidak akan seperti ini jadinya!” jelas Erik yang memaki Kalun, membuat Kalun merasa semakin bersalah atas kejadian yang menimpa Aluna saat ini.
Ponsel Erik berdering. Telepon dari anak buahnya yang diminta untuk selalu menjaga Aluna. Dia menerima laporan setelah Riella tadi mengabarinya, dan meminta anak buahnya untuk mengatasinya.
“Serahkan buktinya pada polisi, aku tidak ingin orang yang membuat keluarga menderita bisa bernafas bebas di luaran sana,” perintah Erik sambil mencekram erat ponselnya, setelah sambungannya diakhiri. Dia marah setelah mendengar kabar jika Aluna dengan sengaja dicelakai oleh seseorang.
“Aku nggak tahu jalan pikiranmu itu!” maki Erik lagi setelah selesai menjawab teleponnya. Dia terus memaki Kalun membuat Kalun semakin merasa bersalah pada Aluna. Dia berpikir lagi mulai awal pertemuannya dengan Aluna, dia tidak pernah membuat Aluna tersenyum bahagia, saat bersamanya.
“Aku akan pergi dari kehidupannya Ma, aku merasa hidupnya akan selalu sial jika berdekatan denganku!” ucap Kalun yang langsung mendapatkan tamparan ulang dari Erik.
“Jadi begini! Setelah kamu membuat indung telurnya hilang satu kamu akan pergi! Bagaimana jika dia tidak akan bisa hamil! Apa akan ada lelaki yang mau menerimanya!” maki Erik, yang kesal dengan sikap Kalun.
“Jalankan pikiranmu Kal! Ini ujian untukmu! Terima dia apa adanya nanti!” ucap Erik yang sudah sedikit menurunkan nada bicaranya.
Pintu ruang IGD kembali terbuka, Lusi mengabarkan jika operasi akan segera dilakukan sekarang juga. Dan meminta tanda tangan untuk penanggungjawab jika terjadi sesuatu dengan Aluna.
“Sebelum pengangkatan pastikan dulu kondisinya, jika masih bagus, jangan melakukan pengangkatan itu!” pesan Erik pada Lusi.
“Baik Pak! Kami akan berusaha yang terbaik untuk menantu Bapak!” jawab Lusi sambil berjalan mengiringi brankar Aluna yang di dorong menuju ruang IGD. Kalun terus mengenggam tangan Aluna yang terasa dingin, dia tidak berani menatap wajah Aluna yang terlihat pucat pasi itu. Kalun pun melepaskan tangan Aluna, saat tiba di pintu ruang operasi.
“Berjuanglah! Aku akan berdiri di sini, menunggumu sampai kamu menyerah untuk berjalan bersamaku!” lirih Kalun yang mengiringi petugas menutup pintu ruang operasi.
👣
Jangan lupa like dan komentar positif ya.👍
__ADS_1