Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Tatapan Mata


__ADS_3

Pesawat pribadi milik Kalun mulai mendarat di bandara Adi Soemarmo Surakarta, Kalun segera keluar dari kabin pesawat setelah pesawat tersebut berhenti sempurna. Hingga dia tiba di luar bandara ia sudah dijemput secara khusus oleh lelaki yang diperintahkan Doni. Kalun menurut ketika tubuhnya digiring masuk ke dalam mobil.


“Ke hotel dulu Pak?” tawar sopir mobil yang berada di balik kemudi, dia mulai melajukan mobilnya pelan meninggalkan bandara.


“Langsung ke café!” perintah Kalun singkat sambil menatap kosong ke arah jendela.


Mobilnya terus melaju ke arah cafe, tidak ada percakapan di sana. Pikiran Kalun justru semakin kacau karena merasa nerveos ketika hendak bertemu Aluna.


Seperti apa kamu sekarang? Aku sangat merindukanmu, semoga kamu dalam keadaan baik-baik saja. Ucap Kalun dalam hati sambil menatap patung Soekarno ketika melewati stadium Manahan. Matanya tertuju pada lampu yang berubah-ubah warna. Heran juga kenapa lokasi itu terlihat ramai saat malam hari.


Lima belas menit kemudian, mobil berhenti di salah satu café yang terlihat sangat ramai dari luar. Bukan hanya mobil, motor mewah hingga vespa pun terlihat memenuhi area parkir cafe tersebut. Lampu bewarna kuning yang terlihat redup menyambutnya saat dia berjalan menunu café. Jantungnya berdebar semakin cepat, ketika kakinya semakin dekat dengan pintu masuk.


Pintu terbuka otomatis, dia masuk dan langsung mengedarkan pandangannya ke arah penjuru ruangan. Dia melangkah pelan mencari kursi kosong yang hendak ia pakai. Semua pengunjung memperhatikannya, heran dengan penampilan Kalun, karena memakai topi dan kaca mata hitam di malam hari. Apalagi ketika melihat ke arah bawah, sepatu kantor dan celana jeansnya sangat tidak modis sekali dengan style jaman sekarang.


Kalun duduk menyendiri, di dekat jendela. Sesekali melirik ke arah panggung live musik, tapi nihil, dia tidak melihat Aluna di sana.


Apa dia sedang ke toilet? Kenapa tidak ada? Batinnya terus bertanya ketika tidak segeta melihat Aluna di sana. Ia lalu mulai memesan makanan ketika melihat tatapan semua orang yang mengarah ke atas mejanya. Menjaga harga dirinya, takut dikira numpang duduk.


Beberapa menit kemudian makanan sudah datang, tidak butuh waktu lama lagi dia segera menyantap makanan di depannya. Enam bulan berada di balik jeruji besi, mengubah kebiasaan hidupnya yang jarang memasuki restoran umum, kini mulai mau memasukinya. Dia menyantap rice box di depannya dengan lahap, melupakan lagi image-nya sebagai pemimpin EL Group.


“Lumayan juga,” lirihnya memuji rasa makanan di depannya.


Setelah selesai makan, dia masih betah duduk di sana, demi melihat Aluna yang sekarang, melihat bagaimana kondisinya. Kalun penasaran akan seperti apa mantan istrinya itu. Hingga pengunjung pulang satu persatu dia tidak melihat sosok Aluna di sana. Orang yang ia rindukan tidak juga memperlihatkan batang hidungnya. Dia lalu menatap pergelangan tangannya sudah hampir pukul 9 malam.


“Apa Doni menipuku! Awas saja jika dia berani melakukan itu!” gumamnya yang merasa kesal. Dia terus menatap ke arah depan, mencari lagi Aluna di sana.


Beberapa orang sudah membereskan barangnya untuk pulang ke rumah, hanya ada Kalun sendiri yang masih duduk manis di kursinya.


Hingga suara dari belakang tubuhnya membuyarkan pandangannya.


“Selamat malam Pak. Maaf café nya akan segera tutup,” ucap wanita cantik yang berdiri di belakang Kalun. Kalun sejenak terdiam, belum berani menolehkan kepalanya ke arah belakang tubuhnya.


“Ya, aku akan segera pulang,” jawabnya yang tidak ingin mengalihkan tatapannya.


“Apa Bapak menunggu seseorang, jika benar silahkan saja, saya akan menunggu hingga orang itu datang.” Jelas wanita di balik tubuh Kalun.

__ADS_1


“Nggak, aku akan segera pulang setelah ini!” wanita cantik itu hanya tersenyum, tidak lama kemudian terdengar panggilan suaminya.


“Vivian menangis Sayang! Cepatlah naik ke atas!” teriak lelaki yang berdiri di tengah anak tangga.


“Iya Sayang, tunggu, aku akan segera datang!”


Kalun langsung menoleh ke arah wanita yang tadi berdiri di belakangnya, telihat rambutnya yang diikat bergoyang kekanan dan ke kiri, mengikuti gerakan langkah kakinya. Dia menghembuskan nafasnya yang sejak tadi tahan.


“Syukurlah, aku pikir dia kamu?” gumamnya sambil meraih ponsel di sakunya.


Panggilannya tersambung.


“Kamu mau mengerjaiku! Kirimkan alamatnya, aku sudah di café tapi dia tidak ada di sini!” maki Kalun yang terdengar kesal.


“Ini jam 9. Nona Aluna sudah pulang Pak! Kenapa Anda tidak istirahat dulu di hotel!”


“Jangan mengaturku! Cepat kirimkan alamatnya!” ulang Kalun lalu mematikan ponselnya, tidak ingin mendengar alasan lagi dari lelaki di ujung panggilan.


Kalun segera meninggalkan café milik Lita, dia berjalan kembali ke arah mobil Rush putih yang tadi menjemputnya, dia lalu mengambil dan menyerahkan 10 lembar uang bewarna merah untuk sopir yang tadi mengantarnya.


“Pulanglah! Aku akan membawa mobilnya malam ini!” perintah Kalun yang langsung diangguki sopir hotel tersebut. Dia lalu masuk ke dalam mobil, mengemudikan mobilnya menuju alamat yang tadi dikirimkan oleh Doni.


Saat ini Kalun sudah berada di dekat rumah Aluna, dia tidak berani mendekatkan lagi mobilnya ke rumah bercat tosca tersebut, karena rumahnya sudah terlihat sepi, lampu rumah sudah terlihat gelap, hanya lampu teras saja yang masih terlihat menyala.


Seperti orang bodoh Kalun menunggu di sana, sambil menatap layar ponsel yang tertera nomor Aluna di sana, dia ragu ketika hendak menelepon Aluna. Tapi saat dia kembali fokus ke arah pintu rumah Budi, dia segera menyimpan kembali ponsel tersebut, dia melihat pintu rumah Budi terbuka, berharap yang keluar adalah orang yang dia rindukan.


Mata Kalun berbinar ketika melihat pucuk kepala Aluna yang terlihat berjalan keluar rumah. Kalun menatap ke arah jam di tangannya yang sudah menunjukkan hampir pukul 10 malam.


"Mau ke mana malam-malam begini?" gumamnya yang sedikit cemas.


Dia kembali menatap ke arah Aluna yang tengah membawa mangkok ke depan pintu gerbang rumahnya. Tidak lama kemudian datang pemuda menaiki motor yang datang menghampiri posisi Aluna berdiri. Obrolan terjadi di sana, Kalun tidak bisa mendengar apapun, hanya melihat apa yang terjadi di sana. Dia hanya bisa menatap Aluna yang terlihat sedikit berisi, atau mungkin karena efek daster besar yang ia kenakan.


Hingga Aluna kembali berjalan masuk ke dalam rumahnya, dan pemuda itu hendak meninggalkan rumah Aluna. Kalun segera turun dari mobil. Dia menghentikan niat pemuda tersebut agar berhenti sejenak di samping mobilnya.


“Abang jualan apa?” tanya Kalun basa-basi.

__ADS_1


Pemuda itu mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan Kalun. Heran juga karena di sana terlihat jelas tulisannya.


“Wedang Ronde! Arep tuku ora? Yen ora tak tinggal.”


(Wedang Ronde! Mau beli nggak? Kalau tidak aku pergi.)


Kalun hanya diam, dia tidak paham ucapan pemuda di depannya, tapi karena dia mencium aroma jahe yang semerbak, perutnya pun menginginkannya, dia memesan 1 porsi untuknya dan membawa minuman itu ke mobil. Serta mengajak pemuda itu untuk mengobrol sebentar dengannya.


“Mas kenal dengan Mbak nya tadi?” tanya Kalun yang membuat pemuda itu menatapnya lekat.


“Mbak Luna ya?”


Kalun mengangguk dengan senyuman, mengiyakan ucapan pemuda tersebut.


“Kenal, kasihan dia Mas. Sudah hamil, tapi suaminya nggak pulang-pulang, lelakinya nggak punya hati, apa coba kurangnya ….”


“Hamil?” potong Kalun sambil melotot ke arah pemuda tersebut, ketika mendengar kata hamil, dia sedikit terkejut mendengar jika Aluna tengah hamil.


“Maksudnya hamil tanpa suami?”


“Piye toh Mas, yo nggenah ono to yo! Tapi mbuh bojone ngilang ngendi? Tahu-tahu pulang dari Jakarta, tiba-tiba perutnya mblendus kok!” jelas lagi lelaki di depan Kalun. Kalun semakin berusaha keras memikirkan ucapan lelaki di depannya, dia lalu meraih dompetnya mengambil 5 lembar uang bewarna biru.


“Bicara dengan bahasa kita!” ujar Kalun seraya meletakkan uang tersebut di telapak tangan pemuda tersebut.


Pemuda itu berbinar saat melihat 5 lembar uang di depannya. “Mas kie! Iki yo bahasane awake dewe loh! Emange njenengan seko planet ngendi to?” tanya heran pemuda di depan Kalun.


“Bahasa Indonesia maksud saya!”


“Owalah.” Setelah paham lelaki itu mulai menceritakan apa yang ada di pikirannya. Kalun mendengarkan sambil menyuapkan ke dalam mulut wedang ronde yang ada di tangannya. Setelah habis dia segera meminta pemuda itu untuk segera pergi. Sedangkan dia masih berada di dalam mobil memikirkan apa yang akan dia lakukan setelah ini. Meraba lagi kebersamaan terakhir dengan Aluna, kekehan kecil terdengar di sana setelah membayangkan hal yang membuatnya melayang.


Kalun dengan semangat keluar dari mobilnya yang berjarak 8 meter dari rumah Aluna. Ketika tiba di depan pintu, dia masih mematung, tangannya yang sejak tadi menggantung di udara terasa berat untuk sampai di daun pintu di depannya.


Hingga suara pintu terbuka dari dalam rumah mengejutkannya, dia membeku melihat Aluna yang berdiri dengan bungkusan plastik hitam di tangannya, dia menatap mata wanita yang ia rindukan itu, sekejap Aluna bisa membalas tatapan Kalun. Tapi tidak sampai sepuluh detik kemudian dia langsung menutup pintu rumah itu dengan kasar. Kalun yang tersadar jika Aluna sudah menutupnya hanya bisa terdiam, tidak ingin mencoba mengetuk dan membujuk Aluna untuk membuka lagi pintu itu.


“Aku akan berdiri di sini hingga kamu mau menemuiku,” teriak Kalun dengan suara keras. Tidak mempedulikan lagi jika ini sudah melebihi jam bertamu, yang bisa saja dimaki oleh warga sekitar jika mendengar keributannya.

__ADS_1


💞


Jangan lupa like dan Vote ya 🙏


__ADS_2