
Malam semakin larut, para lelaki
dewasa itu tengah berkumpul di area balapan, doni yang tadinya ingin menyelesaikan pekerjaanya akhirnya hanya mampu menemani bosnya untuk bertanding dengan temannya.
Kalun terlihat tengah duduk di cap
mobil sambil menatap terus jam yang dia kenakan, sudah pukul 7 malam, biasanya dia baru pulang kerja dan masuk ke dalam apartemen, setelah itu mandi lalu bercengkrama dengan Aluna, tapi sekarang dia hanya mampu menghindari Aluna.
Kedatangan Samuel mengagetkannya, dia
langsung memukul keras lengan sahabatnya itu, yang baru saja tiba.
“Perasaan dari dulu aku lihat kamu melamun saja, ada apa dengan hidupmu?” tanya Samuel sambil menyandarkan pantatnya di cap mobi Kalun.
“Hidupku sulit Sam, nggak semulus kehidupan loe,” jawab Kalun sambil menepuk pundak Samuel.
“Heh, itu kan menurutmu! kamu nggak tahu kan, kalau aku ditolak sama cewek yang aku cintai? Loe sih dulu keburu menghilang,” terang Samuel menampilkan senyuman smirknya ke arah Kalun. Kalun hanya tersenyum mengejek ke arah Samuel sambil menggelengkan kepalanya.
“Tuh! Calon adik iparmu!” tunjuk Samuel dengan dagunya. Mata Kalun sudah memancarkan emosinya ketika melihat Emil
datang bersama dengan Nathan, dia jadi teringat ucapan adiknya tadi pagi.
“Hai Kakak Ipar?” sapa Emil yang
tidak melihat raut wajah Kalun yang sudah ingin memakannya.
Kalun menatap Emil tajam, tak lama
kemudian, dia meraih kerah kemeja Emil dan membawanya menjauh dari kerumunan.
“Santai Kal, slow aja bray,” ucap Emil
menahan pukulan Kalun yang hendak melayang ke wajahnya. Kalun sudah menggertakkan giginya, saat mendengar ucapan Emil.
“Awas kamu ya, kalau kamu kabur, aku
nggak akan membiarkanmu hidup!” ancam Kalun yang masih dirundung emosi. Dia melepaskan cengkraman yang ada di baju Emil.
Emil terlihat bahagia ketika Kalun mengucapkan itu. Itu artinya sebentar lagi dia akan menikahi Riella. Dia bergantian menepuk pundak Kalun, membuat lelaki di depannya itu semakin tajam menatap ke arahnya.
“Besok aku akan datang melamar adikmu, aku hanya butuh restumu, Riella tidak hamil, kami sengaja berbohong untuk meminta restu darimu, dia hanya berpura-pura hamil, supaya kamu merestui hubungan kami, bahkan papa dan mamamu tahu tentang ini,” jelas Emil dengan begitu bahagia, tatapannya kini sudah menatap hamparan rumput alang-alang di depannya. Namun, kali ini pukulan Kalun tidak akan meleset lagi, Kalun menlayangkan pukulannya tepat mengenai pipi kanan Emil.
“Tapi dia mual-mual dan kamu masih bisa bilang itu hanya pura-pura, hah?” tanya Kalun dengan Emosi.
“Kamu sendiri kan, dulu sekolah dokter, memangnya nggak ada obat untuk menyebabkan mual? Itulah sebabnya dia tidak mau dibawa ke dokter, karena takut ketahuan,” terang Emil sambil mengusap sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah. Andai Kalun bukan calon kaka iparnya, pasti dia akan membalasnya lebih parah lagi.
“Kalau seperti itu, aku nggak akan mengizinkanmu menikahinya, karena kamu sudah membohongiku, kamu tahu aku jauh-jauh dari London meninggalkan Kayra hanya demi lelucon kalian ini,” maki Kalun yang sudah emosi, dia menyalahkan drama yang adiknya buat. Tapi dalam hatinya bersyukur karena Riella tidak benar -benar hamil.
“Benarkah kamu menyesal meninggalkan
Kayra? Apa kamu tidak kasihan dengannya?” tanya Emil sambil menunjuk Aluna yang baru saja datang dengan Riella. “Aku akan membantumu, asal kamu merestui kami, Riella
nggak akan menikah tanpa restu darimu,” lanjut Emil sambil berjalan meninggalkan Kalun
yang tengah menatap Aluna.
__ADS_1
Dia memijat kepalanya, yang terasa
pusing, dia menatap lekat Aluna dari kejauhan, istrinya terlihat cantik, tubuh
kecilnya, membuatnya gemas ingin segera menggendongnya, dia bisa melihat senyuman Aluna dari kejauhan, dia tengah tertawa bahagia dengan Samuel.
Aluna yang melihat Kalun tengah
berdiri sendiri hanya tersenyum dari arah kejauhan, dia lalu berjalan menghampiri Kalun yang masih menatapnya, dia terus tersenyum membelah gelapnya malam, mendekat ke arah di mana Kalun berdiri menatapnya. Senyumnya mengiringi langkahnya, berbeda dengan Kalun yang menampilkan wajah bersalahnya.
“Kenapa nggak balas pesanku?” tanya Aluna
saat sampai di depan Kalun. Kalunmengalihkan pandangannya ke arah rumput didepannya, dia ingin mencari jawaban yang tepat untuk istrinya.
“Aku tadi tertidur seharian, kenapa kamu di sini?” tanya Kalun menoleh sebentar ke arah Aluna, lalu mengalihkan pandangannya lagi ke arah temannya.
Aluna tersenyum tipis, tidak berani lagi
menatap Kalun, dia malu ketika menyadari pertanyaanya.
“A-apa kamu tidak merindukan aku?”
ucap Aluna lirih dengan perasaan malu-malu.
Kalun menatap wajah Aluna, mengusap
sebentar pipi Aluna, menampilkan senyum khasnya ke arah Aluna.
“Pulanglah! Tunggu aku di rumah!” perintah Kalun sambil melangkahkan kakinya meninggalkan Aluna. Namun, baru
“Mau pulang jam berapa A’?”
Kalun memejamkan matanya, menunduk
memikirkan waktu yang tepat untuk menemui Aluna.
“Tunggu saja! Aku akan segera
pulang!” teriak Kalun yang sudah melanjutkan jalannya meninggalkan Aluna.
Aluna hanya diam, dia tidak berani menolak permintaan suaminya, dia lalu meraih ponselnya untuk memesan taksi online,
karena dia tidak ingin menganggu Riella yang tengah asyik berbicara dengan Emil.
Aluna berjalan meninggalkan area balapan yang tidak begitu jauh dari dirinya menunggu taksi, dia terus menunggu di sana. Dia merutuki kebodohannya karena tidak membawa jaket, dia merasa tubuhnya mulai kedinginan karena dia hanya mengenakan kaos kasual serta celana jeans panjangnya.
“Kamu mau kemana Lun?” tanya Samuel
yang tiba-tiba berdiri di belakangnya. Aluna sontak menoleh ke arah Samuel, memberikan
senyum ramahnya ke arah lelaki yang peduli dengannya itu.
“Emmm mau pulang, sepertinya Riella
masih asyik dengan pacarnya, jadi aku memutuskan pulang duluan, lagian ini juga
__ADS_1
sudah malam dan aku besok harus bekerja,” jawab Aluna.
“Aku antar ya,” tawar Samuel, sambil
melepaskan jaketnya, lalu dia menyelimutkannya ke lengan Aluna. Aluna yang mendapatkan perlakuan istimewa dari Samuel hanya mengucapkan terima kasih
sambil menoleh ke arah Kalun yang sudah memasang wajah cemburunya.
“Nggak usah Sam, aku sudah memesan
taksi kok, kamu lanjutkan saja acaramu, nggak enak dengan mereka,” tolak Aluna,
dia juga tidak enak hati dengan suaminya jika terlalu lama dengan lelaki, dia harus menjaga perasaan suaminya.
“Tapi ini sudah malam, kamu tunggu disini dulu, aku ambil mobilku dulu ya, jangan ke mana-mana.” Samuel sudah berlari meninggalkan Aluna menuju mobilnya yang masih terpakir rapi di area balapan.
Kalun yang melihat kelakuan Samuel
yang hendak mengambil mobil, berusaha mendahului Samuel, dia langsung masuk
ke dalam mobilnya, dan menutup pintunya dengan kasar. Lalu menghampiri dimana Aluna berada.
“Masuklah!” perintah Kalun saat kaca
mobilnya terbuka. Aluna menatap ke arah kerumunan sebentad, dia lalu segera masuk ke dalam mobil Kalun setelah merasa aman.
“Lepaskan jaket itu!” perintah Kalun,
sambil melajukan mobilnya meninggalkan area track balapan. Aluna justru
menampilkan senyum manisnya ke arah Kalun, dia sangat paham jika suaminya itu
tengah cemburu buta dengan Samuel.
“Nggak usah cemburu gitu juga keles,
aku sudah punya Aa’ Kalun,” goda Aluna yang membuat Kalun melajukan mobilnya
dengan kencang.
Aluna melihat ke arah Kalun dengan
bibir yang sudah mengerucut, tapi lelaki di sampingnya itu terus melajukan mobilnya, dia terus menginjak pedal gas mobil demi membuat Aluna ketakutan. Aluna sudah mencekram tali seatbelt yang ada di depan dadanya.
“A’ stop A’ jangan lagi!” ucap Aluna
sambil menaikkan tangannya meminta Kalun untuk menghentikan mobilnya. Kalun hanya
mengulum senyum liciknya. Namun, tiba-tiba Kalun menginjak rem mobilnya saat melihat tangan Aluna menahan mulutnya yang hendak memuntahkan sesuatu dari
dalam perutnya.
👣
Jangan lupa untuk like dan vote👍😂
__ADS_1