
Aluna kini sudah siap dengan pakaian kerjanya, dia tengah menyisir rambutnya sambil menunggu sopir yang di siapkan Kalun menjemputnya.
Kalun yang baru saja keluar dari kamar mandi, hanya menatap lekat ke arah penampilan Aluna. Dia memicingkan matanya, bibirnya sudah cemberut memaki Aluna dalam hati.
Kalun memakai kemeja yang sudah disiapkan Aluna, lalu meminta bantuan Aluna untuk mengenakan dasinya.
“Perasaan selama hampir 5 bulan aku bersamamu, kamu bisa memakainya sendiri, kenapa jadi manja begini,” cibir Aluna sambil menatap wajah Kalun yang sedikit tertekuk.
“Pengen saja, kalau nggak mau ya sudah.” Kalun meraih kembali dasinya yang ada di tangan Aluna.
“Perasaan aku yang PMS tapi kamu yang meledak-ledak,” gumam Aluna sambil menggelengkan kepalanya. Kalun yang tidak bisa mendengar pun mengalungkan dasinya sendiri ke lehernya.
“Aku duluan ya,” pamit Aluna sambil berjalan keluar kamar.
“Tunggu Sayang! Kita sarapan bersama,” teriak Kalun yang tidak bisa didengar oleh Aluna. Dia pun membuang nafas lelahnya setelah kepergian Aluna.
Dia kesal juga kenapa Aluna harus datang bulan ketika dia baru bisa menikmatinya, dari semalam dia mendiamkan Aluna. Karena merasa dikecewakan oleh istrinya.
Ketika Kalun turun ke bawah, sopir baru untuk Aluna sudah datang untuk menjemputnya. Aluna segera pergi setelah mengecup singkat bibir Kalun.
Seperti kebiasaanya Aluna mampir sebentar ke makam Fandi, untuk menceritakan semuanya di sana, termasuk menceritakan perasaannya terhadap Kalun saat ini.
Saat tiba di gedung kantor dia melihat Kalun yang baru saja memasuki gedung, dari arah belakang Aluna bertindak sopan menyapa atasannya tersebut.
“Selamat pagi Pak Direktur,” sapa Aluna ketika melewati Kalun, dia berlari kecil karena jam kerja sudah hampir terlambat.
Kalun yang mendengar sapaan Aluna, menghentikan langkahnya, dia hanya menoleh sebentar ke arah Aluna, bertanya dalam hati, kenapa istriku baru tiba?
Keduanya sama-sama menunggu pintu lift terbuka, tapi dengan tempat yang berbeda karena Kalun menggunakan pintu lift khusus untuk ke ruangannya.
Aluna melirik sekilas ke arah Kalun yang tengah berbicara dengan Siska, hatinya terasa gerah, saat melihat pantat Siska yang sedikit berisi itu, apalagi belahan dadanya, dibandingakan dengan punya dia kalah telak. Dia hanya bisa melirik tajam ke arah Kalun. dan berusaha menajamkan telinganya supaya mengetahui apa yang mereka bicarakan.
Lelaki mah bebas! Kalau disodorin begitu ya langsung dicolek, apalagi ntar pasti mereka di lift pasti bisa tu, pegang-pegang. Suara jeritan hati Aluna yang cemburu karena hormonnya sedang buruk. Dia lalu masuk ke dalam lift setelah pintu terbuka. Namun, sebelum pintu tertutup teriakkan dari Doni menghentikan pintu lift itu.
“Bu Luna, Bapak Kalun meminta Anda ikut dengan saya, karena ingin membicarakan proyek JK Group,” ucap Doni yang baru saja tiba di lobby, tapi paham dengan ekspresi yang ditampilkan Kalun.
“Kenapa tidak dengan Pak David saja?” tanya Aluna yang tidak paham. David yang kebetulan berada satu lift dengan Aluna segera meminta Aluna untuk segera keluar.
“Dia Direktur kita, jadi jangan menolaknya!” peringat David, ketika melihat Aluna tidak segera keluar.
__ADS_1
Aluna yang baru paham segera keluar lagi dari lift, dia menghampiri Kalun dan Siska yang masih berbincang-bincang.
“Bapak memanggil saya?” tanya Aluna yang membuat Kalun menghentikan ucapannya, dia lalu menoleh ke arah Aluna.
“Don, buat aturan baru di dalam gedung kantor tidak diperbolehkan menggunakan pakaian ketat, dan buat aturan baru wanita harus menggunakan celana panjang!” perintah Kalun tanpa menoleh ke arah Doni.
“Jika ada yang melanggar, kasih langsung SP3!” lanjutnya.
Kalun lalu menampilkan senyuman manisnya ke arah Aluna, bersamaan dengan pintu lift yang sudah terbuka. Keduanya masuk ke dalam ke lift, meninggalkan Siska yang di tahan Doni supaya tidak mengikuti Kalun.
Setelah pintu lift tertutup Kalun langsung memeluk tubuh kecil Aluna.
“Aku tahu kamu cemburu dengan Siska, kan?”
Kok tahu? Batin Aluna, dia lalu mendongakkan wajahnya ke arah Kalun.
“Nggak! Biasa saja,” jawab Aluna berbohong, dia mengalihkan pandangannya ke arah pintu lift.
“Coba lihat hidungmu!” perintah Kalun sambil menghalangi arah pandangan Aluna dengan wajahnya.
“Tuh kan, tambah panjang, bohong kamu!” selidik Kalun sambil menarik hidung Aluna, hingga membuat Aluna kesusahan bernafas.
Setelah tiba di ruangan Kalun, Aluna tidak di biarkan kembali ke ruangannya, karena Kalun memintanya untuk bekerja di
mejanya.
“Kamu tadi kok terlambat?”
Aluna menghentikan aktivitasnya setelah mendengar pertanyaan Kalun. Dia memilih jujur dan menjelaskan pada suaminya.
“Aku ke makam Fandi.”
Kini gantian Kalun yang terdiam, karena merasa sedikit nyeri di dadanya, dia baru mengetahui jika ternyata istrinya itu diam-diam, masih menemui mantan calon suaminya.
“Ngapain ke sana?” tanya Kalun menatap Aluna tajam. Aluna yang berada di sofa mendekat ke arah meja kerja Kalun.
“Nggak papa kok, cuma kangen saja,” jelas Aluna yang tidak melihat mata Kalun yang sudah memerah.
“Kalau ke sana, ajak aku!” pesan Kalun sambil berdiri mengambil jas yang tadi dia letakkan di sandaran kursinya.
__ADS_1
“Kenapa? Harus gitu kamu ikut?”
“Iya, karena aku suamimu, dan dia hanya mantanmu!” ucap Kalun yang sedikit menaikkan nada bicaranya. Membuat Aluna terdiam karena merasa bersalah.
“Iya, maaf. Aa' mau kemana?”
“Aku ada perlu sebentar, jadi aku harus pergi,” jelas Kalun yang sudah mengancingkan jas yang dia pakai.
“Kalau begitu aku akan kembali ke ruanganku,” ucap Aluna yang diangguki kepala oleh Kalun.
“Hati-hati,” pesan Aluna sebelum Kalun membuka pintu ruangannya. Kalun tidak membalas ucapan Aluna, dia langsung pergi keluar kantornya.
Satu keburukkan Kalun yang belum dia hilangkan, dia tidak mau meluapkan isi hatinya ketika dia sedang marah dengan seseorang, dia takut jika dirinya akan meluapkan emosinya, hingga membuat orang itu sakit hati maupun terluka fisik.
Kalun melajukan mobilnya dengan cepat ke arah makam Fandi. Karena sudah lama dia tidak berkunjung ke sana.
“Hai brother,” sapanya setelah tiba di makam. Kalun terdiam cukup lama.
“Pergilah dari hatinya, sepertinya dia sudah mengambil separuh jiwaku, aku cemburu ketika dia menyebut namamu,” lirih Kalun yang berjongkok di samping nisan Fandi.
“Aku mencintainya, aku jatuh cinta dengannya, tapi aku tahu, dia masih mencintaimu, kamu masih di hatinya, jika aku tidak bisa menghapusmu dari dirinya, pergilah dan sekali lagi maafkan atas semua kesalahanku,” ucap Kalun lalu beranjak pergi dari makam Fandi.
Kalun melirik ke arah jam di tangannya. Segera menghubungi Aluna untuk memintanya makan siang bersama di hotel biasa tempatnya makan.
Tiga puluh menit berlalu kini Kalun tengah makan siang dengan Aluna. Mereka berdua hanya diam tenggelam di pikirannya masing-masing.
“Lun, ada hal penting yang ingin aku sampaikan padamu,” ucap Kalun yang membuat Aluna menatap ke arahnya.
“Ada apa?”
“Sebenarnya Fandi meninggal karena ak-”
Kalun menghentikan ucapannya saat Aluna memintanya untuk berhenti berbicara, karena ada panggilan masuk dari Renata.
Hari ini Kalun berniat untuk jujur ke Aluna, jika dia yang membuat Fandi meninggal. Tapi terhalang panggilan telepon. Jadi dia hanya bisa menunggu supaya Aluna menyelesaikan dulu panggilannya.
👣
Jangan lupa untuk like dan vote ya.😁🙏
__ADS_1