
Kalun membuka pintu mobil untuk Aluna. Dia berniat mengantar Aluna supaya mengetahui di mana Aluna tinggal. Saat berada di dalam mobil, Kalun berusaha mengajak bicara Aluna, tapi yang ada wanita itu tidak mau menjawab setiap apa yang dia tanyakan, membuat dia bingung akan bersikap seperti apa pada gadis di sebelahnya itu.
“Tunjukkan di mana rumah orang tuamu tinggal!” perintahnya yang sudah kesal karena sedari tadi mereka hanya memutari sepanjang jalan Diponegoro.
Setelah Aluna mulai sedikit tenang, dia menjawab pertanyaan Kalun yang sejak tadi dia dengar.
“Aku berasal dari Solo, aku tinggal di kos-kosan, dan nanti sore aku harus kembali ke Solo, karena semua keluarga besarku sudah menungguku untuk acara siraman besok,” jelasnya panjang lebar.
“Apa aku nggak salah dengar? Kamu dari Solo?” tanya Kalun memastikan, sambil menatap wajah Aluna.
“Iya, kamu hanya perlu mengantarku sampai kos saja, setelah itu aku akan berangkat dengan kereta,” jelasnya lagi.
Kalun diam sejenak, sambil memikirkan langkah apa yang akan dia ambil selanjutnya.
“Aku sudah bilang, kalau aku akan menikahimu! Kita bertemu dengan orang tuaku sebentar,” ucapnya sambil memutar balik mobilnya ke arah rumah orang tuanya.
Cukup lama mereka berada di dalam mobil mewah itu, Aluna hanya diam sambil menatap ke arah jalan, pikirannya sudah tidak bisa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya, dia merasa masa depannya sudah hancur, karena kepergian orang yang dicintainya.
Tiga puluh menit kemudian mereka tiba di rumah orang tua Kalun yang terlihat luas itu.
“Turunlah!” perintah Kalun saat melihat Aluna hanya melihat rumah tua Erik di balik jendela mobil Kalun.
Aluna mengeluarkan nafasnya pelan-pelan sambil berusaha menenangkan hatinya.
“Maaf aku tidak bisa turun, sepertinya aku tidak layak membawamu ke dalam masalahku, aku bukan wanita yang sempurna untukmu.” Aluna menatap ke arah Kalun yang hendak membuka pintu mobilnya.
“Layak atau tidak layak hanya aku yang bisa menentukan!” sahut Kalun dengan sedikit berteriak. Dia lalu menyadari kesalahannya yang membuat Aluna sedikkt kaget dengan sikapnya.
“Kaluargaku tidak seperti orang di luar sana, pasti mereka akan menerimamu, jangan khawatirkan itu, cepatlah turun!” Kalun meminta ulang Aluna untuk turun dari mobilnya.
Setelah itu Aluna membuka pintu mobilnya, dia menurunkan kakinya membuat Kalun ikut membuka pintu yang ada di sebelah kanan kemudi, dia mengahampiri Aluna. Dan membawa Aluna masuk ke dalam rumah.
“Kalun!” kaget Ella saat melihat anaknya itu membawa gadis masuk ke rumahnya. Ella manatap Aluna dari atas hingga bawah, menatap gadis itu yang tengah menunduk karena takut dengannya.
__ADS_1
“Kenalin Ma, dia Aluna. Gadis yang aku ceritakan semalam,” jelas Kalun sambil menatap perubahan wajah mamanya yang terlihat datar.
Ella lalu tersenyum tipis ke arah Aluna, dia menggandeng tangan Aluna untuk di bawa ke depan ruang keluarga. Tingkah Ella membuat Aluna merasa sedikit lega, karena calon mertua sekarang tidak seperti mamanya Fandi.
“Ayo kenalan dulu sama calon mertua lelakimu, tadi aku sudah cerita ke Papa kalau anak lelakinya ini akan segera menikah,” jelas Ella yang menggandeng tangan Aluna. Dia lalu menghampiri Erik di ruang keluarga, yang tengah bercanda gurau dengan anak kembarnya.
“Pa ...” panggil Ella sambil mendekat ke arah Erik. Erik hanya menoleh ke arah istrinya, lalu menelisik wanita yang berada di samping Ella.
“Di mana anakmu?” tanya Erik setelah melihat mata Aluna yang terlihat merah akibat terlalu lama menangis.
“Itu!” tunjuk Ella dengan ekor matanya, Erik lalu beranjak dari duduknya, dia menarik lengan Kalun, dan membawanya ke ruang kerja. Dia ingin mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan anak lelakinya tersebut.
“Jujur atau Papa akan cari tahu sendiri!” bentak Erik saat mereka sudah duduk di meja kerja miliknya.
Kalun hanya diam sambil menatap ke arah langit-langit ruang kerja papanya sambil mendengarkan omelan Erik yang memintanya untuk bercerita. Tapi yang ada omelan Erik tidak mampu untuk membuatnya mengatakan yang sebenarnya, dia masih berusaha menutupi semuanya dari papanya.
Erik yang melihat Kalun hanya diam, dia lalu meraih telepon yang ada di meja, hendak menghubungi Doni, menanyakan padanya apa yang sebenarnya terjadi dengan anak lelakinya tersebut. Membuat Kalun mencegah tangan Erik yang hendak menelepon orang kepercayaannya.
“Oke Pa, aku akan cerita semuanya ...” cegah Kalun yang paham maksud Erik.
Kalun akhirnya menceritakan kejadian sebenarnya pada Erik, dan menceritakan niatnya untuk menikahi Aluna. Erik terlihat emosi saat mendengarkan pengakuan anaknya, yang telah menyebabkan nyawa orang lain melayang.
“Kamu tahu kan, pernikahan itu bukan untuk main-main, jika kamu mampu lupakanlah Kayra dan jalani pernikahan dengannya!” ucap Erik dengan tegas.
“Ya. Tapi Pa, tolong izinkan Kalun untuk menyembunyikan ini semua dari Kayra, aku akan menjelaskan padanya setelah dia tiba di Jakarta nanti,” pinta Kalun pada Erik.
Lelaki tua itu hanya mengerutkan keningnya setelah mendengar ucapan Kalun. Dia tidak bisa berjanji, jika dia bisa menyembunyikan ini semua dari rekan sekaligus sahabatnya itu.
“Pa ...” panggil Kalun yang melihat Erik hanya terdiam. Erik lalu menatap wajah anaknya, yang menampilkan wajah melasnya.
“Akan Papa usahakan, tapi Papa nggak bisa berjanji, dan ingat pesan Papa, pernikahan bukan untuk permainan.” Kalun mengangguk menyetujui pesan Erik.
“Kita akan ke Solo nanti malam, beritahu Aluna supaya ikut bersama kita, dan satu lagi ....” Erik menghentikan ucapannya membuat Kalun menoleh ke arah Erik.
__ADS_1
“Jangan sampai mamamu tahu, kelakuan buruk, anaknya ini!” peringat Erik sambil memberikan pukulan di perut Kalun. Dia beranjak pergi meninggalkan ruang kerjanya, meninggalkan Kalun yang masih berada di ruang kerja, dia tengah bingung mencari solusi untuk menghadapi Kayra ketika dia pulang ke Jakarta nanti.
Setelah beberapa menit, Kalun berjalan meninggalkan ruang kerja Erik, dia berjalan gontai menuju ruang keluarga, melihat adik kembarnya yang tengah bercanda dengan papanya, beruntung adik paling besarnya tengah berada di rumah sakit, jadi tidak akan bisa protes mengenai keputusan dirinya yang konyol ini. Dan tugasnya sekarang adalah menutup mulut adiknya itu, supaya tidak menceritakan rencana besarnya ini pada Kayra.
“Aku akan mengantarmu untuk bersiap,” ucap Kalun yang sudah berada di belakang Kayra. Ella yang melihat kelakuan anaknya hanya menggelengkan kepalanya. Menyesalkan sikap anaknya yang tidak bisa seromantis papanya saat masih muda.
“Kalun ... dia calon istrimu setidaknya, mesralah sedikit saat memerintahnya!” ucap Ella sambil menatap wajah anak lelakinya.
“Iya ... iya maaf. Ayo, kita harus segera bersiap untuk ke Solo!” Kalun menatap jam di tangannya yang sudah menunjukkan pukul 3 sore. Aluna yang mendengar ajakan Kalun, dia lalu beranjak untuk berpamitan dengan keluarga Kalun, lalu mengikuti Kalun yang sudah berjalan mendahuluinya.
Saat berada di mobil, tidak ada yang ingin membuka percakapan di antara mereka. Aluna juga terlihat lelah, karena semalaman dia hanya bisa menangis di atas ranjang kos-anya, perlahan matanya mulai terpejam. Membuat Kalun bingung akan membawa gadis itu kemana, karena dia belum mengetahui di mana Aluna tinggal. Dia lalu menghentikan mobilnya di taman yang dia lewati, sambil menunggu Aluna untuk bangun dari tidurnya, dia tidak tega jika harus membangunkan Aluna yang terlihat nyenyak itu.
Kalun menoleh ke arah kursi samping kemudi, menatap wajah Aluna yang tertutupi sebagian rambutnya, cahaya matahari yang berada di barat menyinari tepat di pipi Aluna, membuat gadis itu semakin terlihat cantik di mata Kalun.
Tangan kanan Kalun hendak terulur menyibakkan rambut Aluna, tapi bayangan wajah Kayra tiba-tiba menghampirinya. Dia lalu mengurungkan niatnya untuk melakukan hal itu pada Aluna. Dia justru meniup pelan rambut Aluna agar tidak menutupi wajah cantik Aluna.
Aluna yang merasakan embusan nafas Kalun, akhirnya terbangun, dia kaget saat melihat wajah Kalun yang hanya berjarak 10 cm darinya.
“Ka-kamu bangun,” ucap Kalun dengan terbata, karena dia juga kaget saat melihat Aluna yang sudah membuka lebar matanya. Aluna hanya menyipitkan matanya saat mendapati suara Kalun yang terlihat ketakutan.
“Maaf ... tadi aku hanya ingin menyingkirkan rambutmu,” jelas Kalun yang membuat Aluna mengangguk mengerti. Dia tidak ingin berpikiran kotor dengan kelaki yang sebentar lagi akan menyandang status sebagai suaminya tersebut.
Kalun lalu kembali melajukan mobilnya setelah mengetahui alamat Aluna tinggal sekarang.
Saat berada di dalam mobil tidak ada yang mulai berbicara, hingga mobil berhenti tepat di depan kos yang Aluna tinggali.
Aluna segera turun dari mobil, diikuti langkah kaki Kalun dari belakang punggungnya. Saat dia tiba di kos-san nya dia disambut dengan isakan tangis dari sahabatnya, yang baru mengetahui bahwa calon suaminya sudah meninggal tadi malam.
“Doakan aku bisa ikhlas Re ...” ucap Aluna yang sudah memeluk Renata, sahabat sekaligus temannya bekerja.
“Dia siapa?” tanya Renata menatap curiga ke arah Kalun. Padangannya terus mengawasi penampilan Kalun dari atas hingga ujung kaki Kalun. Wajah Kalun terlihat tidak asing di penglihatan sahabatnya itu, dia masih menatap Kalun sambil mengingat-ingat siapa lelaki di depannya ini.
👣
__ADS_1
Jangan lupa mainkan jarinya ya! like, vote, dan komentar. Terima kasih atas dukungannya .👍🙏🤓