
Aluna terbangun ketika mendengar suara kicauan burung yang menganggu pendengarannya. Dia menyibakkan selimut yang menghangatkan tubuhnya saat ini. Matanya mengedarkan ke arah ruangan yang tidak asing baginya. Dia mengingat lagi kamar Kalun yang bernuansa maskulin ini.
Aluna mengusap matanya, meyakinkan lagi jika dia benar-benar di kamar suaminya. Dia berpikir keras, kenapa dia bisa berada di sini saat ini.
Matanya kini menatap ke arah samping ranjang yang terlihat kosong. Dia mencari keberadaan Kalun saat ini. Meski dia tengah marah dengannya. Tapi dia juga tidak akan tega membiarkan Kalun sendiri melewati ini semua. Pintu kamar terlihat terbuka, membuat Aluna menatap heran ke arah papa mertuanya yang baru saja tiba.
“Pagi Lun,” sapa Erik saat mendapati Aluna tengah menatapnya. Erik lalu masuk bersama wanita yang mengenakan pakaian bewarna putih. Membuat Aluna tersenyum tipis ke arah mertuanya.
“Pagi Pa. Kok ada dokter di sini, Pa?” tanya Aluna kebingungan. Saat dokter itu mendekat ke arahnya.
“Biar dokter yang menjelaskan kepadamu!” jawab Erik sambil meminta dokter di belakangnya itu untuk segera memeriksa kondisi Aluna.
“Papa tinggal dulu! Kalau ada keluhan bilang pada dokter Jenny,” pesan Erik sebelum meninggalkan ruangan bekas kamar Kalun. Dokter Jenny segera memeriksa kondisi Aluna, setelah melihat Erik tidak berada di sana.
“Sudah berapa hari telat datang bulan?”
Pertanyaan Dokter Jenny membuat Aluna memikirkan tanggal haid terakhirnya yang sudah lewat, sambil tersenyum ramah ke arah ke dokter wanita di depannya tersebut.
“Dokter bisa aja! Aku kan sudah terbiasa terlambat datang bulan,” jelas Aluna sambil terkikik geli ketika dokter itu menempelkan stetoskop ke perutnya.
“Tapi telatmu kali ini beda! Kamu hamil!” jelas Dokter Jenny.
“Ah ... Dokter bisa aja loh!? Suamiku kan sengaja mengeluarkannya di luar!” curhat Aluna karena tidak yakin dengan prediksi Dokter Jenny.
“Apa perlu mertuamu yang memeriksamu? Dia dokter terbaik, hanya melihat saja, dia sudah bisa tahu kamu hamil atau tidak! Jadi kamu meragukan mertuamu?” canda Dokter Jenny sambil menatap ke Aluna, yang masih tidak percaya jika dia tengah hamil.
“Kalau sudah bertemu, ada kemungkinkan untuk terjadi pembuahan itu besar! Kalau nggak mau hamil jangan pertemukan mereka!” canda dokter yang lebih tua dari Aluna. Aluna kesulitan menutup mulutnya saat melihat candaan tabu yang keluar dari mulut dokter Jenny.
“Ini. Coba tes pakai ini!” perintahnya sambil menyerahkan benda dari dalam tasnya. Aluna menatap sejenak ke arah benda di tangannya. Dia membaca sebentar lalu meninggalkan dokter Jenny di kamarnya.
__ADS_1
Cukup lama dia berada di dalam kamar mandi, dia masih belum bisa percaya ini semua. Layar di tespack digital itu bergambar love dan ada tulisan kata ‘yes’. Dia mengulang lagi, untuk membaca petunjuk penggunaan dan penjelasannya. Dia sedikit syok saat dinyatakan hamil oleh alat uji kehamilan tersebut.
“Hamil, aku hamil anakmu A’,” lirihnya sambil mengusap lembut perutnya. Air matanya menetes mengenai punggung kakinya karena posisi Aluna kini menunduk sambil menatap perutnya yang masih terlihat datar. Dia berdiam diri di sana sambil meyakinkan dirinya apa yang dihadapinya saat ini.
“Luna sudah belum?” tanya dokter Jenny dari luar kamar.
Aluna menghapus air matanya, dia pasti akan malu, kalau dokter Jenny mengetahui jika dia tengah menangis bahagia.
Aluna keluar dari kamar mandi, dia menyerahkan tespack digital itu pada dokter Jenny.
“Kan benar, hamil! Tapi Lun, hati-hati ya, kondisi anakmu lemah, pesan saya jangan sampai terjatuh ataupun kecapekan!” peringat dokter Jenny yang angguki oleh Aluna, dia mendengarkan dengan serius apa yang diucapan dokter Jenny.
“Ini aku tambahin resep obatnya, pasti papa mertuamu juga sudah memberimu vitamin yang baik untukmu. Itu hanya untuk mengurangi rasa mual, jadi kalau nggak mual mendingan nggak usah diminum. Atau kamu bisa meminum menjelang tidur jadi setelah bangun tidur kamu tidak mengalami morning sickness,” jelas dokter Jenny sambil menyerahkan kertas putih pada Aluna.
“Biarkan nanti saya yang menebusnya!” jawab Aluna sambil membaca resep yang ditulis dokter Jenny. Dokter wanita itu reflek merebut kertas itu dari tangan Aluna. Dia baru menyadari jika Aluna tidak boleh terlalu lelah. Dokter Jenny sudah mengambil kembali, resep tersebut dan akan menyerahkannya pada Erik.
Aluna menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang setelah dokter Jenny pergi, dia masih belum percaya jika dia tengah hamil anak Kalun. Dia teringat jika Kayra juga tengah hamil dari anak suaminya, dia bingung antara melepaskan Kalun atau mempertahankannya, karena dia juga butuh suaminya saat ini.
Setelah tigapuluh menit berlalu, Aluna keluar dari kamar Kalun. Hari ini adalah hari selasa dan tiga hari lagi akan ada acara famgat perusahaanya, jadi dia harus menyelesaikan pekerjaannya sebelum libur tiba.
Aluna menapaki tangga sambil menatap semua orang yang berada di meja makan. Dia sedikit heran saat tidak mendapati Kalun dan mama mertuanya duduk di sana. Hanya ada mertua lelaki dan adik kembarnya yang tengah menunggunya sarapan bersama.
“Aa’ Kalun kemana Pa?” tanya Aluna sambil menarik kursi yang ada di depan adik kembarnya. Dia lalu mengambil sarapan yang sudah disiapkan. Erik menatap Aluna, sambil tersenyum tipis.
“Dia baru Papa hukum! Jangan mencarinya untuk beberapa bulan ke depan,” jelasnya sambil menyerahkan susu coklat pada Aluna. Aluna terlihat sedih saat mendengar ucapan Erik. Dia lalu menahan rasa penasarannya itu, dia akan menemui suaminya nanti saat tiba di kantor.
“Mama kemana, Pa?”
Erik menghentikan suapan yang akan masuk ke dalam mulutnya. Dia meletakkan kembali sendok di tangannya, lalu menarik nafas untuk menjelaskan pada Aluna.
__ADS_1
“Mama lagi nggak enak badan, jadi dia masih diam di kamar, temuilah sebelum kamu berangkat ke kantor! Kamu ingat ucapan dokter Jenny tadi ya Lun, jangan sampai lengah, hati-hatilah setiap melangkahkan kakimu! Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya!”
“Maksud Papa?”
“Sudahlah! Lanjutkan makanmu, dan temui mertuamu, siapa tahu dia bisa lebih baik!” pesan Erik demi mengalihkan topik pembicaraan.
Aluna lalu segera menyelesaikan sarapannya, dia tidak tahu jika Kalun tidak berada di rumah mertuanya. Yang dia tahu, dia semalam tertidur di mobil. Dan Kalun memindahkan ke kamarnya.
Setelah selesai sarapan Aluna berjalan menuju kamar Ella. Dia mengetok pintu kamar Ella, lalu membukanya pelan karena tidak mendengar sahutan dari dalam kamar.
“Ma.” Aluna berjalan menghampiri Ella yang tengah menatap ke arah jendela. Ella belum menoleh ke arah Aluna, dia belum menyadari jika Aluna tengah berada di sana.
“Ma,” ulang Aluna seraya menyentuh pundak Ella dengan tangan kanan. Ella yang merasakan tangan lembut Aluna sedikit terkejut, dia lalu mendongak ke samping menatap Aluna.
“Pagi-pagi kok sudah melamun Ma?” tanya Aluna sambil mendaratkan tubuhnya di samping Ella.
Air mata Ella tiba-tiba turun dengan derasnya ketika mendapati Aluna tengah berada di sampingnya. Dia menutup mulutnya untuk meredam suaranya, supaya tidak semakin terdengar keras.
“Mama kenapa?” tanya Aluna yang kebingungan.
“Maafkan Kalun! Maafkan dia Lun!” perintah Ella sambil meraih tangan Aluna.
“Maafkan anakku. Aku gagal mendidiknya menjadi lelaki yang baik, hiks ... hiks ...”
tangis Ella semakin pecah setelah mengatakan itu pada Aluna. Aluna semakin dibuat bingung oleh mama mertuanya. Dia tidak mengerti maksud Ella.
“Sudah Ma, jangan berpikiran macam-macam,” ucap Aluna sambil memeluk Ella, dia menenangkan suara Ella yang terdengar nyaring tersebut.
Aluna yang tidak paham apa yang menyebabkan mama mertuanya seperti ini. Dia terus mengusap punggung mertuanya, berusaha menenangkan Ella. Hingga tidak dia sadari, air mata Ella membuat baju Aluna terlihat sedikit basah. Dia terus menatap jam didinding, dia sedikit gelisah karena jam masuk kerjanya hampir terlambat.
__ADS_1
👣
Jangan lupa tinggalkan vote dan like, serta komentar positif. Mungkin ada pergeseran jam maupun jumlah part update ya, karena saya sedikit repot. 👍🙏