
“Ada lagi yang kamu sembunyikan dariku? Tolong katakan! Jangan membuatku seperti orang bodoh, karena aku tidak mengingat apapun saat ini!”
Kalun diam sejenak, lalu tersenyum ke arah Aluna, dia meraih dagu Aluna untuk menghadapkan ke arah wajahnya, “Istri Kalun tidak mungkin bodoh, tidak ada yang aku sembunyikan darimu. Jadi jangan berpikiran macam-macam lagi. Lusi akan membantu kita untuk mendapatkan si utun lagi,” kata Kalun.
“Utun?”
“Ya, kita akan mendapatkannya lagi! Jangan khawatir? Sekarang tidurlah, kamu harus segera pulih, supaya proyek besar kita segera terwujud,” kata Kalun sambil mengangkat tubuh Aluna ke atas ranjang. Kalun menarik pelan selimut tebal itu untuk menutupi anggota badan Aluna.
Lusi yang melihat sikap lembut Kalun saat ini, bibirnya terangkat ke atas, dia baru tahu di balik sikap dingin Kalun yang cuek, dia bisa bersikap lembut pada orang yang dicintainya. Lusi lalu segera meninggalkan kamar yang mereka berdua tempati, tidak ingin mengganggu momen romantisme mereka. Saat menarik handle pintu dia sesikit terkejut saat menemukan sepasang pasangan lansia yang tengah menguping pembicaraan mereka.
“Bagaimana?” tanya Erik yang sangat antusias, mendengarkan kabar baik dari Lusi. Lusi menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari Erik.
“Hanya asam lambung, mungkin karena sering terlambat makan dan juga bisa jadi terlalu banyak pikiran, Luna sudah tahu semuanya, dia sepertinya sangat terpukul dengan apa yang di alaminya,” jelas Lusi pada keduanya, sambil berjalan menuju ruang televisi.
“Baiklah aku tidak akan mengungkit masalah anak lagi pada mereka berdua, aku tidak ingin membuatnya tertekan, aku paham bagaimana rasanya ditanyai soal momongan,” celetuk Ella saat mereka tengah duduk di sofa depan televisi.
Di kamar
“Jangan menangis lagi! Apa yang kamu takutkan? Aku akan tetap di sampingmu, apapun yang terjadi.” Kalun masih mendekap tubuh Aluna dengan erat.
“Tinggalkan aku sendiri!” perintah Aluna, sambil mengusap air matanya yang masih deras mengalir.
“Hei, aku nggak akan meninggalkanmu.”
“Pergilah! Apa kamu tidak akan bekerja?”
Kalun tersenyum lebar, “Aku bisa libur kapan saja, nanti kalau direktur utama, menanyakan keberadaanku, aku akan katakan jika aku sedang menemani istriku di rumah, karena dia sedang merindukanku.”
Aluna mendorong menjauh tubuh Kalun, “Aku baru ingat jika sedang marah denganmu, menjauhlah, aku tidak ingin dekat denganmu untuk sementara waktu.”
“Lupakan semua itu, mau tidak mau kamu akan membutuhkanku. Membutuhkan kehangatan dari pelukanku, demi kesembuhanmu, pasti semalam kamu kedinginan,” jelas Kalun yang justru semakin mempererat lagi pelukannya.
“Lepas! Aku tidak bisa bernafas!” bentak Aluna.
“Ternyata ganas juga kalau marah, jangan bentak-bentak aku lagi, nggak baik seorang istri berbicara keras pada suami!” kata Kalun yang menempelkan bibirnya di belakan telinga Aluna.
__ADS_1
“Kondisikan bibirmu!” peringat Aluna sambil berusaha menahan bibir Kalun dengan tangan kanannya.
“I love you,” bisik Kalun yang sengaja di belakang telinga Aluna, membuat Aluna tidak bisa menahan rasa geli yang ada di tubuhnya.
“I love you,” ulangnya lagi, sambil terkekeh, berusaha menggoda Aluna, saat Aluna semakin berusaha keras menahan bibir Kalun. Aluna yang kesal menatap mata Kalun tajam, burusaha membuang rasa belas kasihan Kalun yang sudah menatapnya dengan tatapan gairah.
“Pergi! Aku ingin istirahat, apa kamu tidak ingin aku segera sembuh? Atau kamu justru ingin aku cepat mati, supaya kamu bisa merasakan daging baru?”
Kalun mencerna baik-baik ucapan istrinya, masih bingung apa maksud ucapan Aluna, “Apa itu daging baru?”
“Pikirkan sendiri, sekarang kamu pergi saja, jangan di sini. Aku ingin istirahat!” usir Aluna.
“Apa kamu tidak ingin menikmati nasi goreng cinta buatanku? Aku memasaknya hampir 2 jam, tiga kali gagal memasak nasi goreng, dan ketika aku merasa pantas aku sajikan, masa iya kamu tidak ingin mencicipinya? Atau mau aku suap?” tawar Kalun menatap ke arah dua piring nasi goreng yang ada di meja. Dia lalu mengambil sepiring nasi goreng dan kembali duduk di samping kasur Aluna yang tidak terlalu besar.
Kalun sudah menyodorkan sesuap nasi goreng di depan mulut Aluna. tapi Aluna tidak ingin membuka mulutnya sama sekali, dia justru menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
“Aku tidak mau disuap dengan tangan lelaki yang sudah menyuapi wanita lain,” kata Aluna saat melihat Kalun memohon dengan isyarat matanya.
Hening sesaat. Mereka tenggelam dalam pikirannya masing-masing. Aluna dengan rasa cemburu yang masih tertinggal.
“Dan kamu memilih dia! Tanpa mempedulikan perasaanku!”
Kalun menggelengkan kepalanya, “Sudahlah, Sayang. Iya aku salah, aku mengabaikanmu, aku tahu kamu pasti akan marah denganku, tapi aku juga akan sangat menyesal jika Kayra pergi tanpa ada yang mendampinginya. Sekarang aku sudah di sini. Aku milikmu seutuhnya, Kalun untuk Aluna.” Aluna membuka mulutnya memakan nasi goreng yang disodorkan kembali oleh Kalun. Membuat Kalun merasa lega karena setidaknya Aluna mau memakan nasi goreng buatannya.
“Enak kan?” tanya Kalun ketika Aluna mulai memakan lagi makanannya.
“Sini biarkan aku yang memakan sendiri?” minta Aluna sambil meraih piring yang ada di tangan Kalun.
“Tidak perlu, kamu sedang sakit, kamu baring saja, biarkan aku yang menyuapimu,” Kalun lalu menyodorkan lagi sendok itu ke dalam mulutnya sendiri, “Sudah seperti masakan bintang 5 kan?”
“Nggak biasa saja.”
“Jangan meragukan kemampuan suamiku Sayang,” kata Kalun sedikit kesal.
“Nggak memang biasa kok.” Aluna justru memalingkan wajahnya dari pandangan Kalun. Dia tetap kekeh tidak mengatakan jika masakan suaminya enak.
__ADS_1
“Ini special, Sayang, aku membuatnya dengan sepenuh hati loh, setidaknya pujilah masakanku,” kata Kalun.
“Ya, masakanmu memang enak, tapi tidak lebih dari masakan nasi goreng langgananku.”
Kalun terdiam, sambil menatap nasi goreng di tangannya.
“Nih, makan sendiri! Kamu
nyebelin!” kata Kalun meletakkan nasi gorengnya di tangan Aluna.
“Coba dari tadi seperti ini, pasti aku akan sangat senang,” kata Aluna sambil melahap sendiri makanan yang Kalun berikan. Dia tidak mempedulikan Kalun yang tengah mengerucutkan bibirnya, yang tengah kesal dengannya.
Kalun meninggalkan Aluna sendiri di dalam kamarnya, dia menuruni tangga hendak membersihkan dapur yang tadi dipakai untuk memasak. Tapi paggilan Ella yang berada di dekat tangga televisi menghentikan langkahnya.
“Kamu habis berantem dengan Aluna, kenapa dapurmu seperti kapal pecah!”
“Nggak, aku saja yang memasak, semalam aku tidak bisa tidur nyenyak, jadi aku memasak nasi goreng untuk Aluna.”
“Kamu masak nasi goreng? Kenapa bisa dapurmu seperti itu.”
“Tiga kali, aku membuat nasi goreng Ma, 2x gagal, dan ketiga kalinya barulah berhasil, dan rasanya sangat enak, Mama mau?” tawar Kalun yang hendak mengambil kembali, sepiring nasi goreng yang masih tertinggal di kamar Aluna.
“Nggak, Mama takut nasi gorengmu beracun!”
Kalun tertawa kesal ketika mendengar jawaban dari Ella, lalu menggelengkan kepalanya ketika mengingat ucapan Aluna.
“Luna juga bilang tidak enak, katanya tidak lebih enak dari pembuat nasi goreng langgananya, siapa yang tidak kesal coba?” gerutu Kalun meluapkan rasa kesalnya di depan orang tuanya.
“Hahaha, mungkin benar apa yang dikatakan Luna. Jika masakanku tidak enak.” Ella berteriak saat mendengar ucapan Kalun, karena Kalun sudah berjalan mendekat ke tempat Erik, yang tengah duduk di sofa depan televisi.
“Apa kamu tidak ingin bicara jujur dengan Luna kenapa dulu kamu menikahinya, aku dengar kamu masih belum mengatakan semuanya? Jangan sampai masalah itu jadi masalah besar untukmu sendiri ke depannya,” kata Erik saat Kalun duduk tepat di sampingnya.
“Ya, aku akan jujur, setelah semuanya kembali tenang, aku akan menceritakan semuanya, tidak ada yang akan aku tutupi lagi setelah ini,” jelas Kalun yang terlihat gusar menatap pintu kamar Aluna. Dia hanya takut jika Aluna mendengar ucapannya dan akan pergi meninggalkannya, setelah mengetahui kebenaran jika Fandi meninggal karena dia yang tidak sengaja menabraknya.
“Terserah lebih cepat lebih baik.” Erik menatap ke arah lelaki di sampingnya sambil tersenyum tipis.
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN VOTE YA.💪🙏