Mistake ( A Mistake Can Bring Love )

Mistake ( A Mistake Can Bring Love )
Mall


__ADS_3

Matahari semakin merangkak naik ke atas, panas semakin terasa menyengat di luar sana. Mereka berdua datang ke Emero Group dan disambut dengan ramah oleh pemilik perusahaan tersebut.


Saat ini Aluna dan David masih berada di ruangan ber Ac, yang dihuni lebih dari 20 orang. Aluna hanya mendengarkan, dan mencari ilmu baru yang bisa dia terapkan nantinya.


Saat giliran kepala devisinya presentasi, sepertinya penanam saham terbesar di Emero Group tertarik dengan presentasi David. Jadi 50% kemungkinan mereka akan memenangkan tendernya kali ini. Karena sebenarnya mereka sudah pernah menggunakan jasa perusahaan EL Group untuk pembangunan resort.


Aluna dan David keluar gedung dengan senyuman lebar, mereka berhasil memenangkan tender yang bernilai puluhan triliun itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang, David meminta Aluna untuk langsung pulang karena dia merasa Aluna sudah bekerja keras hari ini. Dia takut jika Aluna kelelahan dia akan drop dan mengundurkan diri, mengingat Aluna adalah aset berharga untuk perusahaan.


“Jangan lupa, mulai besok kamu harus mengurus proyek ini,” ucap David saat mereka berpisah di pintu masuk gedung EL Group.


“Siap Pak, saya akan konsultasi dengan Bapak sebelum deadline.” Aluna tersenyum senang ketika mendapat tugas pertamanya. Meski penuh resiko, tapi hatinya merasa tertantang untuk membuat desain gedung sebaik mungkin.


Rencana Aluna untuk berbelanja, sepertinya diberi jalan lebar oleh Sang Pencipta. Aluna langsung memesan ojek lewat aplikasi online di ponselnya.


Tabungannya tidak begitu banyak, jadi dia hanya ingin membeli dua pasang baju saja, setelah gajian nanti, dia berencana akan membeli baju lagi.


Tukang ojek itu berhenti di depan gedung mall untuk mengantar Aluna. Aluna masuk ke mall masih dengan baju putih hitam dan tas slempang hitam yang selalu dia bawa, orang yang tidak mengenalnya, mungkin akan mengira dia gadis yang tengah membolos dari mapel.


Aluna mulai memasuki toko baju, dia terus memilah-milah baju yang cocok untuknya. Banyak yang dia suka, tapi jika dia membeli baju itu, dia hanya akan mendapatkan satu stel baju saja.


“Apa ke tanah abang saja ya ... perasaan mahal banget,” gumamnya saat melihat bandrol baju bewarna marun.


Aluna lalu kembali mencari baju yang harganya lebih murah dari yang dia lihat tadi.


“Apa beli baju second yang layak pakai saja,” gumamnya lagi setelah tidak menemukan baju di bawah 100 ribu.


“Luna!” teriak wanita di balik punggung Aluna yang berjalan menghampiri di mana Aluna berada.


Aluna menoleh ke arah sumber suara saat mendengar namanya dipanggil, dia tersenyum ke arah dua wanita yang berjalan mendekatinya. Aluna menunduk sambil meraih satu persatu tangan kanan wanita di depannya.


“Mama, kenapa di sini?” tanya Aluna yang kaget saat melihat Ella berada di mall yang sama dengannya.


“Siapa dia La?” tanya Sashi yang berdiri di samping Ella.


“Dia menantuku,” bisik Ella sambil mengerlingkan matanya. Membuat mata Sashi melotot sempurna ke arah Ella.


“Yakin? lihat penampilannya beda banget dengan selera Kalun. Apa lagi dengan mertuanya ini.”


“Hussh ... kita nggak boleh melihat orang hanya dari luar.” Ella berbisik sambil menatap ke arah Aluna. Ella lalu menarik tangan Aluna untuk mendekat ke arahnya.

__ADS_1


“Kenalkan Lun, dia bibi Sashi. Istri dari paman Damar,” jelas Ella sambil menatap penampilan Aluna.


“Kamu ngapain di sini? Mau belanja juga? Kamu sendirian? Kalun mana?” ucap Ella yang menghujani Aluna dengan banyak pertanyaan, Ella mengedarkan matanya siapa tahu ada Kalun di sekitarnya.


“Apa Kalun baru memilih pakaian sexy untukmu?” bisik Ella menggoda Aluna. Membuat wajah Aluna memucat karena tidak tahu harus menjawab apa pertanyaan mertuanya.


“Nggak kok Ma, Luna nyari baju yang pas buat kerja besok, dan Kalun masih berada di kantor,” jelas Aluna sambil memainkan tali tas yang ada di depan dadanya.


“Wah kebetulan, kita juga lagi belanja, tapi cuma kita berdua, anak gadis Mama mana mau jika diajak belanja dengan Mamanya,” terang Ella yang membuat Aluna tersenyum manis.


“Udah yuk, kita lanjut lagi!” ajak Sashi yang merasa sudah lelah berdiri tapi tidak bisa melihat produk yang dia sukai.


“Sebentar! aku tahu kamu sudah tidak sabar untuk menghabiskan uang kakakku,” canda Ella yang dijawab gelengan oleh Sashi. “ Bagaimana jika kita ajak Luna sekalian, ayo Lun, kita belanja!” lanjut Ella mengajak Aluna untuk belanja bersama, dia lalu melangkah pergi meninggalkan toko.


Namun, sejenak dia berhenti, karena tidak mendengar langkah kaki Aluna yang mengikutinya.


“Lunn ...” panggil Ella yang berbalik badan menghadap Aluna.


“Nggak usah Ma, Aluna belanja sendiri saja, lagian Aluna cuma beli satu baju saja kok,” tolak Aluna dengan nada gelisah karena takut mama mertuanya itu akan memaksanya.


“Sudah ayo!” Ella kembali menghampiri Aluna lalu menarik tangan Aluna dan membawa Aluna untuk memasuki toko demi toko.


Kalun berulang kali menatap layar cctv yang ada di ruangannya. Pekerjaannya masih menumpuk, tapi dia terus terbayang kejadian yang menimpanya semalam, kejadian ketika berdua dengan Aluna di sofa.


Kalun melemparkan pulpen yang dia bawa ke sembarang arah, karena bayangan bibir merah Aluna tidak pernah pudar di ingatannya.


“Mungkin aku merindukanmu Yang,” ucapnya sambil menatap layar ponsel miliknya, yang terdapat foto Kayra. Kalun lalu menekan interkom yang terhubung ke ruangan Doni.


“Ke ruanganku sekarang!” perintahnya pada Doni, dia langsung memutuskan sambungan interkom tanpa mendengar jawaban Doni.


“Ada yang bisa saya bantu Pak?”


“Mereka belum pulang?”


Doni terdiam, sambil memahami pertanyaan Kalun.


“Maksud Bapak, Pak David?”


“Menurutmu siapa lagi?” Kalun berucap dengan nada geram karena merasa Doni tidak tanggap dengan pertanyaannya.


“Kenapa kamu selemot ini sih? Kenapa beda jauh dengan paman Yohan, andai kamu bukan anak paman, aku mutasi kamu ke Lombok!” maki Kalun, yang tidak segera mendapat jawaban dari mulut Doni.

__ADS_1


Pintu ruangan diketok dari luar, membuat Kalun menghentikan tatapan tajamnya ke arah Doni. Seketika bibirnya terangkat ke samping, dia tersenyum tipis ketika melihat David dari layar cctv.


David masuk ke ruangan Kalun, setelah Doni membukakan pintu untuknya.


“Apa ada yang penting?” tanya Kalun yang sudah duduk di kursi kuasanya.


“Ya, kita berhasil memenangkan tendernya, hahaha,” ucap David dengan penuh kegembiraan, dia melompat kecil di depan Kalun menampilkan ekspresi senangnya. Namun, bos nya hanya menatap dengan ekspresi datar. Membuat David menyadari kebodohannya.


“Yah ... kita menangkan proyek itu Pak,” ulang David dengan nada sopan.


“Siapa yang akan menangani proyeknya?”


David diam sejenak sambil memikirkan keputusannya.


“Aluna, Pak!” ucap David sambil menatap yakin ke arah Kalun.


“Apa kamu ingin merugikan perusahaan? Dia baru satu hari bekerja, dan kamu berani menyerahkan proyek itu padanya!” ucap Kalun yang kaget saat mendengar nama Aluna, yang akan menangani proyek besar yang baru saja dia terima.


“Yah, saya yakin Aluna mampu melakukannya dengan baik, sebenarnya setelah pihak HRD menyerahkan data calon karyawan pada saya, saya langsung menghubungi rekan saya yang berada di Solo. Dia mengenal Aluna, bahkan Aluna pernah menjadi assistan dosen saat dia kuliah, dia juga lulusan terbaik angkatannya, dan sebenarnya dia mendapatkan bea siswa ke Australia, tapi dia menolak karena ingin bekerja saja,” jelas David yang lebih paham tentang Aluna.


“Di mana dia sekarang?” tanya Kalun yang penasaran. Dia menatap ke arah David yang menunduk, karena ketakutan dengan keputusannya menyuruh Aluna pulang.


“Maaf Pak, Aluna tadi saya suruh pulang, karena dia terlihat kelelahan,” jelas David pada Kalun dengan sedikit ragu.


“Pergilah!” usir Kalun pada David. Pria itu langsung meninggalkan ruangan Kalun setelah berpamitan.


“Don, kamu tahu apa yang harus kamu lakukan?”


“Ya,” jawab Doni mantap.


“Apa coba?” tanya Kalun mengetes IQ Doni.


“Menyiapkan mobil, karena Bapak akan segera pulang.” Doni berucap sambil tersenyum tipis ke arah Kalun.


“Tumben encer!” cerca Kalun sambil tersenyum smirk ke arah kaca jendela.


“Antar aku pulang sekarang!” Kalun segera berdiri mengambil jas yang tadi dia letakkan di sofa. Dia ingin segera pulang ke rumah, entah apa yang ingin dia lakukan tapi dia ingin segera menatap gadis yang sudah sehari memenuhi pikirannya.


👣


Jangan lupa untuk like dan vote.

__ADS_1


__ADS_2