Mother

Mother
101 Perjodohan Anak-Anak


__ADS_3

🍃🍃🍃


“Uncle mau menikah sama mommy? Berarti nanti aku dan RaRa (Radhi Raine) jadi saudara?”


“Tapi kita kan sudah jadi saudara.”


“Saudaranya jadi tambah (hubungan persaudaraan yang semakin kuat, maksudnya).”


“Tapi kami kan sudah punya mama.”


“Tidak apa. Aku juga sudah punya daddy. Nanti kalau mommy menikah lagi, aku punya papa, mungkin juga punya mama baru karena daddy akan menikah dengan aunty Jasmine. Daddy kan dijodohkan dengan aunty Jasmine Aku punya mommy daddy dan papa mama.” Chiro kembali kompor.


“Berarti?”


“Mainan kita?”


“Tamba banyak?”


“Yeeey, asik asik, mau mau mau.” Si kembar meloncat-loncat kegirangan, kecuali Chiro yang selalu terlihat cool.


“Tapi aku tidak mau punya banyak mainan. Aku mau punya dede bayi yang banyak, biar tidak sepi.” Radhi dan Raine langsung berhenti meloncat.


“Dede bayi?”


“Iya, kalau aku punya banyak dede bayi, bisa aku ajak main. Biar aku tidak kesepian lagi saat daddy kerja.”

__ADS_1


“Aku juga mau dede perempuan.”


“Jangan Rain. Aku sudah punya kamu, aku mau dede laki-laki.”


“Ya sudah, kita minta kembar saja seperti kita, satu laki-laki dan satu perempuan.”


"Aunty Freya, ayo cepat menikah dengan ayah, dan berikan kami dede bayi yang banyak." Freya hanya meringis mendengar perkataan anak-anak itu.


"Tapi bukannya mommy kamu mau menikah dengan uncle Coco?"


"Terserah mommy mau memilih yang mana. Ada banyak uncle yang bisa menjadi papa baru aku."


"Benar, ayah juga bisa memilih mau menikah dengan aunty yang mana, di sini ada banyak aunty."


Para perempuan itu hanya bisa melotot. Memangnya mereka apa? Untung saja yang bicara masih anak-anak.


Deg


Jantung mereka berdetak.


"Kalian mau aunty Rei jadi bunda kalian?" tanya Freya.


"Mau," jawab si kembar cepat.


"Anak-anak, jawab yang jujur, ya. Di antara para aunty ini, mana yang kalian pilih duluan untuk menjadi bunda kalian? Ayo jawab yang jujur!" ucap Freya lagi.

__ADS_1


"Tidak apa, jawab saja. Jangan takut, tidak akan ada yang marah, kok."


"Aunty Rei." Freya tersenyum puas.


"Nanti kalau mama kalian marah bagaimana?"


"Ngumpet-ngumpet saja. Kami juga suka ngumpet-ngumpet kalau membawa jajanan dari luar, karena kalau ketahuan eyang nanti bisa diambil."


"Rain, kamu baru saja membongkar rahasia kita."


"Jangan bilang-bilang pada eyang, kakek, nenek, mama dan papa kalau kami suka jajan dan dibawa pulang."


"Tapi ayah kalian sudah mendengar."


"Ayah ...." Si kembar menatap takut pada Marva.


"Ayah enggak akan bilang-bilang."


"Terima kasih, Ayah."


"Jadi kapan Ayah mau menikah dengan aunty Freya? Biar kami bisa bawa Chiro pulang setiap hari?"


Marva dan Arby mendadak sakit kepala, sedangkan yang lain hanya tertawa. Apalagi Mico yang tertawa paling keras.


"Iya. Di sekolah, teman-teman kami selalu saja pamer kalau mereka punya adik baru. Chiro tidak suka karena mereka sombong. Chiro juga mau punya dede bayi."

__ADS_1


"Iya. Aunty Freya bisa memilih mau menikah sama siapa, kemudian ayah juga bisa memilih yang lain kalau ditolak sama mommy Chiro."


Mulut Arby sudah komat-kamit seperti membaca mantra kutukan dan matanya menatap tajam Marva, seolah dengan tatapan itu Marva bisa berubah menjadi batu yang bisa langsung dia cemplungkan ke dalam empang.


__ADS_2