
Pagi menjelang, Rei bangun dengan perasaan yang berbeda. Ada perasaan bahagia, tapi juga sedih.
Jangan memikirkan apa yang membuat kamu sedih, pikirkan saja apa yang membuat kamu senang.
Radhi dan Raine, tentu saja mereka yang membuat hati Rei merasa ringan.
Tadi malam adalah satu kemajuan dalam hidupnya. Bisa bicara, memeluk bahkan mencium anak-anaknya. Dan semua itu berkat Naya. Entah bagaimana dia bisa membalas kebaikan sahabatnya itu. Dia hanya bisa berdoa semoga sahabatnya akan hidup bahagia.
Rei melihat Naya yang sudah menyibukkan diri di dapur. Mereka saat ini sudah tinggal di apartemen.
"Ayo kita buat sarapan yang enak."
Rei mengangguk cepat. Tidak lama kemudian yang lain ikut bergabung.
Mereka pergi ke tempat tugas masing-masing, sebelum nanti siang akan mengikuti seminar.
Senyum tidak lepas dari wajah manis Rei. Dia seperti merasakan jatuh cinta, tapi ini bukan cinta biasa. Cinta pada anak-anak dia yang tentu saja lebih murni.
Hari juga terasa lebih singkat, tanpa terasa Rei sudah ada setengah hari di sini. Dia mulai melangkahkan kakinya, dan senyum diwajahnya langsung menghilang saat melihat seseorang yang tidak ingin dia lihat.
"Ada apa?"
"Aku mau bicara dengan kamu."
__ADS_1
"Aku sibuk, sebentar lagi ada seminar."
"Kita bisa bicara di jalan. Biar aku yang mengantar kamu."
Rei tahu ini akan terjadi. Setelah kemunculan dan pertemuan mereka yang tidak diduga, tentu saja dia pasti akan langsung dicari.
Namun sebelum Rei melangkahkan kakinya, dia memandang seseorang yang juga sedang melihatnya.
"Istri kamu ada di belakang. Mungkinnkalian todak saling menceritakan kalsu ingin menemui aku."
Marva dan Viola sama-sama tersindir. Dia memang tidak bilang pada Viola kalau mau bertemu dengan Rei. Sedangkan Viola juga diam-diam ingin menemui Rei. Tapi sebelum dirinya sembunyi saat melihat sudah ada Marva, dia langsung ditegur oleh Rei.
Tertangkap basah.
"Tapi kamu memang sudah merusak rumah tangga aku."
"Aku? Memangnya apa yang aku lakukan? Aku tidak merebut suami kamu, tidak juga menggodanya."
"Vio, ayo!"
Marva langsung menarik tangan Vio.
"Kamu ini apa-apaan, sih? Kenapa menuduh sembarangan?"
__ADS_1
"Aku ... aku kalut. Aku takut kalau dia kembali masuk ke kehidupan rumah tangga kita. Dan merebut kamu juga anak-anak dari aku. Aku tidak mau kehilangan mereka."
Marva diam.
Dia tidak bisa menyalahkan Vio seutuhnya.
Istri mana yang tidak panik melihat mantan istri suaminya kembali hadir. Apalagi ada pengikat di antara mereka.
Sedangkan dia?
Dia memang masih menjadi istri Marva, tapi tanpa anak. Posisinya tentu saja sangat terancam.
"Jangan marah. Tolong mengerti perasaanku. Kamu juga, ke sini tidak bilang padaku. Apa kamu ingin bernostalgia dengan dia?"
Marva menghela nafas berat.
"Aku hanya ingin bicara dengannya. Dan menyelesaikan masalah yang dulu belum diselesaikan. Aku tidak bilang, karena tidak mau kamu salah paham."
"Tapi dengan kamu tidak bulang, justru membuat aku jadi salah paham. Lagi pula, masalah apa yang belum kamu selesaikan? Dia sendiri yang pergi dengan kesadaran."
"Sudah, kalau kamu mau aku mengerti kenapa kamu ke sini tanpa meminta ijin dariku, aku harap kamu juga seperti itu. Kita berdua sama-sama salah."
Ya, mereka berdua sama-sama salah. Baru satu malam, dan itu hanya beberapa jam saja, tapi Rei sudah berhasil memporak-porandakan kehidupan mereka.
__ADS_1