
Sekarang hari Minggu, Marva mengajak anak-anaknya pergi pagi-pagi sekali.
"Kalian mau ke mana?" tanya Vio.
"Jalan-jalan saja. Kamu mau ikut?"
"Enggak deh."
"Yakin, enggak mau ikut?" tanya Marva.
"Iya. Aku mau istirahat saja, beberapa hari ini aku banyak pekerjaan, jadi mau istirahat saja seharian. Tidak apa-apa kan, anak-anak?"
"Tidak apa-apa, Mama."
Marva kemudian mengajak mengajak anak-anaknya pergi. Tidak ada tujuan khusus, tapi kemudian dia teringat akan Rei.
Dengan cepat dia langsung mengambil keputusan untuk ke tempat perempuan yang menjadi ibu dari anak-anaknya itu.
Mereka tiba di apartemen yang menjadi tempat tinggal Rei dan sahabat-sahabatnya. Dia lalu ke tempat Freya lebih dulu, karena cara tinggal para perempuan itu cukup unik dan tidak bisa ditebak, mereka bisa saja tinggal di unit mana pun.
Freya membuka pintu dan mendengkus melihat Marva. Ingin langsung dia usir tapi tidak mungkin karena ada si kembar.
"Ayo masuk, anak-anak." Freya tersenyum pada Radhi dan Raine, namun cemberut saat melihat Marva.
"Radhi dan Raine mau minum apa? Susu coklat atau putih?"
"Susu coklat, Aunty."
"Aku kopi saja, Frey."
__ADS_1
"Enggak ada yang menawarkan kamu. Kalau mau minum beli saja di luar sana, dan langsung pulang kembali ke rumahmu!"
Marva menghela nafas, dia tahu Freya todak suka padanya.
"Frey, tidak bisakah kamu tidak membenciku."
"Aku tidak benci, hanya saja aku memang tidak suka padamu."
"Frey, jangan seperti ini, bagaimana pun juga, kita ini keluarga."
"Aku enggak bangga tuh, jadi keluarga kamu."
"Frey, jangan begitu!" Marva menggenggam kedua tangan Freya.
Brak
"Lepas! Berani-beraninya kamu memegang tangan mommy Chiro."
Di belakang mereka, ada Monic, Letta, Zilda, Rei, Ikmal, Vian dan Marcell.
Mereka melihat Marva yang memegang tangan Freya, lalu menggelengkan kepala.
Cari masalah tuh, Marva.
Rei yang melihat itu hanya meringis. Dia tidak cemburu sama sekali, hanya saja dia tahu bagaimana sikap Arby selama ini. Yang akan cemburu tanpa pandang bulu.
"Jangan sentuh mommy Chiro, dia bukan istri kamu."
"Kamu juga bukan istrinya."
__ADS_1
Arby menatap tajam Marva, lalu menarik tangan Freya dan mensucikan tangannya dengan sabun.
Rei menahan tawa, dia semakin tahu bagaimana bucinnya Arby pada sahabatnya itu. Jika mengingat masa-masa SMA mereka, Rei benar-benar tidak menduga kalau Arby bisa seperti ini.
Chiro dan si kembar yang melihat itu, hanya diam saja. Radhi dan Raine meminum susu yang tadi dibuatkan oleh Freya, sedangkan Chiro membuat sendiri. Anak itu memang lebih dewasa dan mandiri dibandingkan si kembar.
"Kalian dari mana?" tanya Marva. Yang perempuan diam saja, sedangkan yang pria menjawab dari rumah masing-masing.
Hari libur para pria itu memang biasanya akan merusuh di tempat perempuan.
Karena prinsip mereka ....
Kejar terus
Sampai lelah
Sampai dapat
Atau sampai menyerah
Para perempuan mulai sibuk di dapur, ditemani oleh anak-anak yang ingin melihat apa yang dimasak.
"Aunty, aku mau makan rendang," ucap Raine.
"Aku mau makan ikan bakar," ucap Radhi.
"Ecan mau makan apa?" tanya Freya.
"Apa lun yang mommy masak, akan Ecan makan dan habiskan."
__ADS_1
Yang lain tersenyum. Melihat Chiro yang sangat menyayangi Freya, membuat Rei senang. Dia juga berharap dan berdoa, semoga anak-anaknya juga akan menyayanginya jika nanti mereka tahu siapa ibu kandung mereka, daan tidak membencinya.