
"Kenapa? Kenapa kamu membuat diri kamu sendiri menderita?"
Vio diam saja.
Rei jadi berpikir, apa ada perempuan lain yang seperti Vio? Yang rela menderita demi tetap bersama dengan pria yang dicintainya.
Kalau kembali dipikir, apa yang dikatakan Freya benar juga.
Kalau Freya itu Vio, pasti Marva sudah Freya tinggalkan, Arby saja Freya tinggalkan.
Lalu kalau Rei jadi Vio?
Rei berpikir dengan akal dan hatinya.
Tidak
Dia juga tidak akan sanggup berbagi suami.
Diduakan!
Rei jadi salut dengan Vio yang punya kebesaran hati menerima semua ini.
__ADS_1
Entah kebesaran hati
Entah bodoh yang over dosis
Entah cinta buta
Rei kembali berpikir, apa dia akan bisa mencintai seorang pria seperti Vio yang mencintai Marva?
Tidak tahu.
Rei tidak bisa menjawab apa-apa saat itu, karena memang belum merasakan dan menjalaninya.
"Tolong jangan rebut Marva."
"Tunggu. Aku memang tidak bisa lepas dari Marva. Marva adalah masa depanku."
Rei menghela nafas, lalu berdiri, siap untuk meninggalkan Vio.
"Itu karena aku ... ka–karena aku ... karena aku tidak bisa memiliki anak." Vio menggigit bibirnya. Air matanya langsung mengalir deras setelah mengatakan itu.
"A ... apa?" tanpa sadar, Rei kembali duduk.
__ADS_1
"Aku tidak bisa memiliki anak. Itu sebabnya aku tidak mau berpisah dari Marva."
"Apa Marva tahu?"
"Tidak! Dia tidak tahu, dan tolong jangan ceritakan ini pada siapa pun. Siapa pun!"
"Dulu aku dan Marva sepakat untuk tidak memeriksakan diri ke rumah sakit. Kami mau menjalaninya dengan santai. Tapi kakek Frans selalu menuntut. Lalu setelah kamu melahirkan, aku memeriksakan diri ke dokter diam-diam di rumah sakit lain. Saat tahu kenyataan itu, hatiku sangat hancur. Memang bukan aku yang mengandung dan melahirkan si kembar. Tapi saat itu aku berjanji akan menyayangi si kembar dengan tulus. Aku lah yang memeluk mereka saat mereka menangis, yang menemani tidur mereka saat mereka sakit. Tangan ini yang selalu memeluk mereka saat mereka kedinginan. hidupku serasa sempurna dengan kehadiran si kembar. Apalagi Marva juga tidak pernah menuntut aku untuk memiliki anak sendiri. Sampai kamu kembali hadir, hatiku jadi gelisah. Aku takut kamu merebut Marva dan anak-anak."
"Masa depanmu lebih cerah, Rei. Kamu sudah pasti tidak mandul. Kamu masih bisa menikah dengan pria mana pun dan memiliki anak lagi. Sedangkan aku? Kalau aku berpisah dengan Marva, akan jadi seperti apa? Jika aku menikah lagi, suamiku akan menuntut anak. Anggap saja dia bisa menerima kekurangan aku sebagai perempuan, tapi bagaimana dengan keluarganya? Mereka akan meminta cucu seperti orang tua Marva. Bisa-bisa aku mengulangi nasib yang sama. Dia bisa saja selingkuh bahkan menikah dengan perempuan lain. Aku akan kembali dipoligami, atau yang lebih buruk cerai untuk yang kedua kalinya. Akan ada Marva kedua, Rei kedua, mertua seperti mereka. Orang-orang akan mencibirku karena kembali gagal dalam pernikahan."
Vio masih terisak, sedangkan Rei mengusap air matanya.
"Sebagai sesama perempuan, bagaimana kalau kamu yang ada di posisiku?"
Tentu saja tidak akan sanggup
Hanya perempuan tangguh yang bisa menjalaninya dan menanggungnya seorang diri.
"Itulah sebabnya aku selama ini terlihat egois. Itulah sebabnya aku katakan kalau Marva dan anak-anak adalah masa depanku. Berjanjilah untuk tidak merebut mereka."
Rei merasa sangat kasihan pada Vio.
__ADS_1
Tapi berjanji untuk tidak bersama Marva dan anak-anak, apa dia bisa menjanjikan itu?