Mother

Mother
153 Foto Ilegal


__ADS_3

Pada akhirnya, seorang anak tetap saja mau kedua orang tuanya bersama. Tinggal di atap yang sama, sarapan dan makan malam bersama. Menghabiskan waktu libur bersama.


"Kenapa bunda tidak mau tinggal bersama kami dan ayah?"


"Radhi, Raine ... ayah dan bunda sudah tidak bersama, jadi tidak bisa tinggal bersama juga."


"Kalau begitu, kenapa kalian tidak bersama? Apa ayah dan bunda marahan sama seperti daddy dan mommy Chiro?"


"Tidak, kami tidak marahan, hanya saja memang kami tidak bisa bersama."


Oke, memang paling sulit menjawab pertanyaan dari anak-anak dari pada menjawab pertanyaan guru atau dosen.


Salah jawab bukan hukuman atau nilai jelek yang didapat, tapi akan mempengaruhi anak-anak itu sendiri.


Radhi dan Raine lalu melihat Chiro, lalu memeluk Chiro.


"Orang tua kita sama Chiro, mereka juga marahan."


"Iya, tapi Chiro lebih kasihan dari kita. Kita masih punya mama Vio, sedangkan Chiro tidak punya."


Arby dan Freya langsung memalingkan wajah mendengar perkataan di kembar yang terlalu polos itu. Mereka yang ada di tengah-tengah dua keluarga gagal itu, merasa serba salah.


"Kalau seperti ini, aku jadi takut untuk menikah," celetuk Letta.


"Kalau begitu tidak usah menikah saja, sama seperti aku," jawab Monic yang juga ceplas-ceplos.


Permasalahan orang lain, akan membuat yang lainnya merasa takut dan trauma.


"Jangan asal bicara kalian berdua," ucap Ikmal.

__ADS_1


Freya sendiri kembali terlihat merenung, kemudian menghela nafas berat. Dia selalu menjadi tempat untuk curhatan orang-orang di sekitarnya, sedangkan dia sendiri tidak pernah curhat selain hal-hal yang umum saja.


Tidak lama kemudian, dia tertidur di sofa, dan langsung didekati oleh Arby yang mengambil kesempatan untuk memeluknya, membuat mereka mendegkus.


"Dasar licik!" ucap Marcell


"Enggak licik enggak akan berhasil."


Arby lalu mengambil ponselnya, kemudian meletakkan kepala Freya di pundaknya.


Cekrek


Satu foto dia ambil, saat Freya bersandar di pundaknya. Pria itu tersenyum puas.


Cekrek


Cekrek


Foto berikutnya, Arby mengarahkan bibir Freya ke pipinya. Pria itu terkikik geli.


Ya ampun, makhluk seperti apa yang ada di hadapan mereka ini?


"Dasar tidak tahu malu!" ucap Monic.


"Bodo amat. Daripada aku merana kaya si Marva. Bego sih, dia. Makanya kamu harus banyak belajar dari aku Marva!"


Rei yang mendengarnya langsung merinding. Jangan sampai Marva belajar hal seperti ini dari si biang mesum Arby.


Dan ingatkan dia juga, kalau suatu saat nanti dia mengantuk, langsung masuk kamar dan menguncinya.

__ADS_1


Lalu saat Arby ingin menempelkan bibirnya di bibir Freya, perempuan itu membuka matanya karena merasa terusik.


Deg deg deg


Jantung Arby sudah berdetak sangat kencang, takut kena tabok.


"Ngapain kamu?"


"Enggak, enggak ngapa-ngapain. Memangnya aku ngapain?"


Biasa, pura-pura polos.


"Jangan macam-macam kamu, ya."


"Enggak lah, masa iya aku mau macam-macam sama kamu, apalagi kamu lagi tidur. Di sini kan juga ramai."


Cih, dasar pembual. Enggak macam-macam jidatmu! Batin mereka.


"Kamu tidur di kamar saja, Nay," ucap Monic yang menahan tawa.


"Di sini saja mommy Chiro, kasihan kan Chiro masih ingin main sama kamu."


Pintar banget alasannya.


Si pria menyebalkan itu menaik turunkan alisnya pada Marva, sambil diam-diam memamerkan foto-foto ilegal itu pada mereka.


"Arby Erlangga is the best," ucapnya sambil menepuk dada dengan bangga.


Licik kok bangga? 🤣

__ADS_1


__ADS_2