
"Aku akan menikahi Rei."
"Apa?"
"Aku akan menikahi Rei."
Vio bukannya tidak mendengar, hanya saja dia tidak mau percaya dengan apa yang dia dengar.
Vio langsung ke luar kamar. Dia tidak mau mendengar perkataan Marva selanjutnya. Dia pergi ke kamar si kembar, memeluk dua anak itu dengan erat.
Di dalam kamarnya, Marva juga menghela nafas berat. Dia sudah memikirkan keputusan ini dengan baik. Dia memang tidak tahu apakah Rei akan menerimanya atau tidak, tapi dia akan berusaha agar Rei mencintainya.
Dia mengambil foto si kembar yang ada di atas nakas. Dipandangnya wajah Radhi yang sangat mirip dengan Rei.
Dia selama ini lebih sering menggendong Radhi. Bukan karena dia lebih menyayangi Radhi karena Radhi laki-laki.
Tapi Radhi akan selalu membuatnya teringat dengan Rei.
Saat dia mencium Radhi, seolah dia sedang mencium Rei.
Waktu dia memeluk Radhi, seolah dia sedang memeluk Rei.
Ketika dia berbicara dengan Radhi, seperti dia sedang bicara dengan Rei.
Ya, dia memang mencintai Rei.
Bahkan sudah sejak lama.
__ADS_1
Mungkin jatuh cinta pada pandangan pertama.
Dia bisa saja menolak menyentuh Rei dan memberikan uang secara gratis untuk pengobatan nenek Rei. Tapi dia tidak melakukan itu.
Alasannya simple.
Karena dia ingin punya anak dengan Rei.
Dia yang memang ingin mengikat perempuan itu selamanya.
Dia menutup rapat semua itu dalam-dalam, tidak ingin ada yang tahu. Tapi tentu saja mereka tahu, para sepupunya menyebalkan tali baik itu tahu.
Bahkan ....
Freya tahu
Seperti yang Freya katakan, perempuan itu tahu lebih banyak dari yang mereka kira.
Bukan karena takut pada Frans.
Bukan karena tidak berani menentang Carles.
Bukan juga karena merasa tidak enak hati dengan Viola.
Tapi karena mamanya.
Dia menyayangi mamanya, tidak mau membuat keributan dan kehancuran keluarga karena masa lalu.
__ADS_1
Tidak ingin tragedi buruk itu terjadi kembali.
Bahkan sebelum Rei melahirkan, Marva sudah menyiapkan tempat tinggal lain untuk Rei, sudah menyiapkan kuliah untuk perempuan itu dari hasil usahanya sendiri, bukan dari pemberian Frans. Hanya saja dia memang bingung mengatakannya pada Rei. Dia mau perempuan itu bisa menerima dia sebagai suami yang sesungguhnya, bukan karena perjanjian untuk kesembuhan neneknya. Dia ingin selalu tidur dan menemani Rei, tapi harus berbagi waktu dengan Vio. Selain karena tanggung jawab, juga tidak ingin Rei stres karena Vio yang cemburu.
Semua sudah Marva rencanakan dengan sangat baik untuk masa depan Rei.
Lalu ....
Saat dia pulang ke mansion untuk mengajak Rei bicara, agar tetap melanjutkan pernikahan mereka meski nantinya semua orang menentang ....
Dia pergi
Hanya meninggalkan sepucuk surat sebagai tanda perpisahan.
Meninggalkan dia dan anak-anak mereka.
Meninggalkan satu kenangan yang saat Marva melihatnya, akan selalu membuat dia teringat dengan Rei.
Dia melarang asisten rumah tangga untuk membuang barang-barang Rei yang masih ada di kamar itu.
Semuanya masih utuh.
Masih di tempat yang sama.
Agar kenangan itu tidak hilang.
Saat Vio berasa di luar kota atau luar negeri, dia akan tidur di kamar Rei. Tidur di kamar yang penuh kenangan. Melihat ke meja belajar, seolah dia sedang melakukan flashback saat Rei belajar.
__ADS_1
"Kak Marva ...."
Panggilan yang selalu Marva rindukan dari suara lembut berwajah sendu itu.