
"Jangan melewati batas, Marva."
"Aku tidak pernah melewati batasku. Aku mencintai ibu dari anak-anakku. Yang melahirkan dan memberikan aku darah daging. Apa nanti kalian juga akan melarang anak-anak aku menyayangi ibu kandung mereka? Apa papa akan melarang aku menyayangi mama?"
Mereka diam.
"Jawab Pa, apa Papa akan melarang aku menyayangi mama?"
"Tentu saja tidak."
"Jadi tidak ada bedanya, kan?"
"Kamu tidak boleh bersama apalagi menikahi perempuan itu!"
"Memangnya kenapa?"
"Karena kamu sudah punya istri."
"Dulu juga aku sudah punya istri, tapi dipaksa menikah lagi. Tidak masalah kan kau sekarang aku kembali memiliki dua istri."
Mereka tidak habis pikir dengan Marva. Kenapa dia bisa seperti ini. Apa ada seseorang yang mempengaruhinya?
"Apa ini karena Freya?" tanya Viola.
"Kenapa bawa-bawa Freya?" tanya Marva.
"Apa kamu terpengaruh dengan perkataannya?"
"Jangan menyalahkan Freya, Vi. Dia bahkan tidak tahu apa-apa. Kalau Arby mendengar ini, bisa habis kamu dicincang sama dia!"
__ADS_1
Di kembar yang mendengar keributan di luar sana, langsung keluar dari kamar mereka.
"Kamu jangan bersikap seenaknya saja, Marva!" bentak Frans.
Di kembar ketakutan, lalu turun menghampiri ayahnya yang sedang dimarahi.
"Eyang, jangan memarahi ayah." Si kembar menangis dalam pelukan Marva.
"Sayang, ayo masuk ke kamar lagi," bujuk Vio.
"Enggak mau Mama, nanti Eyang memarahi ayah lagi."
"Radhi, Raine, masuk kamar!" perintah Frans.
Radhi dan Raine semakin mempererat pelukan mereka pada Marva.
"Eyang bilang cepat masuk kamar!"
Di kembar sesenggukan, takut dengan keadaan yang terjadi. Mereka tidak tahu kenapa eyang mereka marah pada Marva.
Marva yang tidak tega, langsung menggendong keduanya.
"Aku rasa penjelasan aku sudah cukup. Ayo anak-anak, jangan menangis lagi, kita ke tempat Chiro, ya."
"Kamu mau ke mana?"
"Kan aku sudah bilang, aku mau ke tempat Arby, di sana ada Chiro."
"Ke tempat mereka atau ke tempat perempuan itu?"
__ADS_1
"Kalau tidak percaya, nanti kalian tanyakan saja aku sudah sampai tempat mereka atau belum. Tapi ide kakek bagus juga, mungkin aku harus ke tempatnya (Rei)."
"Marva, jangan pergi. Ayo kita bicara baik-baik."
"Kita sudah bicara Vi, kalau mau lanjut nanti saja. Kasihan anak-anak."
"Jangan pisahkan aku sama anak-anak."
"Siapa yang mau memisahkan kalian, aku kan hanya membawa mereka ke tempat Chiro. Jangan bikin kesal, deh!"
Marva langsung masuk ke mobil, meninggalkan rumah itu.
Dia sudah sangat lelah, tapi tahu tidak bisa menghindari masalah ini. Lebih cepat tahu juga lebih baik, kan.
Dia juga tidak mau punya masalah hidup seperti ini, tapi namanya takdir siapa yang bisa mencegah?
Dia juga mau jalan hidupnya normal-normal saja. Tapi ya sudah, lah. Terima dan jalani saja semuanya.
Dia juga tidak tega dengan Viola. Tapi lebih baik sakit sekarang daripada harus terus berbohong.
Dia juga ingin merasakan ketenangan, tanpa ragu memilih apa yang ingin dia pilih.
Seperti yang dia katakan, salah sendiri kakeknya menghadirkan Rei dalam kehidupan mereka, tanpa berpikir kemungkinan terburuk dari semua ini.
Vio dan Rei.
Kalau dia memiliki dua istri, apa mereka akan akur?
Sepertinya tidak mungkin.
__ADS_1
Setiap hari dia juga bisa habis dimarahi oleh Freya.