Mother

Mother
46 Dunia Milik Bertiga


__ADS_3

Marva belum pernah merasa jantungnya seberdebar ini. Saat mengikuti ujian nasional, sidang skripsi, pertama kali bertemu dengan rekan bisnis ... tidak ... rasanya tidak semenakutkan ini.


"Bagaimana bayi-bayi itu? Keduanya selamat, kan?" tanya Frans langsung.


"Kedua bayi itu selamat, meski kondisinya sangat lemah dan perlu penanganan lebih lanjut. Mereka laki-laki dan perempuan. Untuk kondisi ibunya ...."


Deg


Deg


Deg


Jantung Marva semakin berdetak kencang, takut mendengar kabar yang akan disampaikan oleh dokter.


"Ibunya juga selamat, namun kondisinya kritis, dan sekarang dalam keadaan koma ...."


Entah Marva harus merasa lega atau sedih. Dia lega karena Rei selamat, namun juga sedih karena Rei harus mengalami koma.


"Kami akan segera memindahkan Rei ke ruang ICU."


Tidak lama kemudian perawat membawa bayi-bayi itu ke ruang khusus untuk bayi prematur. Marva mengkuti perawat tersebut untuk melihat anak-anaknya.

__ADS_1


Setelah sampai di ruangan bayi, Marva kini dapat melihat jelas wajah anak-anaknya. Marva benar-benar merasa takjub melihat wajah anak-anaknya. Bagaimana tidak, wajah anak laki-lakinya sangat mirip Rei, sedangkan wajah anak perempuannya sangat mirip dia, padahal mereka kembar.


"Yang lahir duluan siapa?" tanya Marva.


"Yang laki-laki, Tuan."


"Boleh aku menggendong mereka sebentar?"


"Tentu saja."


Perawat lalu mengarahkan Marva untuk menggendong anak-anaknya. Dia kemudian mengazani anaknya satu persatu. Marva memandang lekat-lekat wajah anak-anaknya, lalu ke luar.


"Mereka tampan dan cantik."


Seulas senyum terpampang di bibir Marva. Yang lain juga tidak sabar melihat penerus keluarga Arthuro itu.


Setelah Rei dipindahkan ke ruang ICU, Marva langsung melihat keadaannya. Dia melihat wajah pucat ibu dari anak-anaknya itu, yang sudah memberikan sepasang anak sekaligus, yang membuat hidupnya jadi lebih sempurna terutama sebagai laki-laki dan suami.


Karena tidak bisa berlama-lama berada di ruangan ICU itu, Marva lantas ke luar. Dilihatnya kini tidak ada siapa-siapa. Mungkin saja yang lain berpikir melihat pewaris Arthuro lebih penting dari Rei. Bukankah tadi dia juga seperti itu? Lebih dulu memilih melihat anak-anaknya.


"Lihat wajah mereka, mereka kembar tapi tidak identik, ya?"

__ADS_1


"Benar, yang perempuan sangat mirip dengan Marva, tapi kenapa yang laki-laki sangat mirip dengan perempuan itu?"


Perempuan itu ....


Tidak ada yang mengatakan mirip mamanya. Mungkin saja karena mereka tidak ingin mengakui bahwa pewaris keluarga Arthuro lahir dari rahim istri kedua yang dikontrak, bukan dari istri pertama yang diakui.


Sementara itu, Viola memejamkan matanya sesaat, kemudian kembali melihat bayi-bayi yang akan menjadi anak-anaknya kelak.


Kenapa harus ada jejak perempuan itu di wajah anak Marva?


Pagi menjelang, keheningan menyelimuti ruang ICU yang memiliki ruang tunggu untuk keluarga, itu. Marva melihat keadaan Rei sebentar, lalu melihat bayi kembarnya.


Sementara itu ....


Dua anak kecil, laki-laki dan perempuan sedang asik bermain di sebuah taman yang sangat indah. Di dekat mereka, ada perempuan cantik yang sedang mengawasi. Wajah salah satu dari anak itu, sangat mirip dengan perempuan yang menjaga mereka. Senyum bahagia terpancar dari ketiganya.


"Bunda, ayo kita bermain?" ajak si anak laki-laki.


"Ya, Sayang."


Ketiganya asyik bermain, bernyanyi, dan melakukan segala hal yang menyenangkan. Rasanya tidak ada beban apa pun saat berada di tempat ini. Tidak ada yang mengganggu, tidak ada perasaan sedih apalagi takut. Dunia seolah milik mereka bertiga. Di sini, tidak ada yang memisahkan mereka, mereka akan selalu bersama. Benar, kan?

__ADS_1


__ADS_2