Mother

Mother
157 Mungkin Freya


__ADS_3

Saat mereka tiba di parkiran, Freya sudah tidak ada lagi.


"Chiro mau menyusul mommy, Daddy."


"Sayang, dengar Daddy. Mommy sekarang harus kerja, mau menyembuhkan banyak orang sakit. Nanti kalau kita ke sana, kasihan mommy tidak bisa konsentrasi. Lagi pula, nanti di sana, banyak virus dan bakteri. Nanti Chiro sakit. Kita di sini saja, ya."


"Iya deh, kan tadi kata mommy, Chiro harus nurut apa kata daddy. Tapi jangan lupa telepon mommy ya, Daddy."


"Iya."


Yang praktek akhirnya bekerja dengan gelisah.


"Kamu praktek di mana, Cell?"


"Aku sekarang harus ke rumah sakit dulu."


"Habis itu kamu susul ke klinik."


"Oke, tapi habis makan siang aku harus kembali lagi ke rumah sakit."


"Ya sudah, enggak apa."


Rei berusaha bekerja dengan konsentrasi. Dia lalu menghubungi Agam.


[Agam, kamu tugas ke klinik?]


[Iya, tapi enggak bisa lama, karena sore ada operasi di rumah sakit.]


[Tolong bantu Freya, ya.]


[Iya, tenang saja. Nanti juga Valdo akan ke sana.]

__ADS_1


Hati itu menjadi hari sibuk untuk mereka. Dokter yang bekerja di rumah sakit besar lainnya, juga ikut membantu di klinik setelah tugas mereka di rumah sakit selesai.


Freya juga susah dihubungi sejak tadi, karena dia memang sangat sibuk. Tapi dari berita yang mereka dengar dari dokter lain, keadaan saat itu memang sibuk.


Waktu semakin sore, Rei teringat dengan Radhi dan Raine, ingin menghabiskan malam tahun baru bersama mereka. Tapi keadaan memang tidak memungkinkan, selain karena dia sibuk bekerja, juga pasti anak-anaknya menghabiskan waktu bersama Marva dan Vio.


Jalanan sore itu sangat macet. Banyak pedagang terompet, petasan dan kembang api.


Selepas Magrib, Rei baru selesai bekerja. Sesampainya di apartemen, belum ada yang pulang satu orang pun. Rek akhirnya memilih untuk makan mie instan saja. Mau memasak pun, takutnya mereka sudah makan di luar.


Tidak lama kemr, Rei ketiduran.


Lalu terdengar suara pintu dibuka.


Mungkin Freya.


Tidak tahu waktu sudah berlalu lama atau masih baru, terdengar lagi suara pintu.


Terdengar suara orang yang mengobrol.


Mungkin Freya.


Tidak tahu sudah berapa banyak dia menggumamkan kata-kata itu.


"Rei, Rei bangun! Bangun Rei, buruan!"


"Apa?" Rei tersentak dari tidur ayamnya.


Dilihatnya Monic, Letta dan Zilda yang juga terlihat kacau.


"Kamu dihubungi sama Naya?"

__ADS_1


"Freya? Sepertinya tidak. Coba aku lihat ponsel dulu."


Rei lalu memeriksa ponselnya.


"Enggak ada. Memangnya kenapa?"


"Coba kamu tanyain Naya ke yang lain. Kita bagi tugas."


"Me ... memangnya ada apa, sih?"


Tidak ada yang menjawab.


Sudah lewat dari tengah malam.


Rei lalu menghubungi Agam.


"Ya, kenapa Rei?" suara Agam terdengar serak.


"Naya ada sama kamu?"


"Naya? Enggak, terakhir kali aku ketemu sama dia, sebelum jam makan siang. Memangnya kenapa?"


"Coba kamu tanya sama yang lain tentang Freya, eh Naya."


"Aku telpon Valdo sekarang. Nanti aku kabari kamu."


Akhirnya telepon itu sambung menyambung, dari dokter yang satu ke dokter yang lain, tapi tidak ada hasilnya.


Mereka tidak ada yang bisa tidur kembali.


"Sebenarnya ada apa, sih?" Dengan perasaan takut Rei bertanya.

__ADS_1


"Freya enggak ada kabar sama sekali. Tadi Arby telepon ...." Monic lalu menceritakan apa yang Arby sampaikan.


__ADS_2