
Mereka diam, terutama Rei.
"Baiklah, aku setuju," jawab Frans. Yujin tersenyum mengejek pada Frans. Sahabatnya itu akhirnya termakan omongannya sendiri.
Marva diam saja, nafasnya sedikit sesak. Dilihatnya Rei dan Vio. Tidak, dia tidak ingin kembali memiliki dua istri. Dia yakin tidak bisa bersikap adil.
"Aku tidak bisa Rei!"
Mereka menatap Marva yang bicara pelan.
"Aku tidak bisa memiliki dua istri untuk yang kedua kalinya. Kalau kamu tidak mau menikah lagi denganku, jangan kamu lakukan. Aku tidak ingin dikasihani. Bisakah kalian keluar!"
Dokter langsung mengambil kesempatan untuk mengusir mereka dari ruangan itu, menutup pintu rapat dan bernafas lega.
"Rei, jangan membuat aku menjadi penghalang kebersamaan kalian. Aku sungguh ikhlas melepaskan Marva, demi kebahagiaannya. Sungguh!"
Berkata ikhlas dan sungguh, tapi dengan suara bergetar. Siapa yang percaya.
Kamu bodoh Marva, melepaskan perempuan yang benar-benar mencintai kamu dengan tulus.
Tapi begitulah hati, logika seharusnya menerima seseorang yang tulus mencintai kita. Tapi kalau hati berkata tidak, siapa yang bisa melakukannya?
Dokter Agam melihat iba pada kedua perempuan itu.
"Tapi ...."
"Jangan mengasihani aku, Rei. Itu akan membuat aku terlihat lebih menyedihkan. Mungkin ini sudah menjadi jalan hidupku. Aku percaya, kalau jodoh, mau sejauh dan selama apa pun orang berpisah, pasti akan bersama juga."
Rei memikirkan baik-baik. Jujur saja, dalam lubuk hatinya dia juga tidak ingin menjadi yang kedua untuk yang kedua kalinya, perempuan mana yang bisa seperti itu? Tapi melihat Marva dan Vio yang berpisah karena dirinya, dia juga cemas.
__ADS_1
Dia takut karma!
Takut kalau suatu saat nanti, Marva juga akan meninggalkan dirinya karena perempuan lain.
Hati siapa yang tahu, kan?
Sekarang cinta, apa besok masih atau menghilang, tidak ada yang pasti.
Rei hanya melihat ini dari Vio dan Marva.
Dulu Marva mencintai Vio, kan?
Lalu kini?
Perasaan itu menghilang, digantikan dengan perempuan lain.
Rei kuat, belum tentu anaknya kuat.
Tapi rasa takut tidak boleh menghantui kehidupan saat ini. Kalau tidak, dia akan tetap berjalan di tempat.
☘️☘️☘️
"Marva, bertahanlah, aku akan menikah denganmu."
Wajah Marva terlihat sendu.
"Apa kamu ikhlas?"
"Ya, aku ikhlas."
__ADS_1
Marva menghela nafasnya. Hati kecilnya juga berontak.
"Bisakah kita menikah sekarang, Rei?"
Rei melihat keluarganya, juga sahabat-sahabatnya.
"Kami akan mendukung kamu, Rei. Yakinlah, Freya juga pasti akan mendukung keputusan kamu," ucap Monic.
Freya, aku akan menikah lagi dengan Marva hari ini, tolong doakan aku.
Yujin menggenggam tangan Marva.
"Marva Gavindra Arthuro ...."
Dalam hati Rei berdoa banyak-banyak. Dia meyakinkan hatinya sendiri kalau ini memang yang terbaik.
Apa yang kamu dapatkan, itulah yan akan menjadi takdirmu.
apa yang kamu anggap baik, belum tentu baik menurut Sang Pencipta, begitu juga sebaliknya.
Ibu, ayah, nenek, aku akan kembali menikah dengan Marva, tolong doakan aku.
"Sah!"
Rei menghembuskan air mata perlahan.
Terjadi lagi, untuk yang kedua kalinya, aku harus menikah di rumah sakit dengan pria yang sama.
Dulu aku menikah dengan Marva, di hadapan nenek yang terbaring sakit. Sekarang, justru suamiku sendiri yang terbaring di atas brankar.
__ADS_1