
Aku mencintaimu, meskipun kamu belum
Aku merindukanmu, meskipun kamu tidak
Aku akan selalu menunggumu, meskipun kamu mengabaikan aku
Tingkat tertinggi dari mencintai adalah mengikhlaskan, katanya.
Tapi mengapa ada saja yang berkata, "Kamu kurang berjuang, atau berjuanglah lebih keras lagi."
Dan itu yang sedang aku lakukan saat ini.
Aku tidak bisa memaksamu untuk mencintaiku
Sama seperti dirinya yang tidak memaksaku mencintainya
Biarkan aku mengikuti kata hatiku, dan bersamamu
Pesan yang Rei baca di atas kotak coklat. Dia ingin bicara dengan Marva, karena hanya dengan mengirimkan pesan saja rasanya tidak akan cukup. Bukan dia menghindar, hanya saja dirinya sangat sibuk. Bahkan sahabat-sahabatnya juga sibuk bekerja. Mereka sibuk mengurus klinik, dan beberapa yayasan sosial yang mereka dirikan.
Rei keluar dari ruangannya, dan melihat ada Delia yang sudah menunggunya.
"Saya mau bicara dengan kamu."
__ADS_1
Mereka menuju kafe depan rumah sakit.
"Langsung saja, sudah sejauh mana hubungan kamu dengan Marva?" Rei mengkerutkan keningnya.
"Tidak sejauh mana-mana. Hubungan kami hanya sebatas orang tua dari Radhi dan Raine saja."
"Kamu dan Marva ...."
"Jangan terus menerus menghakimi saya Nyonya. Saya menghormati Anda sebagai nenek dari anak-anak saya."
"Apa kamu sekarang besar kepala karena sudah mendapatkan saham dua puluh persen itu dari rasa kasihan Freya."
"Tidak. Ini tidak ada hubungannya dengan saham itu."
"Kalau begitu kembalikan kepada kami."
"Apa harta yang kamu inginkan?"
"Jika harta yang saya inginkan, sudah sejak lama saya melakukannya. Saya pergi dari kediaman kalian tanpa membawa apa-apa. Bisa saja saya merayu Marva untuk memberikan apa yang saya mau. Bukankah sudah berkali-kali dia mengajak saya rujuk? Anda sebagai ibunya pasti sudah tahu itu."
Delia menatap perempuan muda yang ada di hadapannya. Perempuan ini sudah jauh berbeda. Dulu, dia akan menundukkan wajah, bicara dengan pelan bahkan akan sedikit bicara.
Ya atau tidak, dulu hanya itu yang perempuan itu katakan jika ditanya.
__ADS_1
Mereka saling menatap, cukup lama dan dalam. Rei tidak mau mengalah, dan terus memandang mantan mertuanya itu.
Mertua yang dulu selalu terlihat datar kepadanya.
Delia melihat mata Rei. Dia mungkin belum pernah terlalu memperhatikan Rei selama tinggal bersamanya dulu. Yang jelas perempuan ini terlihat lebih dewasa, memperkuat kecantikannya.
"Menikahlah dengan pria lain!"
"Anda tidak berhak mengatur saya, Nyonya. Hubungan kita hanya sebatas mantan mertua dan menantu. Lebih baik Anda urusi saja menantu asli Anda dan suaminya itu. Jangan terus menerus mengusik saya seolah saya ini perusak rumah tangga orang, atau saya bisa benar-benar merusak rumah tangga mereka!"
Entah karena kesal yang sudah di ubun-ubun, Rei sampai berkata seperti itu.
"Kamu mengancam saya?"
"Tidak. Saya sibuk, tidak ada waktu luang untuk mendengar omong kosong dari keluarga kalian. Ingat, kalianlah yang terus menerus mendatangi saya, dan mengganggu ketenangan saya, bukan saya yang mendatangi kalian dan membuat hidup kalian kacau. Ingat, siapa yang menanam, dia yang menuai!"
Rei mengambil tasnya dan pergi begitu saja. Delia diam, inikah perempuan yang dulu pernah tinggal bersamanya? Perempuan polos yang dulu sudah tidak ada lagi. Delia menatap Rei yang menyebrang jalan melalui kaca, dan berpikir banyak mengenai pertemuannya dengan Rei hari ini.
.
.
.
__ADS_1
Mungkin kalo tamat aku mau bikin cerita ini. Kalo jadi. Bukan cerita yang ada hubungannya sama mereka. Tapi para tokoh baru, ya.