Mother

Mother
180 Nasehat Dokter Agam


__ADS_3

Setiap hari Marva mengajak anak-anaknya untuk jalan-jalan. Dia tidak memikirkan di sana keluarganya panik mencari keberadaannya. Di tempat ini, dia banyak merenung. Memikirkan masa depan anak-anaknya, dan dia sendiri.


Di sana, Rei merindukan anak-anaknya. Berkali-kali dia memeriksa ponselnya.


Tidak ada pesan dari Marva.


Biasanya pria itu selalu memberikan pesan untuknya, sekedar bertanya sudah makan atau belum, jangan lupa makan, aku akan menjemput kamu bersama anak-anak.


Rei menghela nafas.


Tidak ada Marva berarti tidak ada anak-anak.


Rei menatap mejanya yang kosong, biasanya meja itu akan ada bunga atau coklat.


Dia menghela nafas.


Kenapa dia harus terjebak keadaan seperti ini?


Dalam hidupnya, dia ingin menikah sekali seumur hidup. Kalau bisa, tidak pernah ada kata perpisahan. Siapa sih yang mau menjadi janda?


Rei meremas tangannya. Memikirkan anak-anaknya.


Bukan hanya Marva dan anak-anaknya, bahkan Vio juga kayanya tidak ada kabar, tapi mereka juga katanya tidak bersama, karena Vio sudah lebih dulu menghilang.

__ADS_1


Menghilang


Sama seperti dirinya dulu.


Rei kembali merenungkan semuanya.


Dia teringat masa kecilnya tanpa kedua orang tua, dan hanya dibesarkan oleh neneknya saja.


"Kamu terlihat kacau," ucap Agam.


Karena melamun, Rei sampai tidak sadar Agam masuk ke dalam ruangannya.


"Kalau kamu jadi aku, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Rei. Agam adalah orang kedua yang membuatnya nyaman bicara setelah Freya.


"Mau seperti apa pun menghindar, kalau jodoh ya tetap saja jodoh. Kalau tidak berjodoh, mau dikejar sampai kapan pun, tetap akan lepas. Pernah tidak kamu berpikir, mungkin Tuhan mentakdirkan kamu menjadi dokter, karena ingin kembali mempertemukan kamu dengan Marva, melalui Naya."


Deg


Rei tertegun


"Dari sekian banyak negara, kenapa malah ke sana, yang ada Naya? Kenapa harus dokter? Padahal masih banyak pekerjaan mulia untuk membantu orang susah."


"Mungkin karena kisah kamu dan Marva belum benar-benar usai."

__ADS_1


Agam menghela nafas sebentar, lalu kembali bicara.


"Kamu juga tidak bisa seumur hidup menghindari Marva, ada anak-anak di antara kalian."


"Aku tidak pernah menghindar."


"Kalau begitu, hadapi semuanya. Aku akan selalu ada di sisimu."


Agam mengecup kening Rei, dan mengusap punggungnya, memberikan kekuatan untuk perempuan itu.


"Ayo kita makan. Jangan sampai nanti saat anak-anak kembali, kamu sudah sangat kurus."


Rei melangkah bersama Marva. Di lobby, mereka bertemu dengan Delia dan Elya. Jika Elya masih tersenyum pada Rei, maka Delia diam saja.


Delia dan Elya melihat dokter Agam yang tiba-tiba menggenggam tangan Rei. Melihat itu, Delia menjadi tidak suka.


Tapi kenapa dia tidak suka?


Seharusnya dia bersyukur kan, kalau Rei bersama pria kain, jadi tidak akan mengganggu Marva lagi.


Mungkin saja dia tidak suka karena, di saat Marva dan anak-anaknya menghilang, perempuan ini malah mesra-mesraan bersama orang lain.


Mesra menurut Delia, tapi bagi Elya, itu terlihat biasa saja.

__ADS_1


Orang yang sedang kesal hatinya memang sensitif. Apa saja selalu dianggap salah.


__ADS_2