Mother

Mother
105 Keputusan Marva


__ADS_3

Masih lama dari jam pulang, tapi Marva sudah menjemput anak-anaknya.


"Kenapa, Ayah? Kan baru jam segini, kami masih lama pulangnya."


"Ada yang mau ayah sampaikan pada kalian."


Marva mengajak anak-anaknya ke salah satu restoran. Memilih ruangan VIP agar pembicaraan mereka tidak ada yang mendengar.


Marva menarik nafas dalam-dalam, dan menghembuskannya secara perlahan.


"Begini anak-anak. Mulai sekarang, belajarlah untuk memanggil aunty Rei dengan panggilan bunda."


Radhi dan Raine melihat Marva, seperti sedang berpikir.


"Kenapa kami harus memanggil aunty Rei, bunda?"


Marva tidak langsung menjawab. Semua ini tidak bisa diceritakan begitu saja. Mereka masih kecil, akan ada banyak pertanyaan yang menjalar. Jawaban yang satu akan memberikan pertanyaan yang lain.


"Itu karena bunda Rei sangat baik dan sayang pada kalian."


"Apa kita juga akan memanggil aunty Freya, Monic, Letta dan Zilda dengan panggilan bunda. Mereka juga baik dan sayang pada kami."


Tuh, kan. Jawaban sebelumnya akan menjadi pertanyaan berikutnya.


"Ini berbeda. Sayangnya aunty Rei berbeda dengan para aunty yang lain. Kalian mau kan, memanggil bunda pada aunty Rei?"


"Mau."


"Tapi panggil bunda kalau kalian sedang bertiga saja. Kalau ada orang lain, tetap panggil aunty. Jangan ceritakan apa yang ayah katakan ini pada orang lain, terutama mama, eyang, kakek dan nenek."

__ADS_1


Lagi-lagi si kembar diam, tapi mengangguk juga.


"Kalian bisa pelan-pelan belajar memanggil bunda. Ayah tidak memaksa kalian untuk langsung memanggilnya seperti itu."


"Apa bunda Rei akan senang kalau kami memanggilnya bunda?" tanya Radhi.


Marva tersenyum, melihat Radhi yang cepat tanggap dengan apa yang dia katakan.


"Tentu saja. Bunda akan sangat senang kalau kalian memanggilnya bunda. Apalagi bunda sangat sayang dengan kalian. Kalian adalah yang paling bunda sayang di dunia ini."


"Benarkah?" tanya Raine. Matanya terlihat berbinar.


"Tentu saja benar. Bunda sangat sayang pada kalian."


"Kami juga sangat sayang pada bunda. Benarkan, Radhi?"


Marva bernafas lega.


Lega karena sudah melakukan ini.


Lega karena ini berjalan cukup lancar.


Entah kenapa dia melakukan ini.


Apa karena tidak ingin nantinya disalahkan oleh anak-anaknya karena menutupi ini dari mereka?


Atau karena ingin bersikap adil pada Rei?


Atau karena ingin jaga-jaga kalau nanti dia akan bersama Rei, dan menyiapkan anak-anaknya sejak sekarang untuk menerima perempuan lain sebagai ibunya, meski sebenarnya memang Rei adalah ibu kandung mereka.

__ADS_1


Atau karena ini cinta?


Cinta?


Apa ini salah satu bukti kalau Marva mencintai ibu dari anak-anaknya itu?


Marva tidak mau menjadi pria yang jahat.


Bersikap egois karena ... dan seperti ... papa dan mamanya.


Marva tidak mau nanti balasan menimpa anak-anaknya yang tidak bersalah.


Dia punya anak laki-laki.


Dia juga punya anak perempuan.


Maafkan aku, ma. Tapi aku rasa inilah yang terbaik.


Marva teringat mamanya. Ada perasaan bersalah pada perempuan yang melahirkannya itu.


Tanpa sadar air matanya mengalir. Biar saja dia dianggap cengeng dan lemah jika ada yang melihatnya seperti ini, karena mereka tidak tahu seberat apa beban yang harus dia tanggung sejak dulu.


"Ayah menangis?" tanya Raine.


Bocah perempuan itu lalu mendekati Marva, dan mengusap air mata Marva.


"Tidak, ayah hanya sedang bahagia saja karena kalian sayang dan mau memanggil bunda pada bunda Rei."


"Jangan menangis lagi, Ayah. Kami janji akan selalu sayang pada Ayah dan bunda."

__ADS_1


__ADS_2