Mother

Mother
174 Mico Yang Menyebalkan


__ADS_3

Dalam cinta, apa pun bisa dihalalkan. Apa benar begitu?


Terserah orang mau berkata apa, toh mengikuti kemauan mereka tidak akan pernah menjamin kebahagiaan kita selanjutnya.


Hati kita bukan hati mereka.


Pikiran kita bukan pikiran mereka.


Dan tubuh kita bukan tubuh mereka.


Jika mereka saja tidak peduli dengan kita, lalu untuk apa kita peduli dengan mereka?


Seharusnya sejak dulu saja aku egois.


Bangsat!


Sialan!


Brengsek!


Marva terus saja memaki, tapi rasanya tetap saja tidak pernah puas. Dia segera pergi ke rumah sakit, mungkin saja jika melihat Rei, suasana hatinya bisa membaik.


Namun yang terjadi sebaliknya. Bukannya merasa senang, tapi hatinya semakin buruk. Dia melihat Rei yang merangkul lengan dokter tampan itu.


Mereka terlihat bahagia, mereka punya binar mata yang sama.


Apa aku harus memanfaatkan anak-anak kami untuk bersamanya?


Sisi egois Marva tentu saja datang.


Sudah cukup selama ini aku selalu mengalah.

__ADS_1


Kaca mobilnya diketuk, dan Marva melihat Mico berdiri di sebelah mobilnya.


"Kamu sama Vio saja, sudah. Biar Rei sama aku."


Marva menatap kesal pada Mico. Apa karena tidak bisa lagi mengganggu Arby karena keadaan pria itu yang masih bersedih, sekarang dirinya yang menjadi sasaran?


Pantas saja Arby sangat kesal padanya!


Mico tertawa pelan melihat kekesalan Marva.


"Cari saja orang lain yang bisa kamu ganggu."


"Dan itulah yang sedang aku lakukan saat ini. Apa aku sama Vio saja?"


Mico melihat reaksi Marva.


"Ya jangan sama Vio juga, Mic!"


"Ck, bukan itu! Kamu malah akan memperbanyak masalah lagi sama Vio."


"Kan masalah kalian, bukan masalahku!"


Marva geleng-geleng kepala, kenapa Freya bisa sangat dekat dengan pria menyebalkan ini?


Tapi, semua pria yang ada di dekat Freya memang menyebalkan semua, kan!


"Aku jadi kangen Freya, ucap Marva."


Mico langsung diam. Mereka semua memang merindukan perempuan itu.


"Sebenarnya apa yang Freya katakan dalam surat itu untuk dokter Agam dan Vio?"

__ADS_1


"Bukan urusan kamu!"


"Kenapa sampai sekarang Vio tidak bisa dihubungi juga?"


"Kamu saja yang masih jadi suaminya tidak tahu, apalagi aku! Sejak awal kamu sudah mencari masalah sendiri. Pasti sekarang menyesal, kan?"


"Iya," jawab Marva singkat dan jujur.


"Kamu akan selalu terlihat seperti pria jahat, meninggalkan istri demi perempuan lain."


"Dan perempuan lain itu adalah ibu dari anak-anakku."


"Kamu tahu enggak, dokter Agam dan Rei itu punya banyak kesamaan. Mereka sama-sama lembut, pembawaannya tenang ...."


"Stop! Jangan buat hatiku semakin buruk, Mic!"


"Aku kan hanya mengatakan yang sebenarnya saja. Ck, kamu dan Arby itu sama-sama panasan orangnya. Padahal dulu kamu tidak begini."


"Kan kamu sudah tahu sendiri kenapa aku seperti ini."


"Kalau aku sih lebih setuju Rei sama dokter Agam."


"Mico! Kamu itu saudara aku atau bukan, sih?"


"Bukan! Sejak kapan aku menjadi saudara kamu?"


Sepertinya pergi ke sini adalah kesalahan besar. Pertama dia melihat Rei dengan dokter Agam. Kedua dia malah bertemu dengan Mico, yang bukannya enak diajak curhat malah bikin emosi.


Apa seperti ini yang dirasakan oleh Arby?


Mico tertawa renyah melihat wajah kesal Marva. Dia memang butuh hiburan, apalagi sejak Freya dioperasi, tidak ... bukan sejak Freya operasi, tapi sejak Freya kecelakaan, mereka belum pernah lagi tertawa.

__ADS_1


__ADS_2