Mother

Mother
75 Berjanjilah


__ADS_3

"Ayah, Ayah, kami mau menemani Chiro pergi menyusul buaya."


"Tapi kan kalian sekolah." Tentu saja Marva pura-pura menolak, agar tidak ada yang curiga.


"Ayah, kami mau ikut ke sana."


Si kembar mulai menangis, Marva meringis, dia tidak tahu apakah anak-anaknya sedang berakting atau tidak, tapi mereka memang terlihat sangat sedih.


"Ya sudah, kita temani Chiro, ya." Marva mengusap kepala kedua anaknya dengan kasih sayang.


"Tidak boleh, aku tidak mengijinkan."


"Jangan begitu dong, Vi. Kasihan sama anak-anak."


"Kasihan sama anak-anak atau sama kamu? Kamu juga mau menemui dia, kan?"


"Jangan mulai lagi, deh. Terserah kamu lah, kamu diamkan saja mereka kalau begitu. Heran, punya istri curigaan terus."


"Ada apa ini?" tanya kakeknya Marva, yang di susul oleh kedua orang tua Marva.


Marva tidak. menjawab, dia langsung naik ke atas, membiarkan Viola yang akan mengahadapi semuanya sendiri.


"Eyang, Kakek, Nenek, kami mau menemani Chiro pergi."


"Pergi, memang Chiro mau pergi ke mana?"


"Chiro mau mengikuti buaya. Kami mau ikut menemani Chiro. Nanti kalau Chiro kesepian di sana, bagaimana?"


"Nanti kalau Chiro sakit, bagaimana? Tidak ada yang mengajak Chiro bermain."

__ADS_1


"Chiro kan tidak punya kakak."


"Juga tidak punya adik."


Radhi dan Raine sahut-sahutan, berusaha meyakinkan semua orang.


"Chiro kan juga cicitnya Eyang. Memangnya Eyang tidak sayang pada Chiro?"


"Kata siapa, tentu saja Eyang sangat sayang pada Chiro, sama seperti kalian." Tentu saja dia sangat sayang pada Chiro, yang anak dari cucunya juga, Arby. Ibunya Arby adalah anaknya.


"Kakek juga, apa tidak sayang dengan Chiro? Chiro kan juga cucu kakek, kan? Nenek juga sayang pada Chiro, kan?"


"Tentu saja, kami juga sayang pada Chiro."


"Jadi kami boleh menemani Chiro, kan?"


Deg


Hati para orang dewasa itu menjadi tidak nyaman.


Di kembar semakin terisak saat tidak ada yang menjawab.


"Ayo Rai, mereka tidak sayang kita."


Juris terakhir yang sering digunakan orang-orang, termasuk anak kecil saat kemauannya tidak dituruti, akan mengatakan tidak sayang.


"Ya sudah, kalian boleh ikut. Nanti biar mama kalian yang menemani."


"Kami sama ayah saja. Mama tadi melarang kami ikut, jadi kami mau pergi sama ayah."

__ADS_1


"Sama mama kalian saja, ya. Ayah kalian kan juga sibuk, banyak pekerjaan."


"Uncle Erlang juga sibuk, tapi mau menemani Chiro. Kan bisa kerja pakai laptop."


"Huft, ya sudah. Kalian pergi sama ayah."


"Hore, makasih Eyang, Kakek, Nenek."


Yes, berhasil, batin Marva yang sejak tadi mendengarkan dari atas.


"Kenapa Kakek, Papa dan Mama mengijinkan mereka?"


"Sudah, biarkan saja. Kamu mau nanti mereka sakit seperti Chiro?"


Viola diam saja. Tentu saja dia tidak akan menang melawan mereka.


Marva, Radhi, dan Raine langsung bersiap-siap. Tentu saja Marva menyiapkan barang-barangnya sendiri, karena Viola masih kesal padanya. Sedangkan keperluan si kembar disiapkan oleh bik Tuti yang merasa sangat bahagia. Dia tahu kalau Rei sudah kembali ke Jakarta, dan sudah bertemu dengan anak-anaknya.


Kamu lah yang paling berhak atas anak-anak kamu, Rei. Bibik doakan semoga kalian bisa bersama selamanya.


"Kami pergi."


Marva dan si kembar masuk ke mobil, yang diiringi tatapan kesal dari Viola. Kalau saja di kembar tidak menemani Chiro yang mau menyusul mommynya, tentu saja dia tidak marah. Dia marah karena tahu di sana juga ada Rei.


"Berjanjilah kamu tidak akan menemui dia."


"Ya mana bisa aku janji begitu, Vi. Kalau Chiro menemui Freya, pasti anak-anak juga minta ikut. Memangnya aku bisa menjamin Rei ada atau tidak? Sudah, aku dan anak-anak mau pergi, jangan malah ajak ribut terus!"


Mereka pergi disertai senyuman dari Marva dan si kembar, namun rasa kesal dari Viola.

__ADS_1


__ADS_2