
"Selamat pagi," sapa Naya pada ketiga bocah yang ada di depannya. Tadi pagi dia dan Rei sudah membuatkan bekal untuk mereka.
"Ini buat kalian."
"Ini untuk kami?"
"Iya. Yang ini untuk Ecan, ini untuk Radhi dan yang ini untuk Raine."
"Ecan? Tapi namanya ...."
"Terima kasih, mommy," putus Chiro.
"Mommy?"
"Iya, ini mommy aku. Ecan kan boleh panggil bu dokter mommy, kan?"
"Iya boleh. Ecan boleh panggil bu dokter mommy."
"Tuh, benar kan. Tapi kalian tidak boleh bilang sama siapa-siapa, ya!"
"Iya," Radhi dan Raine mengangguk cepat.
"Terima kasih buaya."
"Buaya?"
"Iya, buaya."
"Bukan buaya ...."
"Buaya saja, ya buaya?"
Ya ampun Rei, anak-anakmu memanggilku buaya.
Buaya\=bu Aya.
Bukannya marah, Naya malah tertawa geli.
"Ya sudah, terserah kalian saja. Jangan lupa dimakan, ya."
Namun di sekolah itu, semua anak akhirnya memanggil Naya dengan nama buaya.
__ADS_1
"Buaya?" Beberapa teman Naya yang juga ada di sekolah itu tertawa saat mendengar banyak anak yang memanggilnya.
Di taman bermain samping sekolah
"Ini enak," ucap Radhi yang diangguki Raine.
"Iya, punya aku juga enak."
"Tentu saja, ini kan sama."
"Sepertinya beda. Aku coba punya kalian, kalian juga coba punya aku."
Mereka akhirnya bertukar makanan itu, terlihat sama tapi berbeda.
"Hmmm, iya. Sama tapi beda, ya."
"Tidak apa. Ayo makan lagi."
Sore harinya
"Ayah, tadi di sekolah kami makan kue enak sekali."
"Kue?"
"Buaya? Sejak kapan di sekolah ada buaya? Kalian tidak boleh dekat-dekat buaya, itu berbahaya."
"Bukan buaya itu, tapi bu aya. Buaya!"
Marva yang masih bingung, hanya diam saja.
Sementara itu di tempat seminar
Beberapa orang melihat kelima dokter muda yang mengikuti kegiatan itu.
"Seperti pernah melihat yang itu, tapi di mana, ya?"
"Benar, beberapa hari ini memperhatikan mereka, sepertinya pernah melihatnya."
Ada yang memperhatikan Rei dengan teliti, ada juga yang memperhatikan Naya dengan penuh minat.
Naya sendiri juga sama cemasnya dengan Rei, tapi dia pintar menutupinya. Dia tahu, bahkan sangat tahu akan tiba masanya bagi dia dan Rei bertemu dengan masa lalu.
__ADS_1
Mungkin tidak akan lama lagi.
"Kalian datang, ya, ke pernikahan saya. Ini undangannya."
"Dokter Aurel mau menikah?"
"Iya."
"Kami pasti datang, selamat ya, Dok."
Beberapa hari ini Naya tidak datang ke sekolah, karena tidak ada jadwal di sekolah itu, membuat Rei yang sedih karena tidak bisa membuatkan makanan untuk anak-anaknya.
Kamu ngelunjak Rei, punya kesempatan untuk memberikan bekal pada mereka, malah berharap lebih.
Bukan hanya Rei yang lesu, ketiga anak itu juga sama lesunya. Sudah biasa mendapatkan bekal yang enak dan sehat, membuat mereka merasa kehilangan.
"Kenapa buaya dan dokter yang lain tidak ada yang datang?" tanya Radhi pada salah satu guru.
"Oh, dokter Naya dan dokter yang lain sidah selesai bertugas di sini."
"Apa mereka tidak akan datang ke sini lagi?"
"Kalian kangen ya?" Mereka bertiga mengangguk. Dokter itu juga tidak bisa menjawab, takut memberikan harapan palsu pada ketiga anak yang orang tuanya sangat berpengaruh di sekolah itu.
Di mansion Arthuro
"Kalian berdua itu kenapa? Kenapa beberapa hari ini terlihat lesu?"
"Buaya sidah todak datang lagi ke sekolah, jadi kami tidak dapat bekal yang enak-enak lagi."
"Buaya?"
"Iya, kan kami sudah pernah bilang pada ayah. Buaya itu baik dan cantik, masakannya juga enak."
"Siapa dia?"
"Dokter di sekolah."
"Oh, dokter. Ayah kira siapa."
"Memang dokter Aya suka memberikan bekal untuk kalian?"
__ADS_1
"Iya. Enak banget, Yah. Nanti kalau buaya datang dan memberikan kami bekal, kami simpan sebagian untuk ayah. Ayah juga pasti suka."
Marva melihat wajah berbinar pada diri kedua anaknya itu. Entah kenapa dia juga merasa penasaran pada dokter yang disebut buaya oleh anak-anaknya itu.