
Berusaha untuk tidak memikirkan apa yang telah dan akan terjadi, Rei kembali ke ruangannya. Di Koridor, dia berpapasan dengan perawat yang sudah memergokinya dan menyebarkan gosip itu.
Perawat itu menunduk, setelah menyebarkan gosip, ternyata nyalinya juga tidak sebesar itu dan merasa sedikit cemas.
"Siang," sapa Rei dengan ramah, tanpa membahas soal gosip itu.
"Si ... siang, Dok."
Di depan ruangannya, sudah ada Yanti, perawat yang membantunya.
"Dokter sudah kembali."
"Iya. Apa siang ini banyak pasien?"
"Ada sepuluh yang sudah mendaftar."
"Tunggu sebentar lagi, ya."
"Baik, Dok."
Yanti juga terlihat biasa saja. Dia tidak peduli dengan gosip itu, mau itu benar atau tidak. Itu bukan urusannya. Masalahnya saja sudah banyak, kenapa harus ribet mengurusi urusan orang lain?
Setelah melewat setengah hari sisanya dengan lebih tenang, Rei dan Agam pulang bersama, yang kembali menarik perhatian orang-orang.
"Itu dokter Agam kenapa biasa-biasa saja, ya? Kok enggak marah?"
"Mungkin sebenarnya dokter Agam dengan dokter Rei hanya berteman saja."
__ADS_1
"Atau itu hanya gosip, dokter Rei tidak berciuman dengan tuan Marva."
"Kenapa kalian yang ribet? Dokter Agam saja enggak ribet."
"Kita bukannya ribet, tapi kepo."
"Bilang saja kamu iri?"
"Iri karena dokter Agam, atau karena tuan Marva? Dua-duanya kan ganteng."
"Ya ampun, kalian ini. Kerja sana, nanti kena tegur baru tahu rasa."
Sesampainya di mall.
"Kamu mau beli kado apa buat mama kamu?"
"Terserah kamu saja, kamu yang bebas memilih."
"Apa ya? Aku jadi bingung sendiri."
Agam tersenyum melihat wajah Rei yang memang terlihat seperti orang bingung itu.
"Apa yang sangat ingin kamu belikan untuk ibu kamu dulu?" tanya Agam. Mereka kini berjalan saja, tanpa tahu ke mana tujuan pertama mereka.
"Banyak. Dulu aku ingin membelikan ibu makanan yang enak, aku juga ingin membelikan baju baru yang bagus. Sepatu, tas, bahkan emas. Juga bunga. Tidak hanya ibu sih, dulu aku juga mau membelikan barang-barang itu untuk nenek, tapi tidak punya uang. Untuk makan biasa saja sudah syukur."
Agam terenyuh mendengar perkataan Rei.
__ADS_1
"Kalau begitu kita beli saja semuanya."
"Semuanya? Kamu yakin?"
"Aku punya cukup uang untuk membelikan itu, Rei."
"Aku tahu, tapi kamu tidak harus melakukannya hanya karena perkataan aku."
"Bukan karena perkataan kamu. Tapi aku memang ingin menyenangkan mama aku. Kita ke mana dulu sekarang?"
"Cari baju dulu, deh."
Vio melihat Rei dan dokter Agam. Merasa kepo, perempuan itu lalu mengikuti keduanya diam-diam.
"Mama kamu suka warna apa?"
"Warna hijau."
Rei lalu memilihkan dua dress yang bagus.
"Yang ini bagaimana?"
Agam melihat apa yang dipilih oleh Rei, dan langsung mengangguk, karena apa yang dipilih Rei memang sesuai dengan selera mamanya.
"Sekarang tas sama sepatu. Kamu tahu ukuran mama kamu, kan?"
Vio yang mendengar kata-kata mama, langsung berpikir cepat.
__ADS_1
Apa mereka pacaran? Apa hubungan mereka sudah seserius itu? Rei membelikan mama dokter Agam hadiah?
Karena rasa penasaran yang semakin besar, dia terus saja mengikuti keduanya. Sampai akhirnya mereka masuk ke toko perhiasan milik Arby.