
"Del, kamu yakin baik-baik saja?"
Mereka pikir, saking syoknya, jadi Delia bersikap seperti ini.
"Ini hanya mimpi, jadi aku baik-baik saja."
Elya lalu memegang tangan Delia.
"Del, ini bukan mimpi. Ini yang sedang terjadi saat ini. Sadarlah, Del."
Elya lalu mencubit tangan Delia, membuat Elya meringis pelan.
Ceklek, pintu ruangan terbuka. Dokter keluar dengan wajah pucat dan cemas. Dilihatnya orang-orang yang ada di sana.
"Bagaimana, Dok. Dia tidak apa-apa, kan?" Arby langsung mendekati dokter itu, menekan pundaknya dan mengguncangnya.
Dokter itu tidak langsung menjawab.
"Om!"
"Dia ... dia tidak baik-baik saja."
"Maksudnya, apa?" tanya Carles.
"Dia kritis. Maafkan aku!" Dokter langsung menunduk, tidak berani menatap mereka. Dia jadi teringat Freya, lalu menghela nafas berkali-kali.
"Kami ingin melihatnya."
"Tapi ...."
Arby langsung menerobos masuk, diikuti oleh Ikmal, Vian dan Marcell.
__ADS_1
Carles memapah Delia, dan mengajaknya masuk ke untuk melihat keadaan Marva. Delia menyentuh wajah Marva, dan merasakan suhu tubuh anaknya itu. Tangannya bergetar, lalu air mata turun begitu saja.
Wajah Marva dipenuhi luka, matanya terpejam rapat. Lalu Delia mengarahkan telunjuknya ke hidung Marva, dan merasakan nafas anaknya itu.
Ini nyata?
Tidak, ini hanya mimpi!
Bukan, ini memang nyata!
Delia merasakan pergolakan dalam hatinya. Yang dia takutkan akhirnya terjadi.
"Kalian keluarlah, biarkan Marva istirahat!" perintah dokter.
Vio diam saja, tapi air matanya tidak berhenti mengalir. Dia langsung langsung pergi ke rumah sakit begitu mendapat kabar dari Marcell.
Saat mereka akan ke luar, Marva membuka matanya.
"Sayang, katakan pada Mama, kamu akan baik-baik saja, kan?"
"Ma, maafkan aku. Tolong maafkan aku." Air mata Marva menetes.
"Ma, Mama mau kan memaafkan semua kesalahan yang aku lakukan?"
"Jangan bicara terlalu banyak, Marva!"
"Ma, jawab aku! Mama mau kan, memaafkan aku? Memaafkan semua kesalahan aku!"
"Kamu tidak salah Sayang, mama memaafkan semua kesalahan kamu. Mama lah yang seharusnya meminta maaf padamu, mama punya banyak salah. Tolong maafkan mama, ya?"
Delia memeluk tubuh Marva, dapat dia rasakan jantung anaknya itu yang terasa tidak normal, berdetak sangat cepat dengan nafas yang sedikit sesak.
__ADS_1
"Pa, Papa juga mau kan, memaafkan semua kesalahan aku?" Kini Marva menatap Carles.
"Iya, Papa memaafkan semua kesalahan kamu. Kamu adalah anak papa, papa pasti memaafkan kamu. papa juga meminta maaf atas semua kesalahan papa. Kamu haris sembuh, Marva!"
"Kakek, Kakek juga mau kan, memaafkan semua kesalahan aku. Tolong maafkan aku, Kek."
"Kakek memaafkan semua kesalahan kamu, Marva. Jangan banyak bicara dan pikiran, yang penting kamu sehat dulu."
"Syukurlah, sekarang aku bisa tenang. Aku takut tidak memiliki kesempatan lebih banyak lagi."
Mico hanya diam saja melihat itu, dia menggigit bibirnya, melihat keluarga itu saling meminta maaf dan memaafkan. Dia menghela nafas berat, dan juga mengingat Freya.
Lalu Marva melihat Vio.
"Vio, aku juga minta maaf padamu, aku tahu aku punya banyak salah padamu. Tolong maafkan semua kesalahanku."
Vio tidak menjawab, hanya mengangguk. Air matanya terus saja menetes.
"Aku juga," katanya akhirnya, itu kun dengan suara pelan dan bergetar.
Lalu Marva mencari sosok perempuan lain.
"Rei?" tanyanya lirih.
Rei, yang hanya berdiri di depan pintu, kini menjadi pusat perhatian.
"Sini, Rei!" panggil Ikmal.
Rei maju perlahan, air matanya juga tidak berhenti mengalir.
"Rei, maafkan aku. Tolong maafkan semua kesalahan aku."
__ADS_1
Rei pun hanya bisa mengangguk. Mengatur nafas berkali-kali.