Mother

Mother
110 Dukungan Sahabat


__ADS_3

Naya sejak tadi melihat Rei. Ingin bicara tapi tidak mungkin karena ada dokter Agam dan si penyusup Marcell. Rei sendiri tahu sejak tadi dia selalu mendapat lirikan dari sahabat-sahabatnya itu, termasuk Marcell.


Pasti mereka mau bertanya.


"Saya duluan ya, kalian lanjut saja. Biar saya yang traktir." Dokter Agam yang sadar dengan situasi, meninggalkan mereka lebih dulu.


"Makasih ya, Dokter Agam."


"Kamu juga pergi, sana!" ucap Naya pada Marcell.


"Aku masih makan."


"Buruan habiskan."


"Aku juga mau mendengar pembicaraan kalian," ucapnya tanpa basa-basi.


"Apa kalian berciuman?" tembak Naya langsung.


Rei langsung menggeleng, tapi juga mengangguk.


Brak!


Sekali lagi suara dobrakan meja terdengar.


"Kebiasaan nih, Zilda. Lama-lama aku jantungan, Zil."


"Hehehe, maaf. Habis aku gemas, yang benar yang mana? Iya atau enggak?"

__ADS_1


"Dia yang menciumku begitu saja. Sebelum aku sempat mendorongnya, seorang perawat sudah melihat kami."


"Pasti dia tuh, yang nyebarin gosip. Norak banget sih, kaya enggak pernah ciuman saja."


"Memangnya kamu sudah pernah ciuman, sama siapa?" tanya Marcell pada Zilda.


"Ck, kalian berdua jangan merusuh terus, bisa tidak, sih!"


"Kenapa dia tiba-tiba menciummu?" tanya Marcell.


"Kenapa tanya, bukankah sudah jelas?" jawab Naya.


"Apanya yang jelas?"


"Ini nih, makanya kalian ngejar-ngejar cewek yang sama tapi enggak pernah dapat."


"Aku tahu. Tentu saja aku tahu."


"Tapi Marva sialan juga, ya. Sudah punya istri malah seenaknya," lanjut Naya yang kesal.


"Kamu siap-siap saja Rei, dilabrak sama istrinya."


"Apa mereka akan tahu?" tanya Rei.


"Sudah pasti, kamu tidak tahu bagaimana keluarga kami akan selalu mendapatkan informasi," Marcell memberi tahu Rei, karena semua itu memang benar.


"Jangankan mereka, Arby, Ikmal dan Vian saja pasti akan tahu. Apalagi ini terjadi di rumah sakit," lanjutnya.

__ADS_1


"Kenapa kamu tidak langsung cerita padaku, aku kan sidah bilang kalau ada apa-apa harus langsung cerita."


"Kamu kemarin tidak ada, yang lain juga ada di klinik, sisanya juga sibuk. Saat aku pulang, kalian belum pulang. Tadi pagi juga tidak mungkin karena sudah sangat sibuk."


"Benar juga, ya," sahut Letta.


Naya diam saja, dia tahu cepat atau lambat ini akan terjadi.


"Kamu siapkan diri saja Rei, kalau nanti istrinya atau salah satu dari mereka datang. Kalau ada kami, kami bisa menjaga kamu. Tapi kan kita tidak selalu bersama."


"Aku tahu."


"Soal gosip itu, biarkan saja. Nanti juga reda sendiri. Mau dicegah juga sudah terlambat," ucap Monic.


"Iya. Anggap saja kamu artis."


"Tidak semuanya juga peduli dengan gosip itu. Nanti kalau ada gosip tentang mereka, ayo kita ketawa bareng-bareng."


Mereka tertawa mendengar perkataan Zilda.


Rei menghela nafas lega. Dia bersyukur masih memiliki mereka. Marcell, yang bersaudara dengan Marva, juga tidak menghakiminya. Padahalkan bisa saja Marcell menganggap kalau dia sudah merusak rumah tangga sepupunya itu.


"Nanti kamu pulang sama kami saja," ajak Monic.


"Terima kasih, tapi aku sudah punya janji dengan Agam."


"Cieee ...."

__ADS_1


"Agam juga baik, ya. Dia tidak ikut mencibir. Aku kira dia bakalan menjauhi Rei."


__ADS_2