
"Kalau kamu mengalami kesulitan, kamu bisa menghubungi aku langsung, aku akan membantu kamu."
Mico lalu melihat Agam dan Viola. Mereka berdua juga bingung, kenapa ikut dipanggil juga. Mico lalu memberikan surat kepada Agam dan Vio.
"Ini untuk kalian dari Freya. Baca dan diam saja. Jangan beri tahu siapa pun jika ada yang bertanya apa isinya."
Mereka berdua melihat Mico dengan padangan bingung. Dengan tangan bergetar, Vio mengambil surat itu.
"Ingat baik-baik, jangan mengatakan pada siapa pun." Mico lalu menepuk pundak keduanya.
Lalu Mico memberikan surat pada Marva tanpa mengatakan apa pun.
☘️☘️☘️
Brak
Frans menghembuskan nafasnya saat mengetahui kalau saham dua puluh persen itu sudah berpindah tangan.
Kesal?
Iya, dia memang sedikit kesal, tapi justru tersenyum.
Dia memang cerdas juga licik. Dia memang pantas menjadi cucu menantuku. Andai saja dia tidak berpisah dengan Arby, dan andai saja dia mau kembali bersama Arby ....
__ADS_1
Di lain tempat
Rei membaringkan tubuhnya di kamar apartemen Freya. Kasur itu sudah sangat dingin karena sudah lama tidak ditempati. Dia memegang surat pemindahan saham atas namanya dari Freya.
Saham
Untuk apa dia punya saham itu?
Tentu saja dengan saham itu, dia juga memiliki kekuasaan di perusahaan milik keluarga Arthuro itu.
Siapa yang menyangka kalau Freya memang sudah merencanakan ini sejak awal. Memaksa Frans untuk memberikan saham itu, dan jika saatnya tiba, saham itu akan diberikan kepada Rei dengan cuma-cuma.
Agam membaca surat itu di dalam kamarnya. Dibacanya dengan teliti, dan mencoba memahami apa isinya.
Marva membaca surat dari Freya dengan pelan. Sudah beberapa kali helaan nafas berat dia keluarkan, tapi belum juga bisa meredakan gejolak yang ada di hatinya. Dia tersenyum, tapi juga menangis.
Tangan Vio bergetar memegang surat itu. Kata-kata Freya menusuk hatinya. Bukan, bukan karena Freya mengatakan hal-hal kasar, tapi karena isi surat Freya membuatnya terharu. Dia tidak menyangka kalau Freya ternyata memang sangat peduli padanya.
Terima kasih Freya. Kamu memang pantas disayangi oleh mereka. Aku juga mau kamu menjadi adik dan sahabatku. Akan aku ingat semua pesan kamu dengan baik.
☘️☘️☘️
Apa yang terjadi memang bukan hal yang menyenangkan. Mereka kembali beraktivitas, karena hidup masih terus berlanjut bagi mereka yang sehat.
__ADS_1
Hanya saja mereka tidak seceria dulu.
Marva ingin bicara dengan Rei, tapi perempuan itu selalu sibuk. Rei memang menyibukkan diri dengan bekerja. Dia selalu sibuk antara rumah sakit, klinik, juga yayasan sosial yang mereka dirikan.
"Bunda jangan sedih terus," ucap Raine memeluk Rei.
"Kalian sudah makan belum?"
"Kami mau mengajak bunda makan siang bersama."
"Ya sudah, ayo."
Mereka berempat jalan bersama, dengan diiringi tatapan orang-orang. Rei tidak peduli, toh mereka juga sudah tahu tentang Rei dan Marva juga anak-anak itu.
"Bunda makan yang banyak, ingat apa pesan aunty Freya. Nanti kami juga dimarahi oleh Chiro."
Rei tersenyum. Dia senang karena hubungan Chiro dengan Radhi dan Raine sangat baik. Mereka layaknya saudara kandung.
"Bagaimana sekolah kalian?"
"Tidak menyenangkan."
"Karena tidak ada Chiro."
__ADS_1
"Chiro juga memilih home schooling lagi."
"Kami juga mau home schooling saja sama seperti Chiro."