
"Jadi kamu ikut seminar?"
"Iya, aku dan yang lain sangat beruntung karena bisa mendapatkan kesempatan ini."
Dokter Agam sendiri tidak ikut karena sangat sibuk dan harus ke laut kota.
Mereka, keluarga Arby, Marva dan Freya, hanya bisa mendengar. Ingin bertanya, tapi masalah masa lalu yang menghalangi. Bagaikan orang asing yang baru bertemu.
"Setelah seminar selesai, kami akan kembali."
"Kamu tidak mau kembali menetap di Jakarta?"
"Belum tahu, Dok. Kami juga sibuk meneruskan program spesialis."
Waktu tentu saja berlalu, itu berarti akan ada perpisahan.
"Ayo kita pulang, Radhi, Raine."
Rei menatap keduanya, kerasa sedih karena waktu selalu cepat berlalu di saat ada kesenangan yang melanda.
Mereka pergi, dengan membawa separuh nyawa Rei. Freya yang melihat itu, ikut merasakan apa yang Rei rasakan. Doa tahu bahwa sahabatnya itu sedang menahan tangis.
"Ayo. Kalian diam saja dengan apa yang aku lakukan, jangan ada yang protes."
Freya lalu melangkah dengan cepat.
"Sayang, tunggu!" teriak Freya dengan suara lembutnya.
Jantung Arby berdetak kencang, apalagi saat melihat senyum Freya. Dan apa katanya tadi? Sayang?
Freya mendekati mereka, masih dengan senyum cantiknya.
"Sayang ...."
"Ap ...?" Belum sempat Arby selesai bicara, Freya sudah merebut Chiro dari pelukan Arby, tanpa memandang pria itu sama sekali.
__ADS_1
Arby bisa melihat tawa yang tertahan dari sepupu-sepupu sekaligus para sahabatnya itu.
Sialan!
"Ecan cepat sembuh, ya."
"Iya, Ecan sembuh kalau ada Mommy."
"Radhi dan Raine, suka sama bekal yang tante dokter kasih?"
"Suka, suka banget."
"Itu yang buat dokter Rei, loh. Enak, kan?"
"Dokter Rei?"
"Iya, dokter cantik ini yang membuat khusus untuk kalian berdua. Ayo bilang apa?"
"Terima kasih Dokter, Rei."
"Enggak mau peluk dan cium?" hasut Freya. Si kembar dengan polosnya memeluk dan mencium Rei, yang hanya bisa diam tanpa berkata apa-apa.
Tentu saja Rei mau, tapi dia sangat takut.
"Freya!" seru mama Marva.
Freya hanya memberikan tatapan kesalnya pada wanita paruh baya itu.
"Ayo Rei, mereka sedang berterima kasih sama kamu, nanti mekema sedih kalau kamu tidak mau membalas pelukan dan ciuman mereka. Bukan begitu, anak-anak?"
"Iya, bu Dokter."
Rei langsung menghujani mereka dengan pelukan dan kecupan berkali-kali.
"Sehat selalu ya, dan tumbuh dengan baik. Jadi anak yang berbakti dan hormat pada yang lebih tua."
__ADS_1
"Tuh, dengar apa nasehat dokter Rei. Harus berbakti pada orang tua, apalagi seorang ibu yang melahirkan kita. Seperti apa lun ibu kita, tapi kita wajib menghormatinya, dan tidak berprasangka buruk."
Freya mengatakan itu pada si kembar, juga pada Chiro, sambil matanya melirik ibu kandungnya sendiri, yang matanya juga berkaca-kaca. Ingin dia memeluk tubuh Freya, tapi tidak mudah, tentu saja.
"Dia ibu akan selalu menyertai anaknya, meski mereka jauh, dan tetap akan ada ikatan batin."
Lagi, Kata-kata itu bukan hanya untuk menyindir, tapi juga untuk mamanya, juga untuk Chiro. Konflik yang membuat mereka harus seperti ini.
"Ingat, surga anak ada di ...."
"Di bawah telapak kaki ibu," sambung Chiro dan si kembar.
"Good. Anak-anak pintar. Sekarang, Chiro, Radhi, dan Raine masuk dulu ke mobil. Jangan lihat ke luar, ya?"
"Kenapa kami tidak boleh melihat ke luar?" tanya Raine.
"Ayo, tidak boleh membantah perkataan mommy. Surga ada di bawah telapak kaki ibu." Chiro langsung mengajak Radhi dan Raine masuk ke mobil.
Setelah memastikan ketiga masuk ke dalam mobil, Freya mendekati Marva.
Bugh
Bugh
Bugh
Perempuan itu menonjok Marva dengan sangat keras.
"Aku ... mewakili Rei untuk menghajarmu. Dia terlalu baik dan lembut untuk melakukan ini. Jadi biar aku saja yang mewakilinya. Jangan dikira aku tidak tahu siapa ibu kandung si kembar."
Marva terbatuk.
"Tega sekali kalian memisahkan ibu dengan anaknya."
"Jangan ikut campur, Freya." Viola membantu Marva bangun.
__ADS_1
"Cih! Kamu yang tidak bisa memberikan keluarga terkutuk ini keturunan, kenapa perempuan lain yang menjadi korban?"
"Kalian memanfaatkan dirinya yang lemah ...."