
"Si kembar ...."
"Mamanya ...."
Frans dan Marva memberikan jawaban bersamaan namun berbeda. Mereka saling pandang.
"Selamatkan Rei, Dok," jawab Vandra mantap.
"Tidak, selamat bayi-bayi itu!"
"Rei!"
"Bayi-bayi itu!"
"Marva, kamu tidak lupa kan, apa tujuan pernikahan kalian? Untuk mendapatkan keturunan! Kalau kamu mengorbankan anak-anak kamu untuk perempuan itu, semuanya akan sia-sia ... paham kamu?!"
"Tapi Kek, Rei ...."
"Tidak ada tapi-tapian ... selamatkan cicit-cicitku!"
"Tidak, selamatkan Rei. Aku suaminya, aku yang paling berhak menentukan!"
__ADS_1
Deg
Viola merasa nyeri saat Marva mengatakan dia suaminya. Padahal apanya yang salah? Toh semua itu benar, kan? Entahlah, di saat seperti ini dia malah merasa cemburu.
"Apa sekarang kamu memakai hati? Ingat, kalau bukan karena kakek, kalian tidak akan pernah menikah! Selamatkan cicit-cicitku!"
"Ini bukan masalah hati, Kek. Kalau memang bim saatnya aku memiliki anak, ya sudah. Kami masih bisa berusaha lagi, kan!"
"Hentikan perdebatan kalian! Waktuku sangat berharga untuk menyelamatkan banyak nyawa dibanding mendengar masalah keluarga kalian!" hardik dokter yang masih anggota keluarga itu.
"Marva, kamu tanda tangani surat persetujuan sekarang!"
Maafkan aku jika aku memilih ini ....
Dengan tangan bergetar dan kaki yang rasanya tidak mampu menopang berat badannya, Marva menandatangani surat itu.
Marva duduk di depan ruang operasi. Diam mematung tanpa memandang siapa pun. Dia menghela nafas berkali-kali. Dia takut pintu ruang operasi itu terbuka, lalu dokter datang dan mengatakan hal buruk.
Viola sama sekali tidak berani berbicara dengan Marva saat ini. Dia tahu suasana hati suaminya itu sangat buruk, bahkan orang tuanya saja diam.
Jujur saja, di lubuk hatinya yang terdalam, dia kasihan dengan keadaan Rei. Dia memang ingin Rei pergi dari kehidupannya dan Marva, tapi juga iba dengan nasib madunya remajanya itu. Bagaimana kalau dia yang berada di posisi Rei? Sanggupkah dia menghadapi ini semua seorang diri?
__ADS_1
Viola menghela nafas berkali-kali. Apakah sekarang dia harus ikut menyalahkan Frans yang egois? Atau menyalahkan dirinya yang belum memberikan keturunan? Atau justru menyalahkan Marva?
Di dalam ruang operasi, dokter sedang berjuang untuk menyelamatkan ketiganya sebisa mungkin. Dia merasa iba melihat perempuan muda yang ada di hadapannya ini. Dia jadi teringat dengan Freya, yang bahkan umurnya masih lebih muda lagi dari calon ibu ini, yang juga sama-sama menderita di usia muda.
Berjuang dan bertahanlah, demi anak-anak kamu!
Waktu berlalu dengan menegangkan, bukan hanya untuk yang di luar ruang operasi, tapi juga yang berada di dalam.
Saat ini tiga nyawa sedang dipertaruhkan, antara hidup dan mati. Marva benar-benar tidak bisa tenang. Dia terus berharap akan keselamatan semuanya.
Tolong selamatkan mereka semua, doanya dalam hati.
Marva kembali teringat dengan masa-masa kehamilan Rei. Dia tidak tahu apa sudah menjadi calon ayah yang baik. Seharusnya dia lebih peka dengan suasana hati perempuan hamil itu. Dia tahu sebenarnya Rei merasa tertekan tinggal di mansion itu, yang merasa tidak nyaman dengan pandangan Viola yang selalu cemburu dengan Rei. Pada Frans yang terlalu menekannya untuk menjaga cicit-cicitnya yang ada di dalam perut. Pada Carles yang selalu acuh pada Rei, namun tidak dengan calon cucunya, juga pada Delia yang menjadi ibu mertua yang bagi Rei menakutkan. Tidak ada yang menyenangkan di mansion itu, namun Rei tetap diam tanpa mengeluh. Marva ... hanya diam seolah tidak pernah tahu.
Marva menyeka sudut matanya yang basah.
Tidak lama kemudian terdengar suara tangisan bayi, namun pelan.
Frans tersenyum bahagia ....
Sedangkan Marva, hatinya bergejolak dengan perasaan yang campur aduk. Antara bahagia, lega, tapi juga takut ... bagaimana dengan Rei ...?
__ADS_1