Mother

Mother
147 Tidak Berhak Bahagia


__ADS_3

Sekarang hari Minggu, hari yang tepat untuk santai-santai, kecuali Freya yang setiap harinya memang super sibuk.


Rei memutuskan untuk ke mall bersama teman-temannya. Tanpa sadar mereka terpisah, karena sibuk melihat-lihat barang yang mereka mau.


"Rei."


"Eh, Agam."


"Kamu sendiri?"


"Enggak, sama yang lain juga. Eh, tapi mereka ke mana, ya?"


Akhirnya Agam dan Rei berjalan bersama.


"Bunda."


Agam dan Rei melihat si kembar yang menghampiri mereka. Di sana juga ada Marva dan Vio. Vio bergantian melirik Marva dan Rei, sedangkan Agam tetap terlihat santai.


"Hai anak-anak bunda."


"Hai, double R," sapa Agam.


Marva yang melihat interaksi antara anak-anaknya dengan dokter Agam, merasa tidak suka.


Itu karena dia khawatir kalau si kembar akan meminta Rei menikah dengan dokter Agam.


"Ayo Bun, kita jalan-jalan."


Radhi langsung menggandeng tangan Rei, sedangkan Raine tanpa segan menggandeng tangan dokter Agam.

__ADS_1


Deg


Marva yang melihat itu merasakan sesak, kenapa mereka terlihat seperti keluarga?


Vio yang melihat Marva seperti itu, berasa sedih.


Aku juga mencintai kamu dengan tulus, Marva. Apa kamu tidak bisa merasakannya? Apa waktu beberapa tahun yang kita lewati bersama ini tidak ada artinya lagi bagi kamu?


Freya hanya geleng-geleng kepala melihat mereka dari jauh.


Dia langsung menoleh ke arah lain setelah mendengar suara berisik yang sudah sangat dia hapal.


"Ya ampun, mereka lagi, mereka lagi."


Dan akhirnya, di sini lah mereka semua berada, dengan formasi lengkap, termasuk Mico dan Agam.


Keadaan ini terlihat canggung, tapi Freya dan Arby biasa saja.


"Kamu kenapa sih, setiap kali ada dokter Agam, pasti selalu melihatnya seperti itu?" tanya Zilda.


"Jangan-jangan kamu juga suka sama dokter Agam?" lanjutnya.


Arby langsung mendengkus, kenapa banyak yang suka dengan dokter Agam?


Namun perhatian mereka sedikit teralih saat mendengar suara tangisan.


"Tega banget kamu sama aku, kamu mau meninggalkan aku demi dia? Apa salah dan kurangku?"


Bukan, bukan Vio yang mengatakan itu, melainkan seorang perempuan yang ada di meja dekat mereka.

__ADS_1


Para pengunjung yang lain juga memperhatikan mereka.


Setelah melalui perdebatan yang membuat orang-orang yang melihatnya merasa iba, mereka keadaan kembali tenang.


"Kasihan banget, ya."


"Kalau aku jadi tuh perempuan, aku unyeng-unyeng tuh cowok."


"Lagian tuh pelakor tega benget, merebut milik orang lain."


"Kalau dia baik, dia enggak akan jadi pelakor."


"Pelakor dan pengkhianat, tidak pantas bahagia!"


"Semoga saja perempuan tadi bisa mendapatkan pria yang jauh lebih baik, lebih tampan dan kaya."


"Iya, terus balas dendam deh sama tuh pelakor dan pengkhianat."


"Buat mereka menyesal dan menderita seumur hidup."


"Iya, semoga saja segera dapat karma."


Yang ada di meja Freya, diam saja. Mereka tidak ada yang berani berkomentar, takut salah bicara.


Rei merasa tertohok.


Belum apa-apa dia merasa sudah disumpahi oleh para netizen anti pelakor. Apalagi seandainya dia bersama Marva?


Agam yang melihat tangan Rei gemetaran di bawah meja, segera menggenggam tangan perempuan itu. Dapat dia rasakan tangan Rei yang dingin. Diusapnya dengan lembut tangan itu, mencoba memberikan ketenangan.

__ADS_1


Ikmal yang melihat tangan Agam yang menggenggam tangan Rei di bawah meja, diam saja. Dia akan pura-pura tidak tahu, agar tercipta kedamaian dan tidak terjadi drama kedua di restoran ini.


__ADS_2