Mother

Mother
162 Membesarkan Anak Bersama


__ADS_3

Rei mengusap air matanya, lalu menghembuskan nafas perlahan, menepuk dadanya yang masih terasa sakit.


Freya akan baik-baik saja.


Malam telah sangat larut, tapi dia tidak bisa tidur. Dia juga yakin yang lain pun tidak ada yang bisa tidur, meski mata mereka semua terpejam.


Mereka semua tidur di ruangan ini, tapi Rei meminta Vio mengajak si kembar pulang meski kedua anak itu menolak. Hanya Chiro anak kecil di sini.


Jam sudah menunjukkan pukul lima pagi, Rei bangun dari pembaringannya, disusul oleh Monic. Mereka berdua saling menatap.


Sama-sama berpikir apakah ini hanya mimpi?


Karena kira-kira di jam yang sama, kemarin, mereka mendapatkan berita buruk ini.


"Ini ...?"


"Bukan mimpi?"


"Aku juga berharap ini mimpi," potong Arby yang kemudian duduk dan membenarkan posisi tidur Chiro.


"Mommy ...," gumam Chiro dalam tidurnya, kemudian Arby kembali memeluk Chiro dan mengusap kepalanya dengan lembut dan mengecupnya.

__ADS_1


Pria itu lalu membuatkan sarapan untuk Chiro. Meskipun keadaan sedang seperti ini, bukan berarti dia akan abai dengan Chiro, justru dia harus lebih memperhatikan anaknya itu.


☘️☘️☘️


Tolong selamatkan Freya, sembuhkan dia. Aku belum membalas semua kebaikan dia padaku. Freya, cepatlah sadar, kamu ingin melihat aku bahagia, kan?


Dokter menjelaskan tentang penyakit lain yang diderita oleh Freya. Rei menjadi semakin tahu apa yang terjadi pada sahabatnya itu di masa lalu.


Dan ternyata ....


Freya juga sudah lama tahu tentang itu.


Freya tahu, tapi tidak pernah cerita apa-apa tentang semua ini. Dia hanya diam dengan apa yang terjadi dengannya.


Dia selalu merepotkan Freya dengan masalah pribadinya. Seharusnya Freya punya waktu untuk istirahat, bukannya selalu mendengar curhatan mereka.


Marva memberikan perhatian lebih kepada Rei. Dia akan membawakan baju ganti atau makanan. Dia bahkan lupa tentang Vio yang masih menjadi istrinya itu.


Kejadian yang Freya alami, membuat orang-orang itu sadar akan sesuatu.


Maut bisa kapan datang saja. Yang tadinya kelihatan baik-baik saja dan ceria, bisa saja besok akan terkapar di rumah sakit.

__ADS_1


Marva selalu berdoa setiap harinya, agar Tuhan akan membalikkan hati Rei untuk dirinya.


"Tidak apa Rei, jika kamu belum mencintaiku. Cukup aku saja yang mencintaimu. Asal kamu mau bersamaku, itu saja sudah cukup."


Marva sudah ketar-ketir melihat Rei yang semakin dekat dengan Rei. Dia sudah membujuk perempuan itu setiap memiliki kesempatan.


Apa tidak ada celah bagiku untuk bersamanya?


"Apa kamu mencintai dokter Agam?"


Rei diam saja.


"Apa kamu tidak mau membesarkan anak-anak kita bersama? Memang, kita masih bisa memberikan perhatian meski tidak bersama, tapi tentu saja tetap berbeda. Bagaimana kalau kamu menjadi mereka,, apa kamu tidak mau bersama kedua orang tua kandung kamu setiap hari?"


Deg


Tentu saja Rei mau bersama orang tua kandung mereka setiap hari. Dia yang sejak lahir tidak pernah merasakan kasih sayang kedua orang tuanya, merasakan sedih.


Dulu, dia selalu berharap setiap bangun, ada orang tuanya bersamanya. Sarapan masakan buatan ibu meski itu hanya mie goreng polos. Diantar oleh ayahnya ke sekolah meski hanya berjalan kaki saja. Berkumpul bersama di hari libur meski hanya di rumah saja dan bersih-bersih rumah.


Dia yang dulu ingin sekali mempunyai orang tua yang lengkap, dan selalu berdoa jika nanti memiliki anak, akan bisa membesarkan anaknya. Karena itulah dia selalu meminta diberikan kesehatan hingga dia tua.

__ADS_1


Lalu sekarang, kenapa dia mengabaikan semua itu?


__ADS_2