Mother

Mother
128 Kompor Dari Freya


__ADS_3

"Dan untuk kamu Rei, sebaiknya kamu berhenti saja dari rumah sakit itu. Tidak perlu khawatir mau bekerja di mana. Mereka pikir mereka saja yang punya rumah sakit. Nona Lexa juga punya rumah sakit, kami bisa melamar di tempatnya. Aku juga nanti pasti bisa membuat rumah sakit yang lebih baik dari yang mereka punya. Masih banyak pekerjaan di tempat lain."


Freya lalu melihat Vio, lalu mengoporinya.


"Aku bicara dengan kalian sebagai sesama perempuan. Bukan sebagai dokter atau orang yang pernah ada hubungan dengan keluarga ini."


"Kamu mendingan minta pisah sama Marva. Dari pada sakit hati terus. Memangnya kamu tidak tertekan berasa di keluarga ini? Kamu harus terpaksa menerima pernikahan kedua suami kamu atau haris bercerai. Seharusnya sejak dulu saja kamu minta pisah. Kaya enggak ada laki-laki lain saja yang lebih baik. Mendingan kamu cari kebahagiaan lain. Mungkin dengan kamu menikah dengan pria lain, kamu akan lebih bahagia dan punya anak. Buat apa bertahan dengan laki-laki seperti ini. Kalau aku jadi kamu, enggak perlu pikir panjang, langsung aku tinggalkan. Dia pikir dialah segalanya? Arby saja aku tinggalkan, apalagi yang modelnya kaya begini."


"Freya, jangan berani kamu menghasut keluarga kami!"


"Jadi perempuan itu harus punya harga diri. Kalau tidak di hargai, ya cari yang peduli sama kita. Kamu dan Rei berhak mendapatkan kebahagiaan."


"Freya! Cukup!"


"Biarkan saja tuh si Marva depresi. Ditinggalkan kamu dan tidak mendapatkan Rei. Paling juga nanti bunuh diri."


"Jangan asal bicara kamu, Freya."

__ADS_1


Marva sendiri mendelik kesal pada Freya.


"Tenang saja Marva, tidak akan ada yang menangisi kamu selain anak-anak kamu yang masih polos."


"Jangan bicara begitu dengan Marva, Freya. Tentu saja kami menyayangi Marva."


"Keluarga kamu kan hanya mengharapkan keturunan dari kamu, dan mereka sudah memilikinya. Tidak peduli dengan kebahagiaan orang lain, termasuk kamu. Mau kamu bahagia atau tidak, yang penting kamu memberikan mereka keturunan."


"Cukup, Freya!" Delia sudah tidak kuat mendengar perkataan Freya yang menyudutkan Frans, Carles dan dirinya.


"Bersyukurlah kamu Marva, bukan aku yang menjadi istrimu!" Arby langsung melebarkan matanya, sedangkan Mico melirik Freya dan tersenyum.


Freya membalas tatapan Mico, yang hanya mereka berdua saja yang tahu apa artinya.


Viona diam mendengarkan perkataan Freya. Monic, Letta, Zilda, yang sudah sangat lama mengenal Freya, hanya bisa menelan saliva saja mendengar Freya berani mengompori seperti ini.


Marcell dan Vian geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Jangan bersikap seolah kamu yang paling benar. Jangan lupa dengan masa lalu kamu!"


"Tentu saja aku tidak melupakan masa lalu. Dan aku belajar dari semua itu."


"Tuan Frans, jaga bicara Anda!" ucap ayahnya Freya.


Sejak Freya kembali, tidak ada yang berani membicarakan masalah yang telah terjadi dulu, termasuk Arby sekali pun.


"Cukup, Kakek. Kenapa Kakek membahas masalah itu lagi!" ucap Arby.


Rei diam, dia tidak tahu apa yang terjadi di masa lalu sebenarnya. Dia tidak pernah bertanya, sedangkan Monic, Letta dan Zilda juga tidak pernah bercerita.


Rei teringat mengenai apa yang dia pernah lihat dari Freya dan Mico saat di sekolah dulu. Apa tentang itu?


Suasana semakin tidak menyenangkan dan tegang.


"Keluarga ini terlalu banyak menyakiti hati orang lain, termasuk anak kandung sendiri."

__ADS_1


__ADS_2