Mother

Mother
220 Extra Part 2


__ADS_3

Kehamilan Rei kini memasuki bulan ke empat. Perutnya sidah semakin besar, dan sampai sekarang dia belum pernah mengidam apa-apa.


Marga sedikit kecewa. Bukannya apa-apa, dia ingin mengulang masa-masa dulu saat Rei mengidam di kehamilan pertama dan memperbaikinya di kehamilan yang sekarang.


"Kak, aku pengen beli boneka Naruto."


"Apa?"


"Aku pengen beli boneka Naruto."


Larva mengerjap-ngerjapkan matanya.


"Kenapa harus Naruto? Kenapa bukan boneka panda atau beruang?" tanya Marva.


"Kenapa bukan boneka Barbie saja, Bunda?" tanya Raine.


"Kenapa bukan robot transformer?" tanya Radhi.


Rei menghela nafas.


"Mau boneka Naruto. Hmmm, tapi pakai baju Sailormoon!"


Wajah Marva langsung pucat.


Apa dia mengidam? Kenapa harus senang itu mengidamnya.


"Aku ...."

__ADS_1


"Enggak jadi. Ya kali Naruto pakai baju Sailormoon," ucap Rei dengan cepat, seolah bingung ada permintaan seaneh itu, padahal itu tadi permintaanya sendiri.


Marva tidak tahu apa yang dia rasakan. Satu sisi dia merasa lega, karena tidak harus kucing mencari Naruto Sailormoon. Tapi di sisi lain, kecewa juga.


"Aku mau makan nasi goreng rasa singkong, deh."


"Hah?"


"Kamu yang buat ya, Kak. Pakai toping Nangka dan belimbing wuluh."


Marva menggaruk tengkuknya, dan mulai membuka ponselnya.


"Mau apa?"


"Mau beli nangka sama belimbing wuluh, beli online."


"Manjat sendiri Kak, cari pohonnya sana!"


Marva lalu menghubungi saudara-saudaranya untuk bertanya di mana ada pohon nangka dan belimbing wuluh.


"Aku bukan tukang kebun!" jawab Arby kesal.


"Di tempat kamu enggak ada?"


"Ada."


"Ayo kita ke sana."

__ADS_1


"Enggak ah, jauh. Aku mau ke rumah Freya."


"Tolonglah, Ar. Rei lagi ngidam loh, ini."


"Kamu ikut saja ke rumah Freya."


Tuttt


Tanpa basa-basi Arby langsung menutup ponselnya.


Marva akhirnya mengajak yang lain untuk pergi ke rumah orang tua Freya, biar nanti dia membujuk Arby di sana.


Mereka semua tiba di rumah orang tua Freya yang berukuran sangat luas. Halaman belakangnya saja begitu luas.


"Tuh lihat!" tunjuk Arby.


Wajah Marva langsung bersinar saat melihat kalau halaman belakang rumah Freya adalah kebun yang banyak ditumbuhi boleh pohon buah. Banyak jenis buah yang di taman di sana.


Rei masuk ke kamar Freya, berdiri di balkon dan melihat pohon buah mangga. Monic, Letta dan Zulfa memandang pohon mangga itu dengan tersenyum, mengingat kenangan lucu tentang pohon dan teras ini.


Dari atas balkon kamar Freya, mereka bisa melihat para pria itu memanjat pohon, dan anak-anak sedang memetik belimbing wuluh.


Keluarga mereka yang lain juga sedang berkumpul di halaman belakang. Anya dan Vanya sedang membuat rujak dan salad.


Rei benar-benar terkesima dengan rumah orang tua Freya. Dia mendadak sedih, teringat akan neneknya. Dulu juga dia memiliki rumah impian seperti ini untuk dia dan neneknya tinggal bersama. Tidak sebesar ini tentu saja, tapi ada halaman yang bisa dia tanami cabe dan tomat, dan pohon buah harian.


"Rei, jangan bengong!" tegur Monic.

__ADS_1


Rei menghela nafas berat. Dia sadar kalau tidak semua yang dia impikan bisa tercapai. Di saat dirinya sudah sukses seperti sekarang ini, neneknya tidak ada.


Memang tidak ada yang sempurna


__ADS_2