Mother

Mother
78 Beristri Dua


__ADS_3

Setelah pertemuan pertama, tentu saja ada pertemuan selanjutnya, yang terjadi karena si kembar. Rei akan bangun pagi-pagi sekali untuk membuat masakan untuk Radhi dan Raine, yang tentu saja untuk Marva juga.


Naya sendiri juga membuatkan sarapan untuk Chiro yang juga pastinya untuk Arby.


Letta dan Zilda menolak keras untuk membuatkan sarapan untuk Vian dan Marcell, sedangkan Monic yang akhirnya membuatkan sarapan untuk mereka yang dibantu Ikmal.


"Bilang pada pria itu, jangan lagi mengganggu Rei," ucap Naya pada Ikmal, karena pria itu yang kelihatannya paling waras dibandingkan yang lain.


"Aku juga mana tahu kalau dia dan anak-anaknya mau ke sini. Si kembar bilang, mereka mau menemani Chiro."


"Jangan bawa-bawa Chiro dalam urusan si Marva. Lagi pula, Rei bukan siapa-siapa dia lagi. Kalau sampai aku tahu dia menyakiti Rei, aku sendiri yang akan membalasnya."


Ikmal menatap Freya.


Di ruang tengah, Rei sedang bermain dengan si kembar. Satu sisi dia merasa senang karena mereka ada di sana, satu sisi lagi dia cemas.


Dia tahu semua ini tidak akan berlangsung lama. Dia takut kalau ini hanya kesenangan semu, dan saat dirinya sudah melambung tinggi, lalu dihempaskan begitu saja. Kembali berpisah dengan cara yang lebih menyakitkan.


Rei tahu bagaimana keluarga Marva, tentu saja mereka tidak akan membiarkan Rei bersama si kembar. Kalau memang iya, pasti sudah sejak dulu. Misalnya saja, dengan menjadikan Rei baby sitter si kembar.


Dua hari kemudian


Chiro sedang menangis, karena Naya pergi begitu saja untuk bertugas di luar kota.

__ADS_1


"Nanti kan Chiro bisa bertemu dengan mommy lagi. Kita juga harus kembali ke Jakarta."


Rei dan yang lainnya juga sangat sibuk, jadi tidak ada alasan yang bisa dibuat-buat untuk tetap di sini.


Dengan kembalinya Chiro, berarti juga Marva dan anak-anaknya harus pulang. Mereka semua akan kembali ke aktifitas masing-masing, berpisah untuk yang kesekian kalinya, tidak tahu kapan akan bertemu lagi.


Berpisah di hari yang sama, dan meninggalkan harapan di beberapa hati.


Jakarta


"Kenapa kalian baru pulang sekarang?" pertanyaan itu yang langsung menyambut kedatangan Marva dan anak-anaknya.


"Karena Chiro juga baru pulang sekarang."


"Sudahlah, Vi. Yang pentingkan sekarang aku sama anak-anak sudah pulang."


Marva menyerahkan beberapa paper bag sebagai oleh-oleh. Setelah mengantar anak-anak ke kamar mereka, pria itu langsung ke kamarnya.


Marva kembali teringat, saat masih disana, setiap hari dia dan Viola berkomunikasi.


"Kamu tidur di mana?"


"Di hotel." Terpaksa bohong, padahal dia di apartemen Monic, yang bersebelahan dan berhadap-hadapan dengan milik Rei, Freya, Letta dan Zilda.

__ADS_1


"Sama anak-anak?"


"Ya iya, masa aku pisah sama mereka. Tuh lihat, mereka lagi main." Marva langsung mengarahkan kameranya yang sedang melakukan video call pada Viola.


Untung saja unitnya Monic ini tidak memiliki banyak barang pribadi, jadi memang mirip seperti hotel.


"Chiro di mana?"


"Ya sama ayahnya, lah. Kamu kan tahu sendiri bagaimana Chiro dan Erlang."


"Sudah dulu, ya. Aku masih harus mengerjakan pekerjaan aku."


Setiap hari mereka melakukan video call atau telp, dan itu sebaiknya Marva yang lebih dulu menghubungi sebelum istrinya itu cemburu beralasan.


Marva juga kembali teringat bagaimana dulu Vio yang selalu cemburu saat Rei masih menjadi istrinya. Sedangkan Rei tidak pernah protes saat Marca bersama Vio.


Itu karena Rei sadar diri siapa dan apa posisinya saat itu.


Bagaimana kalau aku kembali beristri dua?


Pikiran itu tiba-tiba saja terlintas di benak Rei.


Bisa-bisa terjadi perang berdarah.

__ADS_1


__ADS_2