
Rei sudah membeli beberapa keperluan si kembar dan disimpannya, kalau nanti dibutuhkan. Dan ternyata sekarang terjadi.
Perempuan itu sedang memandikan Radhi dan Raine yang kotor akibat bermain-main dengan tepung di dapur.
"Aunty, jangan marah karena kami mengotori dapur."
"Enggak, sayang-sayangnya Bunda."
Rei langsung terdiam. Dia baru saja keceplosan memanggil dirinya bunda di depan anak-anaknya. Tapi melihat Radhi dan Raine yang diam saja, entah karena sibuk main di dalam bathtub, tidak mendengar, atau memang tidak paham, Rei menghela nafas. Sedikit kecewa, tapi juga merasa lega.
Setelah dia selesai memandikan anak-anaknya, dia memakaikan mereka baju.
Rei merasa hampir menjadi ibu yang sesungguhnya. Memandikan, memakaikan baju, memasak untuk mereka, bahkan menyuapi. Dia juga mengajari si kembar belajar, yang ada beberapa buku yang Rei siapkan.
Melihat semua itu, membuat Marva menghela nafas. Dia merasa ... ada perasaan untuk mengelak, tapi juga mengakui ... bahwa apa yang dilihatnya ini seperti sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Vion memang menyayangi anak-anaknya. Memandikan mereka, memakaikan baju, memasak, menyuapi, menemani belajar, dan hal-hal lain yang biasanya seorang ibu lakukan untuk anak-anaknya, Vio lakukan dengan baik. Vio juga sering membelikan kebutuhan anak-anaknya tanpa diminta, mengajak mereka berlibur walau Marva tidak selalu ikut karena sibuk.
Namun melihat Rei dan anak-anaknya yang seperti ini, dia merasa ada yang berbeda.
__ADS_1
Marva memejamkan mata dan menghela nafas berat.
Dia jadi merasa bersalah.
Merasa bersalah pada Vio.
Merasa bersalah pada Rei.
Freya yang sejak tadi memperhatikan gelagat Marva, hanya bisa menghela nafas. Arby yang sejak tadi melihat Freya yang sejak tadi terus memandang Marva tanpa berkedip, merasa kesal. Sedangkan Ikmal yang menatap Arby, hanya geleng-geleng kepala. Mereka terlihat lucu sebenarnya.
"Aunty, boleh tidak besok kami dibawakan bekal?" tanya Raine.
"Iya. Kami juga mah bekal seperti punya Chiro. Bosan membawa bekal dari mansion."
Marva yang dilihat oleh Rei, lalu mengangguk.
"Iya, besok aunty bawakan bekal untuk kalian. Biar nanti ayah yang ambil dari sini."
"Enggak perlu, biar aku dan Chiro saja yang ambil," larang Arby cepat.
__ADS_1
Kedua pria itu saling melirik, yang satu kesal dengan yang lain, yang lain jengah dengan yang satu.
"Aku juga buatkan bekal, ya," ucap Arby dan Marva.
"Enggak bisa, aku dan Rei sibuk dan tidak sudi mengurus bocah raksasa dan menyebalkan seperti kalian," ucap Freya.
Malam harinya mereka pulang. Vio sudah menunggu kedatangan suami dan anak-anaknya.
"Loh, kalian pakai baju siapa?" tanya Vio.
"Oh, itu tadi aku beli di mall. Baju mereka kotor karena kena es krim. Ayo anak-anak, masuk kamar kalian."
Marva langsung menyuruh anak-anaknya masuk ke kamar, sebelum ada yang keceplosan dan mengatakan yang sebenarnya.
Marva juga membawakan mainan-mainan baru ke kamar si kembar. Itu bukan Marva beli dari mall, tapi hadiah dari Rei untuk anak-anaknya. Cukup banyak yang Rei berikan. Barang-barang itu tidak seberapa dengan waktu yang sudah bertahun-tahun terbuang begitu saja.
Hari ini Rei merasa sangat senang. Sejak pagi sampai malam, dia menghabiskan waktu bersama anak-anaknya. Memang hanya di apartemen saja, tapi itu sangat menyenangkan. Rei membuatkan mereka gambar yang sekarang ada di nakas sebelah kasurnya.
Jangan terbawa perasaan Rei, suatu saat nanti mereka akan tahu kalau selama ini kamu sering bertemu dengan anak-anakmu, dan mereka pasti melarang Radhi dan Raine untuk bertemu dengan kamu.
__ADS_1