
Freya bertemu dengan Arby, dan para sepupunya itu.
"Jangan menolak, kami kan juga mau membantu. Ini untuk mereka, loh, Beb."
"Dengan syarat," ucap Freya pada akhirnya.
"Apa?"
"Jangan memanfaatkan apa yang kalian berikan untuk menekan kami. Terutama kamu, Marva. Jangan lagi memanfaatkan Rei. Kalau itu sampai terjadi, aku bersumpah aku sendiri yang akan membuat Rei mendapatkan gak asuh anak-anaknya."
"Iya janji, aku akan memisahkan masalah pribadi dengan pekerjaan."
"Awas, jangan hanya bicara saja!"
"Enggak percayaan banget sih, Freya."
"Keluarga kalian kan menyebalkan semua."
Freya mengatakan itu langsung di hadapan Arby, Ikmal, Vian, Marcell dan Marva.
Tidak perlu ditanya bagaimana raut wajah mereka, karena Freya benar-benar tidak peduli.
__ADS_1
"Marva, katanya kamu rapat. Kenapa malah di sini?"
Freya memandang sinis Vio. Sebenarnya Freya tidak membenci Vio secara pribadi, dia juga sangat paham apa yang Vio rasakan. Hanya saja, jangan bersikap seolah Rei adalah pelakor jahat yang merusak kehidupannya.
Dia dan Rei kan sama-sama korban. Kenapa harus Rei yang dimusuhi seperti itu?
"Lah, ini aku lagi rapat, Vi."
"Rapat apaan sama mereka?"
"Jangan mulai deh, Vi."
Freya mencuci tangannya, tidak lama kemudian Vio masuk.
"Aku tahu sebenarnya kamu baik. Hanya saja kamu terlalu merasa cemas, jadi membuat kamu terlalu curiga," ucap Freya.
"Aku minta maaf. Aku hanya tidak mau sakit yang kedua kalinya."
"Apa pun yang terjadi nanti, ambil saja hikmahnya. Semua orang punya permasalahan hidup masing-masing. Termasuk aku. Mau seperti apa pun, ikatan batin itu tidak bisa dihilangkan. Kamu bisa ambil contohnya dari aku dan Chiro. Bagaimana sikap Chiro padaku? Aku juga meninggalkannya, tapi dia masih sayang padaku, bahkan terlihat tidak pernah membenciku. Entah karena Arby yang mendidiknya dengan sangat baik, atau memang karena Chiro yang terlalu sayang padaku. Rei juga sudah sangat menderita sejak dulu. Hanya Radhi dan Raine yang dia punya sebagai keluarga. Rei memang memiliki kami, tapi itu kan berbeda. Kalau kamu menghalang-halangi anak-anak bertemu dengan ibu kandungnya, suatu saat nanti kamu sendiri yang akan dibenci mereka walaupun kamu yang membesarkan mereka. Kamu bisa mengendalikan tubuh mereka untuk tidak ke sana ke mari, tapi tidak dengan hati seseorang. Kalau ada yang harus kamu salahkan, salahkan saja mertua dan kakek mertua kamu itu."
Freya langsung meninggalkan Vio, karena waktunya akan habis begitu saja jika masih melanjutkan pembicaraan ini.
__ADS_1
"Kamu lama banget di kamar mandi, habis apa?" tanya Arby kepo.
"Apa aku harus menjelaskan aktifitasku di kamar kecil dengan rinci?"
"Jangan!" ucap Marcell dan Vian yang sangat yakin, kalau Freya akan menceritakan sesuatu yang bisa membuat selera makan mereka langsung hilang.
Freya menahan tawanya, lalu melirik Marva. Dia juga sebenarnya merasa bingung dengan pria ini.
"Kenapa kamu selalu melihat Marva seperti itu?" tanya Arby.
Freya tidak menjawab, tapi tetap memperhatikan Marva.
"Ikuti saja kata hati kamu Marva. Meski banyak yang akan terluka, tapi ikuti saja kata hati kamu. Kamu bisa melihat contohnya dari Mico."
Mico, kenapa tiba-tiba Freya menyebut-nyebut Mico.
"Aku lebih banyak tahu dari yang kalian kira. Kamu juga bisa melihat aku dan Rei. Kami bertiga mengikuti kata hati kami. Memang terasa sakit dan berat pada awalnya, tapi lihatlah kami yang sekarang. Tidak akan ada yang bisa berjalan mulus, dan pasti ada pengorbanan untuk mencapai apa yang diinginkan. Jadi saranku padamu, ikuti saja kata hati kamu, karena hidupmu, kamu yang menjalankan, bukan orang lain."
Marva langsung berdiri dan memeluk Freya.
Arby hanya bisa melotot dan manyun, tapi diam saja. Bukan saatnya untuk cemburu, karena apa yang Freya bilang memang benar. Di ujung sana, Vio melihat suaminya yang memeluk Freya, tapi dia juga tidak cemburu, begitu juga dengan Rei dan dokter Agam yang baru saja memasuki restoran itu.
__ADS_1