
"Rei!"
"Nenek?"
"Kembalilah!"
"Kembali ke mana?"
"Ke tempat yang seharusnya."
"Di sini tempat aku segarusnya berada. Apalagi ternyata di sini juga ada nenek."
"Tidak, di sini bukan tempat kamu."
"Nenek, jangan berkata seperti itu. Apa nenek marah padaku? Tolong maafkan aku, Nek. Aku tahu aku salah."
"Nenek selalu memaafkan kamu, tapi di sini memang bukan tempat kamu."
"Nenekmu benar, Rei."
Rei menatap seseorang yang berbicara padanya. Seorang pria dan wanita yang berwajah tampan dan cantik tersenyum memandang wajahnya.
Deg
Rei bisa merasakan getaran halus di hatinya. Tiba-tiba saja air matanya menetes.
"Papa? Mama?"
Mereka mengangguk. Rei langsung memeluk keduanya. Pelukan hangat itu benar-benar membuatnya bahagia ....
Di sisi lain
__ADS_1
Sudah dua minggu Rei koma, keadaan anak kembarnya juga belum mengalami peningkatan. Dokter terus memantau keadaan ketiganya. Marva melihat anak-anaknya dari balik kaca. Anaknya sudah dua minggu lahir, tapi sampai sekarang dia belum boleh membawa mereka pulang. Tidak bebas menggendong dan mencium anak-anaknya. Seharusnya saat ini dia merasakan suka cita akan kelahiran anak-anaknya, tapi hal buruk terjadi dan dia harus menahan keinginan untuk segera membawa mereka pulang.
Marva bersedih, tapi juga tersenyum melihat anak-anaknya meski hanya dari balik kaca. Hatinya selalu bergetar saat memandang wajah anak-anaknya. Bagaimana dulu dia selalu menegelus perut Rei untuk bisa merasakan kehadiran mereka. Dulu dia memang biasa-biasa saja saat belum ada kehadiran mereka di rahim Rei. Pikirnya, suatu saat nanti juga dia akan memiliki anak, jika memang takdirnya. Setelah kehamilan Rei, dia menjadi tahu bagaimana menjaga istri yang
Cepatlah sehat, agar ayah bisa segera membawa kalian pulang!
🌺🌺🌺
"Bagaimana keadaan cicit-cicitku?" tanya Frans.
"Kondisinya masih sama, Tuan."
"Minta mereka melakukan perawatan yang terbaik untuk cicit-cicitku!"
"Baik, Tuan."
Frans melihat berkas-berkas yang ada di mejanya. Sertifikat apartemen beserta kuncinya, surat-surat mobil dan kuncinya, ATM dan buku tabungan dengan nominal yang WOW atas nama seseorang, jaminan kuliah hingga S2 ....
🌺🌺🌺
"Apa pun yang terjadi nanti, yakinlah bahwa semuanya akan baik-baik saja."
"Benar, jangan pernah menyerah dan putus asa. Jadilah perempuan yang tegar."
"Sekarang kembalilah ke tempat yang seharus. Sudah cukup kamu berada di sini."
"Tapi ... aku masih ingin berada di sini, bermain dengan anak-anak itu. Aku takut tidak lagi memiliki kesempatan untuk bersama mereka."
"Bukankah tadi sudah kami katakan, apa pun yang terjadi, tetaplah menjadi perempuan yang kuat!"
"Kalian tidak merindukan aku?"
__ADS_1
"Tentu saja kami merindukan kamu. Doa kami selalu menyertai kalian."
"Kalian?"
"Iya, kamu dan anak-anak kamu."
"Anak-anak aku?"
Nenek, mama dan papa Rei melihat ke ke kedua anak yang ada di sebelah Rei.
"Mereka anak-anak aku?"
"Benar, jadi kembalilah. Jangan biarkan anak-anak kamu terus berada di sini. Apa yang terjadi sudah menjadi takdir yang tidak bisa dihindari."
"Kembalilah, Sayang."
"Pulanglah."
"Tempat kalian bukan di sini."
Nenek, papa dan mama Rei mengatakan itu dengan lembut. Air mata Rei menetes. Dikihatnya wajah tiga orang dewasa di hadapannya, lalu wajah anak kembarnya.
Di sisi lain
Marva memandang lekat wajah Rei yang terlihat cantik meski sedang tidak sadarkan diri. Wajah sendu yang meneduhkan hati.
Rei sudah memenuhi kewajibannya, memberikan keluarga Arthuro keturunan, bukan hanya satu, tapi dua sekaligus. Bukankah itu berarti sudah saatnya mereka berpisah?
Kewajiban sudah terpenuhi, kini saatnya janji ditepati dan perjanjian diakhiri.
Bagaimana cara Marva mengatakannya kepada Rei? Agar perempuan ini mengerti akan apa yang akan dia sampaikan ....
__ADS_1