Mother

Mother
107 Kado Untuk Ibu


__ADS_3

Marva mengantar anak-anaknya pulang, setelah itu kembali ke perusahaan. Setelah mengatakan itu pada Radhi dan Raine, perasaannya sedikit ringan.


Dia mengerjakan pekerjaan dengan sangat baik.


🍁🍁🍁


Sementara Marva sedang berjuang untuk Rei, perempuan itu semakin dekat dengan dokter Agam. Semakin mengenal, semakin mereka tahu banyak kesamaan di antara mereka.


Dokter Agam yang pembawaannya selalu tenang dan meneduhkan, membuat Rei nyaman untuk mengobrol banyak hal dengannya.


Kedekatan Rei dengan dokter Agam tentu saja menimbulkan gosip. Ada yang mendukung, ada juga pastinya yang tidak suka karena dokter Agam memiliki banyak pengagum.


Rei dan dokter Agam yang juga mendengar gosip itu, hanya senyum-senyum saja.


"Kamu beruntung memiliki sahabat seperti mereka."


"Iya, kamu benar. Mereka sudah seperti saudara buat aku."


Rasa kagum Rei pada dokter Agam juga semakin besar. Pantas saja banyak yang menyukai dokter ini, bukan hanya karena tampan, tapi juga kepribadiannya yang baik.


Rej terdiam memikirkan masa depannya. Dia berpikir, apa akan ada pria baik yang nantinya akan menerima masa lalunya?


Yang rela menikah kontrak demi kesembuhan neneknya. Yang kemudian meninggalkan anak-anaknya begitu saja.


Tidak semua orang bisa menerima masa lalu orang lain.


Anggap saja pria itu bisa menerima dia apa adanya. Tapi keluarganya, apa bisa menerima dia dengan keikhlasan hati? Calon mertuanya, atau saudara iparnya.


Rei sendiri tidak yakin. Dia selama ini memang tidak pernah berpikir tentang pria. Tapi yang namanya manusia, tapi membutuhkan pasangan, untuk menghabiskan masa tua bersama.

__ADS_1


Dia tidak ingin gagal yang kedua kalinya dalam pernikahan. Meski kegagalan pertama memang sudah dia tahu sejak awal, karena memang begitu kan, isi perjanjiannya.


Berpisah.


Rei tidak ingin menjadi janda untuk yang kedua kalinya.


Rei ingin memiliki keluarga yang wajar.


Tidak harus kaya, juga tidak mesti tampan.


"Sedang melamun apa?" tanya Agam sambil mengusap lembut kepala Rei.


"Jangan banyak pikiran, nanti kamu sakit. Kita ini dokter, butuh konsentrasi yang tinggi, jangan sampai melakukan kesalahan."


"Iya, maafkan aku."


Kalau perempuan lain yang mendengarnya, pasti sudah kegirangan. Bukan berarti Rei tidak senang.


"Oya, aku mau membelikan kado ulang tahu untuk mama aku. Tapi bingung tahun ini mau memberi apa lagi, ya."


"Sebentar lagi ibu kamu ulang tahun?"


"Iya."


Rei terdiam, dia tidak pernah memberikan kado ulang tahun untuk ibunya juga ayahnya. Karena memang tidak pernah memiliki kesempatan itu. Saat neneknya ulang tahun saja, dia hanya berusaha memasak makanan yang lebih enak dari yang sehari-hari dia masak. Meski sebenarnya masakan itu juga sebenarnya masakan biasa saja yang sering orang lain makan sehari-hari.


Sepotong ayam goreng.


Dokter Agam yang bisa melihat kesedihan di wajah Rei, kembali mengusap rambut perempuan itu.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kamu saja yang membelikannya? Anggap saja kamu sedang membelikan ibu kamu kado ulang tahun. Bagaimana, mau ya?"


Rei tertegun, air matanya mengalir.


"Mau, aku mau banget. Aku akan memilihkan kado yang bagus untuk mama kamu."


"Terima kasih banyak, Agam." Rei langsung memeluk erat dokter Agam, yang dibalas tepukan pelan di punggung perempuan itu.


Di sana


Di ujung sana


Sepasang mata sedang menatap nanar mereka.


Aku sedang berjuang untuk kamu, Rei. Tolong bersabarlah sebentar lagi. Aku akan berjuang untuk kamu, untuk anak-anak, untuk kita. Kalau perlu aku akan meninggalkan semuanya agar kita bisa berkumpul bersama.


.


.


.


.


Galau galau galau ....


Siapa yang galau?


Mau sama Marva atau Agam?

__ADS_1


__ADS_2