Mother

Mother
52 Selamat Tinggal


__ADS_3

Marva memasuki kamar anak-anaknya, karena saat memasuki mansion, dia mendengar suara tangis anaknya yang begitu kencang.


"Kenapa dengan anak-anakku?" tanya Marva pada seorang pelayan yang sedang berusaha menenangkan si kembar.


"Tidak tahu, Tuan. Sejak tadi siang mereka terus menangis."


"Lalu ke mana mamanya?"


"Kami sudah menghubungi nyonya Viola dan nyonya Delia, sekarang masih dalam perjalanan pulang."


"Ck, maksudku di mana Rei?"


Para pelayan itu saling pandang.


"Seharian ini kami tidak melihatnya, Tuan."


Marva langsung mengambil alih si kembar. Dia menggendong keduanya sekaligus. Tangisan si kembar mulai memelan, meski masih menangis.


"Ikut aku!" perintahnya pada salah satu pelayan.


Marva menuju kamar Rei dan langsung menyuruh pelayan membukanya.


"Rei ... Rei!"


Marva ke kamar mandi, tidak ada siapa-siapa di sana.


Tapi tunggu ....


Mengapa kamar ini terlihat sunyi?


Kamar ini seperti kamar baru yang tidak oernah ditempati.


Marva membuka lemari Rei, dilihatnya baju-baju Rei masih ada, tapi yang dia belikan saja. Sedangkan barang-barang yang memang milik Rei sudah tidak ada lagi.


Rei lalu berlari menuju halaman samping. Sesampainya di sana, dia melihat tidak ada lagi sepeda merah itu.


"Marva, kenapa kamu lari-lari seperti itu? Nanti si kembar jatuh!" teriak Frans, namun tidak dihiraukan oleh Marva.


Marva kembali ke kamar Rei. Frasn, Carles, Delia, dan Viola saling pandang. Di kamar Rei, Marva memeriksa semuanya.


Sepatu, tas, perhiasan, ATM, kartu kredit, uang bahkan ponsel yang pernah Marva berikan, semuanya masih ada di dalam laci.


Ada secarik kertas yang ditinggalkan, lalu Marva membacanya.


Kak Marva ....

__ADS_1


Aku pergi, aku titipkan anak-anakku pada kalian. Tolong cintai mereka dengan tulus tanpa cacat saat kalian mengingat siapa ibu kandung mereka. Aku sudah memenuhi kewajibanku untuk memberikan kakak keturunan.


Aku tidak akan membawa apa-apa, baik yang kakak berikan atau yang tuan Frans tawarkan, karena jika aku mengambilnya, aku merasa bahwa aku telah menjual anak-anakku hanya untuk jaminan hidup yang lebih enak. Cukup aku saja yang menjual diriku untuk kesembuhan nenek, jangan anak-anakku.


Aku cukup sadar diri untuk pergi dari sini sebelum kalian yang memintanya, meskipun tentu saja, aku sangat berat meninggalkan si kembar.


Salam sayangku untuk si kembar. Terima kasih atas semuanya.


Pandangan mata Marva terlihat nanar, ditatapnya wajah si kembar yang masih menangis meski pelan.


Karena inikah kalian menangis sejak tadi? Karena mama kalian pergi?


Begitu juga dengan Frans, yang sedang membaca surat yang diselipkan melalui celah di bawah


pintu ruang kerjanya.


Tuan Frans, aku pamit. Aku sudah memenuhi kesepakatan kita untuk memberikan anda cicit, bahkan dua sekaligus. Tolong jaga anak-anakku, meskipun tanpa aku meminta, aku yakin anda akan menyayangi mereka, karena mereka adalah alasan anda mempekerjakan aku. Aku tidak akan membawa apa pun yang anda tawarkan, karena aku tidak ingin menjual anak-anakku agar bisa hidup mewah. Cukup aku menjual diriku untuk kesembuhan nenek, dan aku tidak ingin melakukan kesalahan yang kedua kalinya. Tolong jangan berprasangka buruk. Di kemudian hari, aku tidak akan menuntut apa pun dengan alasan tidak mengambil apa-apa dari kesepakatan itu saat ini. Jika anda tidak sudi untuk mengambilnya kembali, anda bisa menyumbangkannya ke panti jompo atau panti asuhan.


Maaf jika aku pergi dengan cara seperti ini, aku hanya ingin pergi dengan sisa harga diri yang kumilki, sebagai seorang perempuan yang pernah menjual diri untuk kesembuhan nenek yang sangat dia sayangi.


Aku pamit.


Frans menghela nafasnya, kembali dipandanginya surat dari Rei dan semua hal yang akan dia berikan pada Rei yang ada di atas meja.


Frans dan Marva berjalan lalu bertemu di ruang keluarga. Mereka melihat surat di tangan masing-masing, lalu tanpa berucap, Marva mengamvil surat itu daribtangan kakeknya, dan Frans pun mengambil surat dari tangan Marva.


Rei melihat rumah yang selama beberapa bulan ini dia tempati. Dia sudah mengurus beasiswanya dan akan segera pergi. Tidak banyak barang yang dibawanya, hanya tas sekolah yang dulu oernah dibelikan Freya untuknya. Selama beberapa bulan ini, dia audah cukup mengumpulkan uang tambahan, selain uang yang dia anggap sebagai gaji saat memasak si rumah keluarga Arthuro yang dia dapat dari Marva.


Selama beberapa bulan ini, dirinya juga selalu sembunyi-sembunyi jika keluar rumah. Untung saja ada dokter Agam yang selama ini membantunya. Dokter Agam akan membawa kue-kue yang Rei buat untuk dijual di kantin rumah sakit, atau jika ada yang mau memesan kue dalam jumlah yang banyak, maka dokter Agam akan memberikannya kepada Rei.


Freya, aku pergi. Semoga suatu saat nanti kita bisa beetemu kembali. Jaga dirimu baik-baik.


Rei mengunci pintu rumah kontrakannya. Dia bingung harus dikemanakan kunci itu. Apakah menitipkannya di tetangga atau menyembunyikannya di bawah pot kecil? Apa akan aman? Atau membawanya bersamanya. Selama beberapa bulan ini, tidak ada yang menagih uang kontrakan padanya. Jika dihitung secara keseluruhan sejak dia dan neneknya pindah ke rumah ini, itu sudah satu tahun lebih, dan sama sekali dia tidak pernah membayar uang kontrakan. Berapa lama Freya membayar uang sewanya?


Akhirnya Rei memilih untuk mengantonginya saja. Toh nanti jika pemiliknya datang, dia bisa membobol pintunya dan mengganti dengan kunci yang baru. Tapi kalau Freya yang datang bagaimana? Dia jadi bimbang kembali.


Bawa sajalah.


Rei menarik koper kecil dan tas Freya di punggungnya. Rei berjalan sambil melirik kiri kanan, menunggu taksi.


"Aaa ...," teriaknya saat ada yang memegang pundaknya.


"Ya ampun, Dokter Agam? Kaget aku!"


"Maaf ya, sudah membuat kamu kaget. Ayo aku antar."

__ADS_1


Rei lalu masuk ke dalam mobil dokter Agam. Dokter Agam memang tidak tahu di mana tujuan Rei pergi sebenarnya.


Di perjalanan, Rei menangis tertahan. Selama beberapa bulan ini, dia selalu menangis merindukan anak-anaknya. Waktu yang sangat singkat untuk kebersamaan mereka. Dokter Agam melihat itu, namun tidak berkata apa-apa. Selama beberapa bulan ini, dia bisa menarik kesimpulan bahwa hidup gadis itu sangat berat, meski Rei tidak pernah menceritakan apa pun.


Tanpa terasa mereka tiba di tempat tujuan. Rei mengusap air matanya, lalu turun dari mobil disusul oleh dokter Agam.


Dokter Agam mengeluarkan koper dari dalam bagasi.


"Rei, ini untuk kamu!"


Dokter Agam memberikan beberapa lembar uang untuk Rei.


"Eh, jangan repot-repot, Dok."


"Sudah ambil saja. Buat tambah-tambahan kamu di sana nanti."


Melihat di mana mereka berhenti saat ini, dokter Agam bisa sedikit menarik kesimpulan.


"Ayo ambil, jangan menolak rejeki," ucap dojter Agam dengan senyuman tulus. Akhirnya Rei mengambil uang itu.


"Semoga kamu baik-baik saja di sana, dan kuliah kamu berjalan dengan lancar. Jadilah arsitek yang hebat!"


Rei mengangguk, air matanya kembali menetes karena rasa haru.


"Aku pergi dulu, Dok."


Rei mulai melangkah meninggalkan dokter Agam. Namun baru beberapa langkah, dia kembali menghapiri dokter Agam dan langsung memeluk dokter itu.


"Terima kasih banyak, Dok. Terima kasih atas bantuan dokter selama ini. Dokter juga, jaga diri dokter baik-baik. Jadilah dokter yang baik."


Dokter Agam membalas pelukan Rei, lalu mengusap kepala Rei dengan lembut.


"Selamat tinggal, Dok. Semoga kita bisa bertemu lagi."


Dokter Agam mengangguk.


Rei kembali melangkah, tidak lagi menengok ke belakang.


Bunda pamit, jafa diri kalian dan berbahagialah selalu!


Selamat tinggal Radhi, Raine ....


...🌵Tamat🌵...


Season 1 tamat sampai sini ya. Aku kunci End dulu. Sepi banget ini cerita, jadi gak semangattt😢

__ADS_1


Lanjutannya belum tahu kapan, soalnya lagi ada urusan lain aku. Semoga bisa segera ngelanjutin season selanjutnya. Kalau view dan likenya banyak, semoga bisa jadi semangat. Tetap jadikan favorit, ya. Syukur-syukur ada yang bantu promoin cerita-ceritaku, hehehe😊😄


Oya, selamat menjalankan ibadah puasa buat yang menjalankannya. Sampai jumpa, jangan lupa jaga kesehatan.


__ADS_2