Mother

Mother
222 Extra Part 4


__ADS_3

"Sayang, yang kuat ya. Kamu pasti bisa."


Marva menggenggam tangan Rei, berusaha memberikan kekuatan untuk istrinya itu. Dalam hati dia terus berdoa, agar Rei dan anak mereka bisa selamat dan sehat.


Para keluarga dan sahabat-sahabat sudah menunggu di luar. Tadi tiba-tiba saja Rei mengalami pendarahan, saat mau makan rujak bersama.


Dia tidak terjatuh, atau apa pun, tapi perutnya terasa melilit. Usia kehamilannya baru tujuh bulan, kalau dilahirkan sekarang, sudah pasti prematur.


Di luar, mereka bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang menyebabkan Rei bisa mengalami kontraksi dini kalau pendarahan.


"Dia terlalu stres," ucap Freya.


"Stres? Bukannya dia sudah cuti?" tanya Agam.


"Bukan stres karena pekerjaan, tapi masalah lain. Memangnya kalian enggak tahu, kalau banyak yang mencibirnya sebagai pelakor!"


"Aku akan menutup mulut orang itu," ucap Carles.


"Mau ditutup semuanya? Memang bisa? Ini adalah resiko yang harus dia tanggung seumur hidup." Kali ini Monic yang bicara.


Marva keluar, dengan wajah yang juga pucat.


"Ada apa?"


"Dokter memintaku untuk menunggu di luar."


Lama mereka menunggu, dan dokter akhirnya ke luar.


"Bagaimana, Dok?"


"Dia harus melahirkan sekarang. Kandungannya lemah. Nyawa keduanya sedang terancam ...." Dokter menghela nafas berat.

__ADS_1


"Jika harus memilih, mana yang akan diselamatkan?"


Deg


Jantung mereka berdetak kencang


"Selamatkan istri saya!" Tidak butuh waktu lama untuk Marva berpikir. Sudah pasti dia akan memilih Rei.


Buat apa punya anak banyak, kalau tidak ada ibu yang membesarkan mereka.


Apa Marva harus kembali menikah lagi?


Tidak!


"Tolong tanda tangani dulu surat perjanjiannya."


Di dalam ruangan


Kondisi Rei sudah kritis. Dia mengeluarkan banyak darah, dan harus segera melahirkan.


Apa kamu pikir nenek akan bahagia dengan cara kamu ini, Rei?


Rei dian saja, tidak menjawab pertanyaan itu.


Lalu Vio hadir, tersenyum lembut dengan wajah menyedihkan.


Apa kamu bahagia dengan pernikahan kamu, Rei?


Rei juga tidak menjawab. Jujur saja, di lubuk hati terdalamnya, dia merasa cemas. Dia cemas Marva akan meninggalkannya karena perempuan lain. Cemas akan nasib anak perempuannya.


Kenapa dia tidak bisa bersikap masa bodo seperti pelakor lain? Masa bodo dengan gunjingan orang-orang dan menikmati hidup yang sedang dia jalani.

__ADS_1


Yang dia tonton di tv-tv, para pelakor itu hidup bahagia, dengan harta dan suami yang seharusnya milik perempuan lain. Tidak peduli dengan gunjingan orang. Apa mereka hanya berpura-pura bahagia, selagi bisa menikmati kekayaan suami, ya nikmati saja!


Rei sadar, hidupnya tidak akan pernah tenang.


Jujur saja, dia pun membenci pelakor, tapi nyatanya dia yang menjadi pelakor. Kenapa nasib menempatkannya dalam posisi ini?


Vio mungkin telah merelakan dan memaafkannya, tapi tentu tidak akan melupakannya.


Dia, telah menorehkan luka pada perempuan lain.


Maafkan aku, aku benar-benar minta maaf, batin Rei.


Ini adalah masalah psikis yang bisa datang kapan saja, dan masalah ini lebih kuat lagi saat dirinya mengandung.


Apa dulu seharusnya dia merelakan neneknya begitu saja, tidak perlu melakukan perjanjian pada Frans, karena telah takdirnya neneknya meninggal saat itu.


Apa dia biarkan saja Marva saat itu? Tidak perlu memikirkan perasaan orang lain, yang penting dia tidak merebut suami perempuan lain.


.


.


.


.


**Berasa ada yang kurang kalau enggak cerita tentang konflik batinnya Rei. Aku cuma mau menulis cerita ini dari sudut pandang kisah nyata, ya (anggap saja ini kisah nyata, walau bukan🤭).


Kalau cerita pelakor atau poligami yang lain, mungkin (mungkin loh, ya) tokoh utamanya ya bahagia-bahagia aja, tanpa ada sisipan dengan hatinya sendiri**.


**Ya, pokoknya begitulah.

__ADS_1


Bukan berarti aku nyiptain konflik baru, ini cuma curhatan isi hati Rei saja, dan hanya extra part.


Jangan lupa baca **JODOH UNTUKNYA karena ceritanya masih nyambung.


__ADS_2