
Tidak perlu menuntut kebahagiaan yang sempurna. Syukuri saja apa yang dimiliki sekarang. Di antara kebahagiaan, pasti ada sedikit kecemasan, tapi sudahlah, nikmati saja!
Baby Rai sudah sedikit lebih gemuk. Marva dan Rei, juga para keluarga mereka, sangat posesif pada bayi mungil itu. Kondisi kesehatan baby Rai tentu saja membuat mereka selalu cemas, karena lahir dalam keadaan prematur dan mengalami masalah lainnya.
Rei, atas izin Marva, mengurangi prakteknya di rumah sakit, tapi tetap fokus di klinik. Karena inilah tujuan Rei menjadi dokter, ingin mengabdi pada masyarakat yang kurang mampu.
Rei menggendong baby Rai, wajahnya yang lebih mirip dengan keluarga Rei, membuat dia menjadi kesayangan keluarga besar Rei. Apalagi, ini adalah cucu pertama yang hadir setelah mereka bertemu, dan bisa ikut melsku prosesnya sejak masih di dalam kandungan dan sampai melahirkan.
Yujin sangat bahagia, atas kehadiran Rai. Dia bahkan ikut tinggal bersama dengan mamanya Rei dengan mereka.
Rei benar-benar bahagia, bisa tinggal bersama dengan keluarganya itu. Dia juga benar-benar di sayang, tidak kalah dengan baby Rai.
Di sekolah
Tiga orang anak kecil sedang berkelahi dengan beberapa orang anak.
"Pergi sana, dasar pengganggu!" ucap Chiro.
"Kalian kan tidak pernah disayang oleh mama kalian. Lihat saja buktinya, mama kalian meninggalkan kalian," ucap salah satu anak berbadan gempal.
__ADS_1
"Kata siapa mama kami pergi. Mama kami hanya sedang kuliah di luar negeri. Mama kami itu pintar, sedangkan mama kamu, bisanya cuma dandan menor sambil jalan lenggak-lenggok. Daddy aku saja enggak suka sama perempuan yang seperti itu."
Chiro tentu saja tidak akan membiarkan mommy kesayangannya dihina orang.
"Iya, mama kami itu sangat pintar, makanya bisa jadi dokter. Bunda aku saja pimpinan di klinik," ucap Radhi.
"Halah, cuma klinik saja. Paling juga kliniknya kecil. Mamaku, dong. Dia seorang model, cantik," ucap anak lain dengan penuh gaya.
"Aunty aku juga model, penyanyi, dan pemain film," ucap Chiro.
Tentu saja yang dimaksud adalah Anya (kakak Freya) dan Vanya (adik Freya).
Belum tahu saja mereka siapa aunty yang Chiro maksud, andai saja mereka tahu. Anya dan Vanya memang sangat terkenal, setiap hari selalu muncul di televisi, sampai Chiro sendiri bosan melihatnya dan protes pada para aunty-nya itu.
Mereka masih saja saling mengejek. Lebih tepatnya, Anak-anak itu yang lebih dulu mengejek Radhi, Raine dan Chiro. Radhi, Raine dan Chiro biasanya selalu diam saja, bukan karena takut, tapi bagi mereka apa manfaatnya membalas perkataan mereka yang tidak berguna. Tapi lama-lama mereka kesal juga, apalagi kalau orang tua mereka yang dihina.
"Lihat saja, kalian yang akan malu karena sudah menghina keluarga kami. Nanti kalau sudah besar, kalian akan menemuiku dan meminta tolong padaku," ucap Chiro penuh keyakinan.
Arby yang baru datang, langsung menghentikan langkahnya. Dia jadi teringat kejadian belasan tahun lalu, di mana Freya juga mengatakan hal yang sama, saat banyak orang mencibirnya dan meremehkan dirinya yang masih sangat kecil.
__ADS_1
"Chiro, Radhi, Raine."
"Daddy?"
"Uncle?"
Mereka bertiga menghampiri Arby. Arby menatap anak-anak yang tadi menghina anak dan keponakannya. Sedangkan anak-anak itu langsung pergi meninggalkan Chiro, Radhi dan Raine.
"Kalian bertengkar?"
"Tidak!" jawab mereka bertiga kompak.
.
.
.
Kalau aku bikin kisah tentang Vio di judul sendiri (misalnya), gimana? Atau nyambung di Mother, saja? Baca cerita Jodoh Untuknya, ya.
__ADS_1