Mother

Mother
197 Tidak Ingin Mengalah lagi


__ADS_3

"Agam?"


"Kenapa kalian harus selicik ini untuk menjerat Rei? Hah?"


"Maafkan aku, tapi aku sangat mencintai Rei dan ingin bersamanya. Jangan menyalahkan yang lain, aku yang menyetujui semua sandiwara ini."


Agam menghela nafas.


"Kamu kenapa ke sini lagi?" tanya Arby tanpa beban.


"Untuk menangkap basah kalian. Aku sudah curiga dengan kalian. Kenapa kamu mendorong Rei dan Vio seperti itu, Ar?"


"Ya kalau enggak aku dorong, mereka nanti bisa merasakan nafas dan detak jantung Marva. Bisa berabe kalau semuanya ketahuan sebelum ini selesai."


Dokter Agam mendengkus, dia tidak tahu harus ketawa atau kesal, tapi dia mengakui kalau mantan suami Freya ini memang sama cerdasnya dengan Freya, cerdas cenderung licik sebenarnya.


"Kalian apakan mesin ini?"


"Rusak. Lebih tepatnya dimodifikasi. Aku sudah menyuruh orang untuk mengaturnya, biar bisa bekerja sesuai dengan yang aku mau. Hebat kan, aku!"


Dokter Agam geleng-geleng kepala.


"Kamu tidak akan menceritakan semua ini pada yang lain, kan? Terutama pada Rei?" tanya Marva cemas.

__ADS_1


"Cerita saja, Mar. Biar dia jadi duda di hari pertama pernikahannya. Nanti aku akan menyuruh orang membuat novel dengan judul Menjadi Duda Di Hari H Pernikahan."


Mereka semua tertawa kecuali Marva.


"Kamu kalau mau menolong, jangan setengah-setengah!"


Agam melihat Marva, mengamati wajah itu. Dia tahu Marva sangat mencintai Rei, bahkan rela melakukan hal seperti ini untuk bersama Rei.


"Berjanjilah untuk membahagiakan Rei, dan jangan menyakitinya. Kalau kamu sampai menyakitinya apalagi demi demi perempuan lain, aku bersumpah akan membawa Rei dan keponakan-keponakan aku jauh dari keluarga Arthuro."


"Iya, aku berjanji."


Terdengar suara nguap, dan saat mereka menoleh, ternyata itu Mico.


Mereka terdiam, jadi teringat Freya.


Kangen rasanya dengan sosok perempuan itu.


"Kamu harus benar-benar membahagiakan Rei, Marva. Kalau tidak, Freya akan membenciku. Apa yang harus aku katakan nanti saat kami bertemu lagi?"


Suasana mendadak sendu.


"Aku tidak akan cerita pada siapa pun. Ini bukan demi kamu, tapi demi Radhi dan Raine. Aku tidak mau mereka bernasib sama seperti aku dan Rei. Cukup kami berdua saja yang merasakannya."

__ADS_1


"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa menjadi kakak Rei?" tanya Marcell.


Dokter Agam diam saja, bukan saat yang tepat untuk menceritakan semuanya.


"Uncle, kapan aku bisa keluar dari rumah sakit?" tanya Marva, seolah doa pasien sungguhan.


"Bilang saja satu bulan lagi. Biar mampus dia tidak bisa merasakan malam pertama!" ucap Arby riang gembira.


"Sialan!"


"Lagian mana ada pasien yang sudah sekarat tahu-tahu besok pulang. Kamu kan ceritanya sudah dua kali diujung maut, tadi. Seenggaknya harus berhari-hari lah, di ruang ICU satu minggu, di ruang perawatan satu minggu, pemeriksaan tambahan satu minggu."


Mungkin Arby tidak benar-benar berniat membantu Marva, tapi ingin menyiksa pria itu.


"Kalau Freya tahu, dia bisa marah, loh!" ucap Mico. Pria itu sejak tadi terus saja menyebut nama Freya. Membuat wajah Arby kembali sendu.


"Kalian sekarang senang, uncle yang sakit kepala. Apa aku harus pensiun karena kalian?"


"Uncle tenang saja. Marva yang akan bertanggung jawab atas semua ini. Jika nanti ketahuan dan ada yang marah. Kita lemparkan semua tanggung jawab pada pria ini. Jangan diambil pusing, lah!"


Marva menghela nafas, selalu ada resiko dalam setiap tindakan. Tapi apa lun resikonya, akan dia hadapi demi bersama Rei.


Maafkan aku yang harus berbuat seperti ini demi bisa bersama kamu, Rei. Maafkan aku juga Vio, papa, mama, dan kakek. Aku tidak ingin mengalah lagi pada siapa pun.

__ADS_1


__ADS_2