Mother

Mother
112 Ulah Arby


__ADS_3

"Yang ini bagus, tidak?" tanya Rei.


Viola yang sejak tadi terus mengikuti mereka, juga memperhatikan raut wajah kedua orang yang terlihat senang itu.


Mereka bahkan membeli perhiasan di tempat ini.


Vio tidak bisa ikut ke dalam, karena pasti akan langsung ketahuan. Dia juga khawatir kalau ada Arby di sana, karena pria itu sering mengunjungi beberapa toko perhiasannya.


Yang dia lihat, Agam memasangkan cincin di jari Rei. Dan tidak lama kemudian, benar apa yang diperkirakan oleh Vio. Arby keluar dari dalam bagian toko, dan menghampiri keduanya.


"Kalian ada di sini?"


"Eh, hai Arby," sapa Rei. Agam melihat kalau Rei terlihat cukup dekat dengan Arby, merasa bingung.


"Arby ini dulu teman sekelas aku. Aku, Arby, Marcell, Vian dan Ikmal itu kakak kelas Naya Monic, Letta dan Zilda."


"Oh, begitu." Agam tersenyum ramah, lalu mengulurkan tangannya pada Arby.


Pria itu diam saja, tidak membalas uluran tangan Agam. Rei yang melihat itu menjadi bingung.


Apa dia kesal karena sudah mendengar gosip itu? Lalu sekarang dia melihat aku jalan dengan Agam? Apa dia pikir aku cewek murahan.


"Kamu boleh mendekati perempuan mana pun kecuali ...."


Rei sudah berdebar, takut Arby akan menceritakan tentang masalah dia dan Marva.


"... Freya. Freya itu milikku, tahu. Jadi kamu tidak boleh dekat-dekat dengan my bebeb."


Rei menahan tawanya, sekaligus merutuki kebodohannya sendiri. Agam sendiri juga bingung. Kan sekarang dia jalan dengan Rei, kenapa malah Freya yang dibahas?


"Freya?"


"Maksudnya Naya. Mereka memanggil Naya itu Freya."


"Oh, Naya."


"Lagi pula kamu juga tidak akan berhasil mendekati dia ...."


Aku saja sampai sekarang masih belum berhasil.

__ADS_1


"Freya itu sudah cinta mati sama aku."


Rei sudah tidak bisa menahan tawanya, yang langsung mendapat lirikan tajam dari si tukang tipu.


Kalau Naya yang mendengarnya langsung, pasti sudah habis ditabok nih, Arby.


"Tenang saja, saya dan Naya tidak ada hubungan apa-apa."


"Baguslah kalau sadar diri."


Agam tersenyum, dia sama sekali tidak tersinggung. Justru menjadi tahu kalau pria dihadapannya ini sangat menyukai rekan kerjanya yang ceplas-ceplos itu.


"Oya, kalian pilih saja apa yang kalian mau. Tidak usah bayar."


"Jangan begitu, saya ingin membelikan kado untuk mama saya."


"Kamu mau membeli kado untuk mama kamu?"


"Iya."


"Kalau begitu berikan saja yang paling mahal. Ayo ikut aku, di dalam tempat yang paling mahal ada."


"Kalau mau membelikan orang tua dan istri itu, harus yang bagus. Coba lihat yang ini."


Rei yang melihat harga-harga itu, langsung sesak nafas.


"Pilih saja yang kalian mau. Tidak usah bayar."


"Jangan begitu, aku akan membayarnya."


"Kalau aku bilang gratis, ya gratis. Nanti Freya marah kalau dia tahu aku mengambil uang dari temannya. Pasti dia bilang aku kere!"


Agam dan Rei saling pandang. Antara syok tapi lucu.


Harga satu perhiasan itu saja sangat luar biasa, apalagi satu set.


"Coba kamu pasangkan di jari Rei, pasti akan terlihat bagus."


Agam kembali memasangkan cincin itu di jari Rei.

__ADS_1


Cekrek


Send


Arby diam-diam memfotonya dan mengirimkan ke grup.


[Mampus kamu Marva! Lihat, mereka mau bertunangan!]


Marcell


[Wah, ternyata dokter Agam yang akan menjadi papi si kembar. Bagus deh, jadi Nania tidak centil lagi pada dokter Agam.]


Vian


[Mereka saja masuk ke dalam. Sudah serius banget ini, mah.]


Ikmal


[Berarti tinggal Chiro saja ya, yang belum pasti siapa yang jadi papi barunya?]


Arby


[Sialan kamu ikmal. Chiro hanya akan punya satu daddy dan satu mommy.]


Marcell


[Si Marva ke mana, enggak nongol-nongol.]


Arby


[Mungkin sedang minum racun.]


Ikmal


[Memang sepupu kurang ajar kamu, Arby!]


Arby


[Kamu pun begitu.]

__ADS_1


[Lagian suruh siapa dia lelet.]


__ADS_2