Mother

Mother
185 Ratapan Pilu


__ADS_3

Delia memikirkan Marva ....


Anak yang selama ini selalu menurut padanya.


Marva yang kini bukan lagi Marva yang dulu.


Marvanya telah berubah.


Delia mengusap sudut matanya.


Kenapa hal ini harus terjadi lagi? Kenapa Delia harus kehilangan lagi?


Kenapa ....


Kenapa keluarga Arthuro membuatnya seperti ini!


Kedekatan Rei dengan dokter Agam juga bisa Delia lihat sendiri, karena dia juga sering datang ke rumah sakit.


"Aku akan pergi, Ma. Mama doakan saja kepergianku ini. Doakan juga kebahagiaanku."


Marva memeluk dan mencium mamanya, cukup lama.


Delia tidak mau anaknya pergi, apalagi membawa cucu-cucunya.


Delia menatap kepergian anaknya itu. Tidak ada yang bisa mencegah kepergian Marva, karena tekadnya sudah sangat bulat.


🌺🌺🌺

__ADS_1


Tidak tahu kenapa hati Delia merasa tidak tenang. Dia terus memikirkan anaknya itu.


Prang


Gelas yang dipegang oleh Delia tergelincir begitu saja dari tangannya. Jantingnya berdetak kencang, dan dia merasakan sakit di area dadanya.


"Ma, Lia, kamu kenapa?" tanya Carles.


Dilihatnya wajah Delia yang memucat.


"Aku memikirkan Marva. Aku ingin dia kembali ke sini lagi. Tolonglah Carl, bawa Marva kembali ke sisiku sekarang."


Ponsel Delia berdering, dengan gemetar diangkatnya panggilan dari nomor tidak dikenal itu.


"Ya? Dengan siapa saya bicara?"


Delia melebarkan matanya saat orang diseberang sana berbicara, dan tidak lama kemudian dia pingsan.


Carles memapah tubuh istrinya itu, dan dibawanya ke kamar mereka.


"Halo?"


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


"Marva, bangun Sayang. Jangan tinggalkan mama sendiri di sini! Bangun! Mama bilang bangun, sekarang!"


Delia menangis pilu saat kain kafan menutupi wajah putranya itu.

__ADS_1


"Marva, tolong jangan seperti ini. Apa kamu tega meninggalkan mama sendiri? Bangun mama bilang, bangun! Ayo bangun!"


Aku akan pergi, Ma. Doakan saja kepergianku ini. Doakan juga kebahagiaanku.


Apa itu pesan terakhir dari kamu, Marva? Tanya Delia dalam hatinya.


"Kenapa jadi seperti seperti ini? Bangun sayang, bangun!"


Hati ibu mana yang tidak terluka melihat anaknya ditutupi oleh kain kafan?


Seharusnya, anaknya nanti yang akan menguburkan jasadnya.


Sudah berkali-kali Delia pingsan, tidak terima dengan kenyataan yang terjadi. Dilihatnya wajah para sepupu Marva itu, yang juga menangis tanpa suara.


"Arby, coba bilang pada tante, kalau ini pasti bohong, kan? Marva baik-baik saja, kan?"


Tentu saja Arby hanya diam saja, begitu juga dengan Ikmal, Marcell dan Vian. Mereka juga tidak percaya dengan apa yang terjadi saat ini.


Di sana, di sudut yang sepi, Mico hanya bisa melihatnya. Di sebelahnya ada Rei dan juga dokter Agam yang selalu menemani Rei.


Delia melihat Mico dan Rei, lalu menghampiri mereka.


Plak!


"Ini semua gara-gara kamu. Gara-gara kamu, Marva jadi pergi! Kalau saja dia tidak pergi, dia dan cucu-cucuku tidak akan mengalami kejadian buruk ini!"


Rei menunduk, menyentuh pipinya yang terasa sangat sakit, tapi tentu saja tidak sesakit hatinya mendengar perkataan dan keadaan yang terjadi.

__ADS_1


"Nyonya, jangan selalu menyalahkan Rei dengan apa yang terjadi! Bukankah kalian sendiri yang melarang Marva bersama dengan Rei? Andai saja kalian merestui mereka, Marva tidak akan pergi, dan hal ini tidak akan terjadi! Kalianlah yang bersalah!" ucap dokter Agam.


"Kalianlah yang egois! Kalian yang sejak awal memasukkan Rei ke dalam keluarga kalian, melupakan kebaikan dan pengorbanannya, memusuhinya, mengkambing hitamkan dirinya. Lihatlah karma yang menimpa kalian sekarang!"


__ADS_2