Mother

Mother
142 Kamar


__ADS_3

"Jangan jauhkan kami dari bunda."


"Jangan juga memarahi Chiro."


"Tidak ada yang boleh memarahi Chiro! Aku saja daddynya tidak pernah memarahi dia."


"Kamu tenang saja Arby, tidak akan ada yang memarahi Chiro," ucap Frans.


Chiro adalah cicitnya, dan dia juga sebenarnya sangat bangga dengan Chiro yang meskipun masih kecil, tapi sangat cerdas dan cepat tanggap.


Radhi dan Raine menghampiri Rei dan langsung memeluknya. Mereka bertiga menangis bersama. Rei mengecupi kepala dan wajah si kembar.


Berkali-kali mengucapkan syukur atas keadaan ini. Sekarang dia sudah lega. Tidak ada lagi beban yang mengganjal di hatinya. Anak-anak sudah tahu dan mengakui dirinya, juga yang paling penting tidak membencinya. Juga tidak ....


"Kenapa bunda pergi meninggalkan kami kami?"


Baru saja itu yang Rei pikirkan, anak-anaknya tidak bertanya lebih banyak lagi dan bertanya kenapa dia pergi, tapi si kembar sudah langsung menanyakannya.


"Kalian masih terlalu kecil untuk memahami semuanya."


"Ayah, kenapa ayah biarkan bunda pergi? Kenapa ayah meninggalkan bunda dan memisahkan kami, kenapa ayah bersama mama?"


"Tidak, bukan seperti itu, Sayang. Ini bukan salah ayah dan mama kalian," ucap Rei.


Radhi dan Raine bisa saja berpikir kalau Vio yang menjadi penyebab semua ini. Tapi menjelaskan yang sebenarnya pada mereka disaat usia mereka yang masih terlalu kecil, juga tidak baik.

__ADS_1


Apa itu nikah siri?


Apa itu nikah kontrak?


Kenapa begini


Kenapa begitu


Dan sebagainya


"Anak-anak, nanti akan ada waktunya kalian tahu alasannya, tapi tidak sekarang," ucap Marva.


Suatu saat Radhi dan Raine memang harus tahu cerita yang sebenarnya, tidak ada lagi yang boleh mereka tutup-tutupi, dan itu demi kebaikan si kembar.


Radhi dan Raine melihat Vio, lalu melihat Rei. Rei mengangguk.


"Iya, kami tetap menyayangi mama. Kami sayang mama dan bunda, tapi mama jangan marah pada bunda, ya?"


"Iya, Sayang. Mama tidak akan marah pada bunda kalian."


Saat satu masalah sudah diselesaikan, hati dan pikiran akan merasa lega.


"Apa kami boleh tinggal bersama bunda?"


"Kalian boleh menginap di apartemen bunda," ucap Marva, yang langsung memanfaatkan keadaan.

__ADS_1


"Kenapa tidak bunda yang tinggal di sini, di sini ada kamar bunda juga, kan."


"Apa?"


"Kalian tahu dari mana?"


"Itu, kamar kosong di sebelah kamar kami itu. Itu dulu kamar bunda, kan? Aromanya sama dengan aroma bunda."


"Ayah juga kalau sedang bertengkar dengan mama, kalau tidak tidur di kamar kami, akan tidur di kamar bunda," ceplos si kembar.


Frans dan Carles langsung melihat Marva.


"Lain kali, kalau kalian bertengkar, jangan sampai anak-anak tahu!" ucap Carles.


Marva dan Vio kalau bertengkar, memang tidak akan berteriak sampai orang-orang mendengarnya, agar tidak ada yang tahu. Tapi siapa sangka kalau si kembar akan tahu, bahkan sampai tidur di kamar lain.


Wajah Vio memerah.


"Cih, ngatain aku bucin, dia sendiri punya kamar kenangan," cibir si Arby, tidak peduli dengan tatapan dan perasaan orang-orang.


Tidak bisa membalas Chiro yang mengatakan tentang dia yang suka mengigau menyebut nama Freya, jadi dia ingin melampiaskannya ke Marva saja. Mumpung semuanya sedang berkumpul.


"Bunda tidak akan meninggalkan kami lagi kan?"


"Tidak, bunda tidak akan meninggalkan kalian lagi."

__ADS_1


__ADS_2