
"Rei, bisakah kamu membantu aku mengganti baju?"
"Iya, tentu saja."
Rei perlahan menggantikan baju Marva dengan canggung dan wajah memerah.
Apa mereka tidak bisa keluar dulu dan harus melihat aku menggantikan baju Marva?
"Aw," ringis Marva.
"Maaf Kak, aku akan pelan-pelan."
Rei mengusap pelan lengan Marva. Agam. memejamkan matanya sejenak. Dia ingin ketawa, tapi juga merasa kesal. Sedangkan Arby dan yang lain, di belakang Rei, hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Tidak apa, terima kasih kamu sudah mau membantu aku."
"Kamu kenapa, Kak?"
"Aku hanya merasa sedikit pusing."
Rei lalu memijat pelan kening Marva, membuat Arby mencibir Marva.
"Jangan dimanjakan, Rei. Sakit segitu enggak ada apa-apanya. Dia harus melatih sendiri anggota tubuhnya."
"Tapi kan Kak Marva masih di gips."
Marva melirik kesal pada Arby, yang terus saja menggodanya.
__ADS_1
Dasar saudara plin-plan, niat nolong atau enggak, sih. Ini juga yang lain, bukannya maksimal bantu aku, malah ikut kompor.
Mereka merasa puas dengan wajah Marva yang terlihat kesal.
Agam menghela nafas, bagaimana mungkin Rei curiga pada Marva, kalau penampilan Marva saat ini benar-benar seperti orang yang baru saja mengalami kecelakaan parah.
Memar-memar
Diperban
Digips
Untung saja dulu Rei berteman dengan Freya, kalau tidak, aku tidak tahu bagaimana jadinya dia, apalagi di negeri orang.
Agam sadar betul, kalau Rei itu terlalu baik dan polos. Orang-orang mungkin akan bilang dan berpikir dia bodoh, tapi hatinya lah yang terlalu baik dan lembut, jadi sering dimanfaatkan orang.
Mereka melihat ketelatenan Rei dalam merawat Marva, entah karena statusnya yang memang sebagai dokter, atau karena tugas dan kewajiban sebagai istri, atau mungkin karena di hatinya ada cinta?
Bisa-bisanya dia mesra-mesraan begitu! Lah, aku? Freya, aku kangen!
🌺🌺🌺
Marva diam didalam kamar rawatnya, sendirian. Saking ingin membuat orang-orang percaya tentang kondisinya, dia sampai rela harus digips seperti ini, dan tinggal selama berhari-hari di rumah sakit.
Pintu kamarnya dibuka, dan Rei masuk dengan tersenyum. Senyum yang membuat jantung Marva berdebar kencang.
Ya ampun, aku seperti remaja yang baru pertama kali merasakan suka pada perempuan, tapi kan ....
__ADS_1
"Kak, aku membawakan makan siang untukmu."
Di balik pintu, Vio melihat itu dalam diam. Melihat kedekatan Marva dan istrinya.
Mulut bisa berkata ikhlas, tapi tetap saja hati sulit untuk melakukannya. Agam yang melihat Vio melihat Rei dan Marva dari balik pintu, hanya bisa menghela nafas.
Dia juga iba dengan nasib Vio. Kalau itu perempuan lain, mungkin dia akan tidak respect pada Rei. Tapi sisi egois sebagai keluarga membuat dia akan menjaga Rei dari siapa pun. Tidak akan membuat Rei dihina oleh siapa pun, sudah cukup penderitaan adiknya itu.
Andai saja mereka menemukan Rei sejak awal ....
☘️☘️☘️
"Kalau saja kami menemukan kamu sejak awal, kamu tidak perlu menikah dengan pria ini sebagai istri kedua!" sindir Yujin di hadapan keluarga Arthuro.
Mereka berkumpul di ruang rawat Marva, sekaligus membahas masalah pernikahan Marva dan Rei. Di rumah sakit, Orang-orang sudah banyak yang tahu tentang pernikahan itu.
Tentu saja Rei dicibir, tapi diam-diam. Mereka takut dengan keluarga Abraham dan Arthuro.
.
.
.
**Harap bijak ya dalam komentar. Bebas mengkritik karakter para tokohnya, mau bilang Rei bodoh, Marva jahat dan plinplan, Vio egois dsb. TAPI ... jangan sampai mengatakan penulisnya dengan kata-kata yang tidak pantas. Aku sih cuek aja, tapi kan yang dosa siapa? Bukan aku juga, tapi yang ngatain itu😊
Ada yang ngasih aku bintang kecil, jadi bintangku turun, ada yang unfavorit (banyak) dan hal lain yang sebenarnya bisa membuat para penulis down, tapi aku biasa aja, ya walau kecewa juga sih.
__ADS_1
Segala macam kritikan untuk para tokoh sampai mereka marah-marah dan unfavorit, ya aku ambil positifnya aja, aku anggap keberhasilan membangun karakter para tokohnya, seolah mereka tokoh nyata di dunia nyata (motivasi diri sendiri, ya🤭)
Terima kasih untuk kalian semua, yang masih bertahan hingga bab ini, dan sampai ceritanya tamat nanti**